
"Bagaimana Mas? Kita bisa bawa mereka pulang sekarang?"
"Bisa apa yang nggak bisa dilakukan sama Leo? Nanti sore suruh suster pilihan kita untuk ke sini, ya. Kita baru bisa bawa nanti sore."
"Iya. Kamu merasa ada yang aneh nggak sih, Mas?"
"Aneh? Apa?"
"Senja melahirkan di saat aku sedang tertidur? Dan aku baru kali ini belum siang, tapi sudah sangat ngantuk dan ingin tidur tidak tertahankan. Apakah kamu merasakan apa yang aku rasakan? Semua ini seperti direncanakan."
"Kenapa harus dipikirkan, sih? Nggak perlu mikirin itu, yang penting keinginan kita sudah terpenuhi. Kita sudah punya sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan. Kita sudah mencapai tujuan kita, udah nggak usah dipikir bagaimana prosesnya. Aku ke Senja dulu, ya. Kamu di sini aja. Tunggu suster kita datang, kamu hubungi sekarang. Udah jam tiga ini."
Leo melangkah pergi, namun langkahnya terhenti lantaran tangannya di cekal Rida.
"Kenapa aku nggak boleh ikut?"
"Udah, pikiran kamu jangan yang nggak-nggak lagi. Aku nggak mau kamu ribut di ruangan sana. Aku cuman mau bilang makasih, sekalian kasih uang buat ongkos pulang. Kamu tunggu sini, begitu suster datang, kita pulang. Kamu mau pergi dari sini dengan cepat, kan? Mau meninggalkan negara ini dengan segera, kan? Harus nurut sama aku kalau kamu mau kita pergi dengan cepat."
"Ya udah."
Ya, mereka sekeluarga akan meninggalkan negara kelahirannya untuk memulai hidup yang baru dengan anak-anak mereka. Sepasang suami istri itu, lebih tepatnya Rida sengaja melakukan itu agar suatu saat nanti Senja dan anak-anaknya tidak akan pernah bertemu. Rida tak mau mengambil resiko untuk masa kedua anaknya nantinya. Rida khawatir jika mereka mengetahui kenyataan bahwa ibunya bukanlah Rida, mereka akan mencari ibunya dan justru memilih tinggal bersama dengan Senja.
"Senja, apa kamu benar-benar tidur? Bangunlah sebentar, aku ingin bicara."
Senja tak bergeming.
Leo menatap Senja yang nampaknya sedang benar-benar tertidur. Wajahnya begitu ayu meskipun tanpa make up sedikitpun. Perlahan namun pasti tangan Leo terangkat untuk menyentuh puncak kepala Senja. Mengelusnya dengan pelan, seperti saat ia mengelus kepala Rida. Entahlah, ada rasa yang sulit dijelaskan oleh Leo. Ia merasakan getaran-getaran dan juga debaran halus dalam jantungnya.
"Terima kasih Senja."
__ADS_1
Terima kasih? Entah sejak kapan Leo menjadi sedikit sering mengucapkan kata itu. Namun, hanya satu yang Leo sadari, ia sudah banyak berubah semenjak hidup satu atap dengan Senja. Gadis itu banyak membawa perubahan, di sadari atau tidak, Leo menjadi manusia yang sedikit lebih baik dari sebelumnya.
Merasa ada sesuatu yang menyentuh kepalanya Senja mengerjap. Tangannya terangkat untuk menyentuh pemilik tangan yang masih bertengger di puncak kepala.
Kayak tangan laki-laki apa yang ini tangan Ayah?
Cup.
Tanpa membuka mata dengan lebar senja membawa tangan tersebut ke arah mulutnya dan mengecupnya singkat.
"Ayah ke sini?" tanya senja membuka mata.
Kedua matanya membola begitu melihat tangan siapa yang ia pegang.
"Kau? Untuk apa kau sini?" Senja yang terkejut refleks melempar tangan Leo.
Gadis itu lupa bahwa ia baru saja dioperasi ia beranjak hendak ingin duduk.
"Kamu lupa kamu habis operasi? Jangan gerak dulu."
Senja tak peduli ucapan Leo, saat ini perutnya benar-benar sangat sakit. Bahkan ia tak peduli sejak tadi Leo menyentuhnya. Jika biasanya ia akan berontak atau mengeluarkan jurus ketusnya, kali ini ia lebih peduli dengan nyeri bekas jahitan yang tak sengaja hampir saja ia buat duduk.
"Sakti banget? Aku panggil dokter sebentar, ya." Leo panik seakan Senja adalah istri kesayangannya.
"Nggak usah. Aku nggak mau. Udah, udah nggak apa-apa. Aku buat istirahat saja."
"Lagian kamu kenapa, sih? Aku bukan hewan yang membuat najis seseorang jika menyentuhku. Kenapa kamu lempar-lempar tangan aku? Masa baru tadi operasi udah lupa. Kamu banyak gerak aja belum boleh. Malah mau duduk," omel Leo.
Omelan Leo kali ini membuat senja merasa sedih. Ia teringat dengan kekasihnya, Daren. Kekasihnya itu juga sering mengomel saat sedang melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya. Tak terasa tiba-tiba pandangannya kabur, kedua pelupuk dipenuhi dengan air.
__ADS_1
Leo yang melihat itu malah tambah semakin bingung.
"Ada apa, sakit? Perutnya masih sakit."
"Nggak," jawab Senja seadanya. "Kau ada apa ke sini lagi? Urusan kita sudah selesai, kan? Aku sudah menepati janjiku, aku sudah memberimu anak dan aku tidak menuntut ingin bertemu dengan mereka. Apalagi yang kau mau dariku?"
"Kamu nggak bisa bicara baik denganku? Aku ke sini cuman mau bilang terima kasih untuk semuanya, waktu kamu yang terbuang lebih dari satu tahun, tenaga kamu, badan kamu, masa-masa remaja kamu menuju dewasa sudah kamu habiskan buat aku. Seperti yang selalu kamu bilang kalau aku ini manusia tidak berperasaan, aku lebih pantas disebut manusia penjahat. Mungkin memang aku begitu, kamu hanya tahu sisi gelap aku tanpa kamu tahu bagaimana aku bertahan dalam kegelapan itu. Tapi, sejak kenal kamu aku sadari banyak perubahan dan kamu berhasil membuat aku untuk melihat dunia dari sisi yang berbeda. Setelah ini mungkin aku tidak berubah menjadi manusia baik seperti manusia-manusia lainnya, tapi setidaknya aku belajar banyak hal dari kamu. Bagaimana cara aku memandang seseorang dan juga bagaimana cara aku untuk menghargai seseorang adalah pelajaran dari kamu yang aku pelajari selama satu tahun ini."
"Bagus kalau begitu." Hanya itu jawaban Senja dari perkataan Leo yang panjang lebar.
"Aku minta maaf karena aku tidak bisa mempertemukan kamu dengan anak kita. Aku melakukan ini untuk istriku, kamu pun tahu bagaimana Rida bertahan denganku dan kamu juga tahu alasan aku untuk mati-matian melakukan apapun yang dia mau. Aku rasa, aku tidak perlu mengulanginya lagi, kan?"
"Tidak, aku memaklumi manusia sepertimu mencintai manusia lainnya melebihi cintamu pada Tuhan. Zaman sekarang sudah banyak manusia seperti itu. Mudah-mudahan suatu hari nanti, kau dan Rida bisa menemukan jalan yang benar, maksudku bisa mencari hidayah dari Tuhan, jangan menunggu hidayah datang."
"Kamu ikhlas aku bawa anak-anak kita keluar negeri?"
"Kenapa baru sekarang kau bertanya?"
Senja melihat semburat-semburat penyesalan di wajah Leo. Entah apa yang Leo sesalkan ia tak tahu, karena memang terlalu banyak kesalahan yang ia buat. Entah dengan dirinya ataupun dengan orang lain. Dari orang-orang di sekitarnya saja kesalahannya sudah sangat besar dan fatal dan mungkin, akan ada beberapa orang yang tidak akan mengampuni kesalahannya itu. Entah bagaimana nasib pria itu suatu hari nanti, pikir Senja.
"Seperti yang aku katakan tadi. Aku baru menyadari bahwa aku bisa melihat dunia dari sisi yang berbeda."
"Tdak ada yang ikhlas seorang ibu melepas anaknya pergi jauh dengan siapapun, meskipun itu dengan bapaknya sendiri. Tapi kau tenang saja, aku sudah berusaha mengikhlaskan segalanya. Karena aku percaya masa depan anak-anakku akan bagus di tanganmu nanti. Tapi sebenarnya, aku masih ragu bagaimana caramu mendidiknya nanti. Aku berharap anak-anak yang aku lahirkan nanti menjadi manusia-manusia yang baik."
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendidik mereka menjadi manusia yang baik. Aku sadar, kalau aku tidak patut dicontoh oleh mereka."
Entah mengapa semakin ke sini obrolan Senja dan Leo membuat wanita itu menjadi sensitif. Ia merasakan perubahan Leo di detik ini. Ia merasa terharu dengan kata demi kata yang keluar dari mulut pria itu.
"Senja, bisa aku meminta sesuatu lagi padamu? Satu saja untuk yang terakhir kalinya aku melihatmu. Setelah ini kita nggak akan pernah bertemu kembali. Aku tidak akan pernah kembali ke sini."
__ADS_1
"Apa?"
"Izinkan aku memelukmu, sebentar saja."