
Setelah beberapa saat bertahan dalam keheningan, mobil Leo akhirnya membelok ke pekarangan rumah Senja.
"Kau bisa berjalan sendiri, kan?" tanya Leo pada Karang.
"Kenapa kau bawa aku ke rumahmu?" Bukannya menjawab Karang malah mengajukan pertanyaan.
"Ini udah malam, kau bisa segera istirahat. Kalau kau ku bawa ke rumah sakit, dari sini sedikit jauh. Aku kenal ayahmu, nanti aku kabari dia kalau kau...."
"Jangan! Jangan beri tahu Papa. Biar nanti aku pulang setelah kau obati."
"Ini sudah malam. Tidur di sini saja. Tidak akan baik buat kamu pulang sendirian," sahut Senja.
"Nggak usah nanti aku merepotkan, aku nggak kenal sama kalian."
"Besok kau sudah bisa pulang. Ayolah jangan berdebat di sini, ini sudah malam. Kau tak kasihan melihat anak-anakku yang terlihat lelah tidur di mobil? Kau melarangku menghubungi ayahmu, tapi kau malah pulang dalam keadaan begini?" Leo yang bicara.
Merasakan terpojok akhirnya Karang dengan setengah hati menganngguk setuju. Ia sama sekali tak mengenal Leo, ia hanya ingat bahwa ia pernah bertemu beberapa kali dengan Senja.
Mereka lalu beriringan masuk ke dalam rumah. Karang berjalan sendiri dengan memegang sudut bibir yang ngilu, sedangkan tangannya yang lain memegang perutnya yang terasa lapar sekaligus nyeri karena mendapatkan tendangan yang keras.
"Kau duduklah, aku akan kembali setelah meletakkan anakku di kamar," ujar Leo berjalan menuju lantai atas dengan Alana berada dalam gendongannya. Sedangkan Alan bersama dengan Senja.
Karang terduduk di sofa ruang tamu. Ia meletakkan punggungnya di sandaran sofa. Kepalanya pun ikut ia letakkan di kepala sandaran.
Beberapa detik merebahkan kepalanya, Karang merasa mata yang begitu berat ia begitu mengantuk hingga akhirnya beberapa saat kemudian kedua matanya terpejam.
Baru saja beberapa detik mengarungi alam mimpi, terdengar suara tapak kaki yang semakin mendekat. Karang membuka mata begitu ia ingat berada di mana.
"Kau ngantuk?" tanya Leo duduk di dekat Karang sembari tangannya membuka kotak obat.
"Biar aku saja yang obati dia," sela Senja membawa secangkir teh hangat untuk Karang.
"Minumlah!" Senja duduk di samping Karang dan memberikan cangkir berisi teh yang sedikit mengeluarkan asap.
Dengan ragu Karang mengambil cangkir itu dan menyeruputnya sedikit. Kedua bola matanya menatap Senja dan Leo bergantian. Ia sedikit takut berhadapan dengan Leo. Pasalnya, ia beberapa kali bertemu dengan Senja dan beberapa kali pula ia mengerjai wanita itu dan pernah bersikap tak baik padanya. Ia berpikir bahwa Leo adalah suami Senja.
__ADS_1
"Tahan sebentar, ya. Aku bersihkan dulu ini lukanya."
Senja dengan telaten membersihkan setiap luka yang berada di sudut manapun wajah Karang. Sesekali ia merasa kesakitan dengan sentuhan halus Senja. Jarak mereka yang begitu dekat membuat Karang mau tak mau melihat wajah Senja dengan lekat.
Karang menyadari satu hal, Senja yang sudah punya dua anak itu terlihat cantik dan begitu menawan. Sadar posisinya, Karang menggeleng pelan karena pikirannya.
"Siapa tadi yang mukuli kamu? Kenapa kamu dipukuli?" tanya Senja masih memberi obat di wajah Karang.
"Biasa, anak muda," jawab Karang asal.
"Biasanya perkara perempuan. Anak muda dari jaman aku sampai sekarang kalau ribut yang perkaranya sama, perempuan," sahut Leo santai sembari memainkan ponselnya.
"Iya. Tapi aku ribut tidak memperebutkan perempuan, mereka hanya salah paham saja. Untuk apa aku ribut hanya perkara perempuan."
"Bagus, jadi laki-laki harus punya harga diri. Jangan pernah ribut soal perempuan. Mereka nanti kege'eran."
"Nggak semua perempuan suka jadi bahan keributan, Leo," ujar Senja tak terima.
"Nggak semua tapi banyak. Mareka merasa banyak yang suka dan jatuh cinta pada mereka kalau sudah seperti itu. Padahal nggak semua laki-laki yang ribut perkara perempuan, karena laki-laki itu jatuh cinta sama dia. Picik sekali."
Mendengar perdebatan singkat yang Karang dengar membuat dirinya tanpa sadar terpancing mengenai hal yang di ributkan Senja dan Leo.
"Kenapa?" tanya Senja.
Setelah mendapat pertanyaan dari Senja, barulah Karang tersadar ia salah bicara. Ia sedikit gelagapan dan salah tingkah. Untuk menutupi itu semua, ia meminum kembali teh hangat yang masih terasa hangatnya.
"Nggak apa-apa. Salah bicara saja."
Leo melirik jam tangan yang berada di tangan kirinya. Merasa sudah lelah dan malam, ia izin pulang. Hal itu membuat Karang bingung, jika Leo pulang, itu artinya ini bukan rumahnya, lalu hubungan mereka apa? Setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Karang.
"Iya, hati-hati di jalan. Terima kasih untuk hari ini," ujar Senja mengantar kepergian Leo hingga teras.
Senja kembali ke ruang tamu setelah mobil Leo meninggalkan halaman rumahnya. Ia berniat akan membereskan kotak obat yang tadi ia ambil beberapa isinya. Di tengah aktivitasnya, ia mendengar bunyi sesuatu yang membuatnya tersenyum geli.
"Kamu lapar? Aku akan buatkan sesuatu untukmu. Apa makanan kesukaanmu?"
__ADS_1
"Tidak usah. Nggak apa-apa, aku nggak lapar." Karang yang dikenal sebagai pemuda tak punya hati ternyata bisa sungkan juga.
"Kamu akan sakit jika tidak makan. Nggak baik buat kesehatan kalau terlalu lapar. Ya udah, kita ke meja makan, yuk. Ada buah di sana. Kamu bisa makan buah dulu selagi aku masak."
"Aku merepotkanmu."
"Tidak, aku suka melakukannya. Ayo ikut aku!"
Senja berjalan dengan lebih dulu lalu diikuti oleh Karang. Pemuda itu terlihat begitu sungkan. Karang mendudukkan diri begitu sampai di meja panjang dan beberapa kursi yang berderet di dekat dapur.
Senja pun tak langsung ke dapur. Ia mengupas dan memotong beberapa buah dijadikan satu ke dalam sebuah piring besar. Lalu menyodorkannya ke depan Karang.
"Makanlah! Jangan sungkan atau aku akan duduk di depanmu agar kamu mau makan buah itu."
Karang seketika mengambil satu buah potongan apel yang nampak segar. Sementara Senja memulai menunjukkan keterampilan tangannya memasak di dapur.
"Kenapa kamu bersikap baik padaku? Terakhir kali kita ketemu, aku kerjain kamu jadi supir aku. Kamu terlihat marah, tapi sekarang kamu baik banget." Akhirnya pertanyaan yang sejak tadi ia simpan dalam kepala terlontar juga.
"Bagiku yang sudah berlalu ya sudah, kenapa harus di bawa sampai sekarang. Nggak ada gunanya juga," jawab Senja dengan lembut dan tangannya masih sibuk membuat sesuatu. "Kamu suka sayuran?" tanyanya kemudian.
"Suka. Aku pemakan segala, tapi nggak pernah makan teman," tukas Karang seraya mengunyah buah. Lama-lama pemuda itu kehilangan rasa sungkannya pada Senja, karena melihat wanita itu yang nampak santai dan hangat membuat Karang ingat teman baiknya, Andra.
"Hahaha. Bisa bercanda juga kamu ternyata. Sama, aku pun makan apapun asal matang. Suka pedas?"
"Suka."
"Oh kita punya selera makan yang sama. aku juga suka pedas. Tapi ini sudah malam, jadi aku nggak masukin cabe banyak. Makanlah!" Senja duduk di depan Karang dan menggeser piring ke hadapnnya.
Sepiring nasi goreng dengan isian yang sangat lengkap mengepul di depan Karang. Ada sosis, sayuran, telur, suiran ayam, dan beberapa butir bakso. Aroma nasi goreng yang tertiup angin entah dari angin dari mana membuat Karang semakin ingin makan. Cacing di perutnya seakan mengerti ada asupan nikmat. Mereka terus saja meronta ingin diberi makan.
"Kamu nggak makan?"
"Aku sudah makan. Lagipula aku harus menjaga berat badan, mana mungkin aku makan makanan berlemak sudah malam begini. Aku akan temani kamu, aku makan ini saja." Senja meraih sisa potongan buah yang ada di piring.
Karang menyendok penuh nasi goreng itu, meniupnya sebentar dan memasukannya ke dalam mulut. Mengunyah dengan pelan dan menikmati setiap kunyahan.
__ADS_1
Senja tak perlu bertanya bagaimana rasa masakannya. Hal itu sudah terlihat dari Karang yang makan dengan lahap.