
Dengan susah payah Senja menelan salivanya. Matanya masih terkunci pada sosok pria yang berdiri tak jauh darinya. Pria yang begitu ia kenal di masa lalu, begitu dekat dengannya dan begitu mencintainya.
Begitu pun juga dengan pria yang tengah berdiri mematung di tempat, tak melanjutkan langkah. Sorot mata pria itu pun juga menyorot pada Senja. Wanita yang pernah mengisi relung hatinya dan membuatnya patah hati untuk pertama kalinya.
"Ya udah, Sayang nggak apa-apa kalau nggak ada. Kenalin nih temen aku." Arum menyeret pria itu untuk mendekati mejanya.
"Senja, kenalin ini calon suami aku, Daren. Sayang, ini teman SMA aku, Senja. Dia baru menikah satu minggu yang lalu," cerocos Arum memperkenalkan mereka.
Senja dengan gugup berdiri dari tempatnya. Berusaha setenang mungkin untuk mengulurkan tangan kanannya.
"Senja," ucapnya kemudian.
"Daren," jawab pria itu tak kalah gugupnya.
Keduanya nampak canggung dan kikuk. Tak pernah Daren sangka ia bisa bertemu kembali dengan Senja. Wanita yang bertahun-tahun ia tunggu tanpa bisa melakukan apapun.
Daren ingat betul, ia pernah berusaha untuk memaksakan kehendaknya dengan mendatangi rumah besar Leo, namun yang ia dapat justru babak belur dan ancaman dari antek-antek Leo.
"Jangan pernah usik lagi apa yang Tuan Leo mau. Berani kau sedikit saja mengusiknya, nyawa keluargamu jadi taruhannya. Coba saja kalau kau tak percaya."
Itu adalah kalimat yang tak akan pernah Daren lupakan. Sejak waktu itu, Daren tak menyerah, ia mencari bala bantuan pada Aldi, namun yang ia dapat juga sama. Ternyata anak Aldi juga sudah menjadi sasaran Leo ketika Aldi mencoba untuk mengusik kehidupan pria itu.
Dan hari itu adalah hari terakhir ia berjuang. Jika keluarganya saja sudah pasrah, ia bisa berbuat apa? Ayahnya Senja yang punya kuasa saja, tak bisa berbuat apa-apa, apalagi dirinya yang makan saja harus bermandi keringat terlebih dahulu.
__ADS_1
Daren sudah putus asa dan memutuskan untuk berhenti mencintai Senja. Ia mengikhlaskan segala masa yang pernah terlewat, semua kenangan mengenai Senja ia buang.
Bukan hal mudah, tapi harus ia lakukan demi kebaikan semua orang. Melupakan cinta pertama itu tidak mudah bagi semua orang. Hanya dengan modal bismillah dan tekad yang tidak terlalu bulat, ia memulai kehidupan baru tanpa Senja dan melupakan semua angan dan harapan pria itu untuk menjadikan Senja istrinya.
"Aku ke belakang, ya," ujar Daren tanpa permisi lagi.
Kedua wanita itu kembali duduk bersama.
"Kamu ternyata punya calon suami, kenapa waktu datang ke pernikahan aku, kamu nggak datang sama dia?" Senja berusaha mencairkan suasana.
"Waktu itu dia lagi pulang kampung, bawa keluarganya pindah ke sini. Rencananya, setelah menikah kami memutuskan untuk tinggal bersama mereka saja. Yah, biar Daren juga bisa menemani orang tuanya di hari tua. Lagian aku nggak punya orang tua yang akan merepotkan aku," ujar Arum terkekeh.
Mendengar penuturan dari Arum membuat Senja sedikit kepo tentang kehidupan mantan kekasihnya itu. Mantan kekasih? Sepertinya Senja dan Daren belum memutuskan hubungan.
"Sayang aku ke resto dulu, ya. Ada tester menu baru." Daren datang dan mengecup singkat kening Arum.
Daren langsung pergi tanpa berpamitan pada Senja. Meskipun hanya anggukan atau setidaknya tatapan sesaat sungguh tak Senja dapatkan. Arum saja yang berperan sebagai kekasihnya menatap Daren dengan kerutan dikeringnya.
"Tidak biasanya dia seperti itu, maafkan dia, mungkin dia sedang buru-buru," ujar Arum merasa yang enak hati.
"Nggak apa-apa, bukan masalah yang besar. Dia kerja di restoran?" Senja masih kepo.
"Nggak. Dia punya satu restoran di kota ini. Kebetulan dia dulu itu chef. Dia bangun resto sendiri dari uangnya itu."
__ADS_1
Senja hanya manggut-manggut. Ia ikut senang senang perubahan Daren saat ini. Memiliki restoran adalah impian Daren sejak ia masih menjalin hubungan dengan Senja. Dan sekarang pria itu mampu mewujudkannya tanpa sosok Senja di sampingnya. Kehidupan Senja benar-benar tersingkir dari kehidupan Daren.
"Mumpung kamu masih di ini, aku mau kasih ini buat kamu. Datang, ya." Arum menyodorkan satu buah undangan yang ia letakkan di meja lalu mendorongnya ke depan Senja.
"Oh, jadi ceritanya kamu mau ngajak aku ketemu dalam rangka ngasih undangan? Mana ada orang ngasih undangan yang di suruh datang yang di kasih. Curang banget kamu, ya," sungut Senja pura-pura kesal.
"Ya nggak sepenuhnya begitu Senja. Aku juga mau kangen-kangenan sama kamu."
Obrolan mereka berlanjut hingga jam sebelas siang. Jam di mana si kembar pulang. Senja undur diri dari cafe Arum. Ia ingat harus menjemput anak-anak pulang sekolah.
"Taksi online, udah pesen kok. Aku harus cepat, suamiku minta di kirim makan siang nanti. Aku pulang, ya." Senja melakukan cium pipi kiri dan kanan tanda perpisahan.
Begitu samapi di halaman cafe yang cukup luas, takdir kembali mempertemukan Senja dan Daren. Lagi-lagi pertemuan mereka yang tak sengaja. Untuk sesaat mereka kembali saling tatap dalam diam.
"Aku senang bertemu denganmu. Selamat untuk pernikahan yang akan kau gelar, ya Kak."
Daren tersenyum miring, "Selamat juga untuk pernikahanmu. Butuh perjuangan dan penantian panjang buat aku sampai ke titik ini. Dunia tahu kita pernah menjadi apa dan terpisah karena apa. Aku tidak mau menimbulkan kesalah pahaman antara Arum dan juga suamimu. Jadi lebih baik, kita jadi orang asing saja ketika bertemu. Demi menjaga hati masing-masing. Percayalah, aku tidak benci kamu, aku hanya benci pada pada diriku sendiri yang tidak bisa melakukan apapun di saat kamu butuh aku. Tapi sekarang hidupmu juga bahagia, kan? Aku pun bahagia. Seperti kata kamu dulu, kita harus hidup bahagia bersama suatu hari nanti, bersama pasangan masing-masing."
"Iya, Kak. Aku mengerti. Memang sudah seharusnya seperti itu. Jalan yang kita lalui memang harus berbeda meski tujuan kita sama. Itu bukan masalah yang besar. Maaf aku buru-buru, aku harus menjemput anak-anak di sekolah."
"Pulanglah. Hati-hati di jalan." Daren menyunggingkan senyum kecil untuk wanita yang pernah menghiasi hatinya. Dengan susah payah pria itu melupakan Senja beserta kenangannya, tapi ternyata Tuhan begitu mudah menghancurkan itu semua.
Setengah jam kemudian Senja sudah di rumah. Ia ingat harus membuatkan makan siang untuk suaminya. Ia bergegas ke dapur begitu sampai di rumah. Ia harus cepat karena jam istirahat akan datang setengah jam lagi.
__ADS_1
"Siang-siang dan sangat panas. Sup ayam tidak buruk untuk makan siang," celoteh Senja seraya sibuk memotong bahan makanan.
Sedang sibuk dengan pekerjaannya, terdengar derap kaki yang melangkah ke dapur. Senja mendengar derap langkah itu, tapi ia diam dan acuh.