Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
93. Curhat


__ADS_3

"Leo terlalu berlebihan, tapi aku bisa menceritakan kisahku ke kamu. Aku lahir dari hasil pemerkosaan, tentu saja kehadiran aku nggak diinginkan siapapun, termasuk Ibu. Ibu berusaha untuk melenyapkan aku, tapi Tuhan ingin aku tetap hidup. Lalu aku lahir, aku tidak mendapatkan kasih sayang dari orang yang seharusnya mencintaiku dari aku belum lahir. Aku nggak benci dia, justru aku merebut kasih sayang dia dengan caraku. Aku melakukan itu selama dua puluh satu tahun. Di usiaku yang ke dua puluh, aku dipaksa meminjamkan rahimku pada seseorang. Aku nggak mau, nggak ada yang mau di posisi seperti itu, kan? Aku terus dipaksa dengan caranya. Kalau aku terus menolak, aku akan kehilangan orang-orang yaang aku cintai. Dulu aku tidak beruang, jadi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Akhirnya  di saat itu aku bertemu dengan Ayah yang selama ini aku cari. Sosok pria yang menghancurkan masa depan Ibu dan membuat Ibu sempat depresi. Aku nggak benci dia, aku hanya kecewa kenapa dia tidak pernah datang dalam kehidupan kami. Setelah aku tahu alasannya, aku berbesar hati untuk memaafkannya." Senja berhenti sejenak untuk melihat ekspresi Karang. Nampak wajah pemuda ini begitu memperhatikan ceritanya.


"Akhirnya dengan bantuannya, aku bisa membawa lari anakku yang seharusnya diasuh oleh orang yang sudah merampas kebahagiaan aku. Selama dua puluh satu tahun, Karang. Selama itu aku berjuang memperoleh kasih sayang dari seorang Ibu yang seharusnya tidak perlu aku cari. Seharusnya aku mendapatkan itu tanpa aku minta. Aku haus kasih sayang dari aku kecil. Tapi hal itu tidak membuat aku nggak percaya dengan adanya cinta."


"Mbak Senja kenapa nggak benci Ibu?"


"Dia ibuku, bagaimana bisa aku benci dia. Mau di terima atau tidak, diinginkan atau tidak, dia sudah mengorbankan nyawanya untuk melahirkan aku. Aku mencintai dia. Itu sebabnya aku berusaha untuk mendapatkan kasih sayang darinya dengan cara apapun. Sekarang aku tanya dulu, kenapa kamu nggak percaya sama cinta seseorang? Kamu nggak mungkin nggak pernah melihat itu, kamu hanya tidak sadar kalau itu cinta."


"Ya memang bagiku cinta itu nggak ada, Mbak."


Mengalir lah cerita Karang. Semasa ia kecil hingga ia duduk bersama dengannya. Entahlah, Senja nampaknya berhasil membuat dirinya nyaman karena Karang tak sungkan untuk menceritakan kisah hidupnya. Bahkan Karang juga mengatakan ia benci dengan kakak tirinya.


Hati Senja teriris perih saat mendengar cerita kebencian yang secara tak langsung sebenarnya dilontarkan untuknya. Padahal sebelumnya ia sudah mendengar kata kebencian itu dari mulut Clara dan Akmal, tapi entah kenapa jika ia mendengar penuturan Karang langsung, hatinya sangat terluka.

__ADS_1


Senja tak menyalahkan Karang atau siapapun. Memang setiap orang akan berbeda dalam merespon apapun. Bukan hal yang mudah menjadi Karang. Punya orang tua tapi terasa hidup sendirian. Namun, cara mengekspresikan kekecewaan yang ia terima dengan cara yang salah akan membuat keadaan malah semakin rumit saja.


"Kalau kamu bertukar posisi dengan kakakmu, apa yang akan kamu lakukan? Dia lahir menjadi anak dari ayahmu juga bukan dia yang minta. Dia juga nggak minta lahir dengan keadaan tanpa sosok ayah."


"Tapi aku yakin kehidupan dia nggak seburuk aku, Mbak. Memang bukan dia yang minta, tapi hadirnya dia dalam kehidupan kami benar-benar membuat aku merasa tidak diperlukan lagi. Papa terlalu fokus pada anak sulungnya itu, tapi anak yang lain dia abaikan."


"Dari mana kamu tahu kehidupan dia lebih baik? Papa kamu pernah cerita kehidupan kakak kamu?"


"Apa kamu tahu? Bisa jadi kamu dan Mama kamu juga hal yang menyakitkan untuk dia."


"Kok bisa?"


"Dia kehilangan hak sebagai anak karena lebih memilih kalian. Karang, tidak semua hal harus berjalan sesuai dengan keinginan kita. Tidak boleh kita memaksa sesuatu supaya seperti yang kita inginkan. Aku yakin jadi papamu tidak mudah. Dia pasti ingin semuanya damai, anak-anaknya, istrinya. Mereka berpisah puluhan tahun, ini tidak adil jika kamu menuntut papamu untuk melupakan masa lalunya. Belajarlah untuk damai dengan masa lalu. Karena hanya itu yang kamu perlukan sekarang. Aku adalah salah satu manusia yang menikmati hasil dari damai dan ikhlas dengan masa laluku. Dan lihat aku sekarang, orang nggak akan percaya kalau aku beritahu masa laluku yang harus berdarah-darah hanya untuk mendapatkan kasih sayang dari seseorang."

__ADS_1


Karang diam. Damai dengan masa lalu? Tentu itu bukan hal yang mudah. Kilasan-kilasan masa lalu kembali berputar di kepalanya. Di mana nyaris setiap hari ia mendengar pertengkaran dari kedua orang tuanya perkara Akmal yang ketahuan punya anak dari wanita lain. Lebih parahnya lagi, Akmal pernah terluka demi anak sulungnya itu. Satu hal yang tidak pernah Karang dapatkan dari Akmal. Jangankan Akmal mengorbankan diri, mengorbankan waktunya saja ia tak pernah.


"Kamu bahagia dengan dirimu yang sekarang? Menjadi anak nakal, ikut genk motor, aku masih ingat pertemuan pertama kita. Mungkin biasa saja buat kamu, tapi merugikan orang lain. Kamu bahagia dengan hidupmu sekarang?"


"Kalau dibilang bahagia, sih nggak. Tapi lebih bebas aja."


"Kamu suka kebebasan? Kalau begitu bebaskan dirimu dari belenggu kebencian. Sekarang coba bayangkan, kamu bisa damai dengan masa lalu. Kamu bisa bertemu dengan kakakmu, bisa menerima kehadiran dia, kembali pada Karang yang aku tahu pasti Karang yang sekarang bukan karakter asli dari kamu. Coba hanya bayangan saja. Kamu sekarang sudah merasakan perubahan dari Papa, kan? Kamu sudah merasakan kasih sayangnya? Coba bayangkan kamu juga mendapat kasih sayang yang sama dari satu orang lagi. Yaitu kakakmu, apakah hidup seperti itu tidak kamu inginkan? Kalau mamamu saja bisa, kenapa kamu nggak?"


"Dari mana Mbak tahu kalau Mama udah damai dengan masa lalunya? Aku nggak nyinggung itu tadi."


"Kan kamu yang bilang, belakangan ini mereka nggak pernah ribut soal kakak kamu. Apalagi kalau bukan damai? Coba tanya aja sama Mama kamu."


Karang manggut-manggut. Memang terlihat indah jika apa yang di katakan Senja bisa jadi kenyataan. Tapi rupanya syetan-syetan yang masih memiliki tugas yang sama seperti yang sudah-sudah membuat Karang berpikir dua kali untuk melakukan apa yang Senja utarakan. Bukankah belum tentu kakaknya itu ingin damai dengan dirinya? Belum tentu juga kakaknya itu mau menyayangi dirinya seperti yang Senja katakan.

__ADS_1


__ADS_2