
Akmal menunggu kedatangan Karang di ruang tamu dengan mondar-mandir di dekat kursi. Emosinya sedikit membuncah ketika mendapat laporan dari seseorang, bahwa orang itu melihat motor Karang terparkir di sebuah klub malam.
Hal itu membuatnya curiga, Karang sering menginap di rumah temannya. Apakah hanya dijadikan sebuah alasan agar ia bisa bermalam di club?
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya motor Karang terdengar terparkir di garasi. Pria itu segera mendekati pintu utama dengan memasang wajah garangnya, wajah yang tidak pernah ditunjukkan di depan Karang.
"Dari mana?"
"Rumah temen, ya kayak biasanya. Papa, kan juga tahu kebiasaan aku sering nginep di rumah temen kalau weekend." Karang belum menyadari gelagat amarah dari ayahnya.
"Bermalam di rumah teman karena habis mabuk, iya?"
"Ngomong apa, sih Pa?" Jawab Karang berlalu dari hadapan Akmal.
"BERHENTI KARANG!
Di detik itu juga, pemuda yang menjabat sebagai ketua geng motor itu menghentikan langkah. Jantungnya berbaju begitu cepat, Bagaimana tidak? Ia baru saja mendengar bentakan yang begitu keras dari sang ayah. Ia begitu terkejut, karena saking terkejutnya, Karang benar-benar diam mematung di tempat, tak bergerak.
Telinganya masih mampu mendengar derap langkah sang ayah yang mendekatinya. Di saat yang bersamaan ibunya datang dari kamar, menghampiri keduanya. Nampak wajah bingung dari wanita itu.
"Ada apa, sih Pa? Kenapa teriak-teriak?" protes Clara.
"Anak kamu pergi ke klub, kamu tanya ada apa? Tanya anakmu sekarang ngapain dia di klub?"
__ADS_1
Wajah terkejut tidak bisa disembunyikan dari wajah wanita satu anak itu. Ia menatap Karang seakan meminta penjelasan dan meminta kepastian bahwa yang dikatakan suaminya adalah sebuah kesalahan.
Udah berapa lama wanita itu meneliti wajah Karang. Wajah seorang anak yang ia besarkan dengan kasih sayang, wajah pemuda yang jarang ia perhatikan, karena kesibukannya yang mulai padat sebagai mahasiswa. Ia melihat wajah anaknya yang nampak berbeda.
"Karang yang dikatakan Papa tidak benar, kan?"
Yang ditanya diam menundukkan kepala. Ia tak mampu melihat wajah ibunya yang pasti sudah basah oleh air mata.
Sebeandal-brandalnya Karang, ia masih menjaga perasaan ibunya, ia masih peduli dengan perasaan wanita itu. Ia tak mau membuat wanita itu sedih atau menangis karenanya. Air mata ibunya adalah sebuah kehancuran di hatinya.
"Diamnya itu adalah sebuah jawaban, Clara. Bilang sama Papa, bilang sama kita, kenapa kamu pergi ke klub? Sudah berapa lama, sejak kapan kamu bergaul di tempat seperti itu?" Akmal sudah menunurunkan nada bicaranya. Pria itu memang lemah di depan Karang, ia tak bisa bersikap garang seperti ia bersikap pada Clara. Semarah apapun dirinya, Akmal masih bisa menahan emosinya.
"Baru semalam aku ke sana." Karang menjawab dengan pandangan masih pada lantai.
"Baru semalam aku ke sana." Karang menaikkan ada bicaranya sedikit.
"Kalau jawab melihat Papa!"
"Yang penting, kan aku udah jawab Pa. Aku jawab aku baru semalam ke sana. Kenapa Papa masih nanya terus?"
"Kalau Papa tanya terus, itu artinya Papa tahu kamu lagi bohong. Jawab jujur! Jangan membuat Papa marah Karang! Papa nggak pernah ngajarin kamu ke arah hal negatif seperti itu. Kamu pasti salah pergaulan, kamu salah pilih teman, itu sebabnya kamu masuk ke dalam lembah hitam. Papa yakin kamu itu nggak hanya ke klub, tapi kamu juga melakukan hal-hal negatif lainnya. Kalau kamu sudah berani ke tempat itu, itu artinya kamu sebelumnya juga pernah melakukan hal yang negatif. Papa nggak akan marah kalau kamu jawab jujur."
"Papa tahu apa soal aku? Papa juga pernah ngajarin apa ke aku? Papa itu cuman mengajarkan aku soal bagaimana cara mencari uang, tanpa mempedulikan kasih sayang dan juga perhatian yang diperlukan untuk anak dan istrinya. Itu yang aku pelajari dari Papa. Papa tahu apa soal negatif? Apa yang aku lakukan sekarang itu nggak jauh beda sama yang Papa lakukan dulu. Kita itu sama-sama melakukan hal buruk. Bahkan, kelakuan Papa itu jauh lebih buruk daripada aku."
__ADS_1
Karang berhenti sejenak, meneliti setiap inci wajah sang ayah. Terlihat pria itu masih terdiam seakan menunggu ucapan sekarang selanjutnya.
"Sekarang coba ngomong ke aku, hal apa yang harus aku ikuti dari Papa? Yang aku tahu dari Papa itu cuman bekerja keras siang malam, mencari uang yang banyak, punya anak dari wanita lain dan.... "
Akmal melayangkan tangannya ke udara lalu menggerakkannya dengan cepat ke arah pipi Karang. Itu adalah pertama kalinya ia memukul anak laki-lakinya.
"Jaga bicaramu Karang! Jangan pernah bawa-bawa kesalahan orang lain ketika kesalahanmu diketahui oleh orang lain. Kamu ini anak laki-laki Papa, penerus perusahaan dan juga usaha-usaha Papa, kalau kamu masih muda saja sudah hancur begini, mau jadi apa kamu nantinya? Menghancurkan nama Papa?"
"Nama Papa sudah hancur di saat aku belum melakukan apapun."
Karang semakin berani, ia begitu marah ketika ayahnya memukul pipinya dengan keras. Kemarahannya saat ini adalah sebagai bentuk kekecewaan yang ia pendam selama belasan tahun.
Selama ini Karang melampiaskan semuanya di belakang kedua orang tuanya. Dan ia merasa momen ini adalah momen yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ia rasa, meskipun ia sadar ia melakukannya dengan cara yang salah.
"Papa memang pernah hancur karena kesalahan Papa di masa lalu, tapi Papa sudah kembali memperbaiki dan membersihkannya. Lalu kamu sekarang mau menghancurkannya lagi? Kamu pikir membangun nama baik itu semudah kamu menghabiskan uang di klub?"
"Papa baru tahu kesalahan aku satu aja udah dibahas terus dari tadi. Seakan-akan kesalahan aku yang paling besar, sebuah tindakan kriminal, sebuah tindakan yang bejat. Papa ingat nggak kesalahan Papa? Kesalahan yang besar itu, sebuah kesalahan di mana Papa sudah membuat aku dan mama kecewa, dengan menyembunyikan status Papa yang pernah memperkosa seorang wanita hingga menghasilkan seorang anak dan Papa pergi begitu saja. Apakah itu bukan sebuah kesalahan? Lihat aku dan mama, Pa. Aku dan Mama masih menerima Papa apa adanya, tidak meninggalkan Papa di saat Papa jatuh miskin sekalipun tidak punya apa-apa, aku dan Mama masih ada buat Papa. Pernah aku bahas kesalahan Papa itu? Sekarang jawab pertanyaan aku, Pa! Kesalahan siapa yang lebih besar? Aku atau Papa, kalaupun aku melakukan kesalahan yang besar, itu adalah hasil dari apa yang Papa perlihatkan. Apa yang aku sekarang adalah hasil dari apa yang Papa berbuat dulu."
"CUKUP KARANG!" Akmal mengangkat jadi telunjuknya di hadapan wajah Karang.
"Kamu sudah terlalu jauh bicara, kali ini biar Papa yang bicara. Kamu tahu apa soal masa lalu Papa? Yang kamu tahu hanya kesalahan Papa di masa lalu yang pernah melakukan kekhilafan lalu pergi ke luar negeri. Kalau kamu nggak tahu cerita seutuhnya jangan berspekulasi sendiri. Kamu waktu itu belum cukup usia untuk Papa perdengarkan kisah hidup Papa di masa lalu sebelum menikah dengan Mama. Itu sebabnya Papa diam, bukan karena Papa nggak mau cerita tapi belum saatnya. Dan sekarang di saat kamu sudah dewasa dan mengerti dengan masa lalu yang Papa alami, kamu nggak tanya ke Papa. Kamu malah tetap berspekulasi dengan pikiran kamu waktu masih kecil. Kamu sadar nggak kalau kamu tuh salah? Pikiran kamu ke Papa itu salah."
"Salahnya di mana?"
__ADS_1