Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
51. Kenangan


__ADS_3

"Izinkan aku memelukmu, sebentar saja."


"Untuk apa?"


"Salam perpisahan saja."


Senja menatap Leo sesaat, Entahlah, Senja melihat pria itu berbeda hari ini. Tidak segarang dan sejahat biasanya.


"Iya. Nggak lehih dari dua menit."


Tanpa menjawab, Leo langsung saja menabrak tubuh Senja dengan tubuhnya. Entah mengapa ia begitu erat mendekap wanita yang selalu ia anggap lemah. Memejamkan mata sesaat, menikmati sentuhan demi sentuhan kulit mereka yang beradu.


"Sekali lagi terima kasih, terima kasih sudah mengubah manusia hina ini menjadi lebih baik. Terima kasih juga karena sudah merelakan waktumu hanya untuk mengubah statusku."


"Alhamdulillah, bagus kalau kau sudah menyadari kesalahanmu. Berubahlah sedikit demi sedikit untuk menjadi lebih baik, kau bisa tuntun Rida dan anak-anak nantinya."


Leo melonggarkan pelukannya. Memangkup kedua sisi pipi Senja dengan tangan kanan dan kirinya. Jarak mereka begitu dekat. Saking dekatnya wajah mereka terasa sejuk karena hembusan nafas dari keduanya.


"Mungkin aku akan merindukan kamu suatu saat nanti."


"Kau bisa menumpahkan segala rasamu ke anak-anak nantinya. Pasti akan sampai ke hatiku juga."


"Aku minta maaf."


"Sudahlah, aku sudah menerima semuanya. Aku sudah ikhlas dan aku sudah berdamai dengan masa laluku. Aku sudah sembuh. Tidak apa-apa. Pergilah!"


Leo merogoh saku kemejanya. Mengambil kertas dari sana dan memberikannya pada Senja.


"Aku tahu kamu nggak butuh ini, tapi ambilah ini sebagai bayaran untuk waktumu yang terbuang. Aku mohon jangan menolak."


Untuk pertama kalinya Senja tersenyum untuk Leo. "Tidak usah, aku nggak mau. Ambil saja, untuk masa depan anak-anak. Ayolah, jangan nilai apapun dengan uang. Kau bisa belajar mulai sekarang."


"Sudah ku duga. Tapi nggak apa-apa. Aku ada hadiah lagi buat kamu. Nggak mahal, sih. Tapi aku yakin kamu akan lebih menghargai ini daripada uang." Leo kembali merogoh saku kemejanya lalu mengeluarkan sebuah gelang.

__ADS_1


Gelang biasa saja, gelang karet berwarna hitam yang di lapisi beberapa bunga warna warni, namun ada papan kecil yang bertuliskan nama Senja di sana.


"Kamu masih ingat aku pernah ada kepentingan ke Bali, kan? Aku beli ini di sana. Nggak mahal, mudah-mudahan kamu suka."


"Aku mau ambil yang ini, terima kasih." Senja menerima gelang itu dengan senang hati.


Akhirnya setelah sekian lama aku melihat senyum itu untukku juga.


"Aku rasa, aku harus segera pergi dari sini. Aku pamit, ya. Sekali lagi terima kasih dan maaf untuk semuanya."


"Sama-sama. Pergilah!"


"Nanti kamu pulangnya--"


"Ayah. Nanti aku akan kabari Ayah. Kau tenang saja."


Leo menggangguk, lalu dengan cepat memutar badannya dengan langkah lebar keluar ruangan. Berarti di depan pintu sesaat seraya memejamkan mata dan mengatur nafasnya. Entah kenapa,  hari yang paling ia tunggu justru membuatnya merasa kehilangan ia tak tahu ada apa dengan dirinya.


Setelah merasa tenang Leo berjalan kembali ke tempat di mana Rida berada. Ternyata ia tak sendirian, wanita itu sudah bersama dengan dua orang suster  yang akan merawat kedua anak kembarnya. Dan dalam dekapan dua suster itu ada seorang bayi.


" kamu nggak mau ketemu Senja dulu gitu. Minimal bilang terima kasih."


"Kamu tadi udah bilang begitu, kan?"


"Ya udah, kamu aja cukup, kan? Aku nggak mau lagi bahas dia. Bisa kita pulang sekarang?"


"Iya."


***


Manda masih duduk terdiam di dekat box bayi yang berisi dua bayi kembar yang nampak kembali pulas. Entahlah, ia merasa senang dan tenang ketika menatap bayi-bayi mungil itu.


Ingatannya lalu kembali pada momen belasan tahun silam. Di mana ia sendiri juga memiliki bayi yang sebenarnya lucu, namun ia sangat membenci bayi itu.

__ADS_1


Manda merasa ada yang berbeda dari dirinya. Setelah beberapa bulan lalu ia membiarkan Senja memeluk dirinya, sejak waktu itulah perlahan demi perlahan Manda mulai memikirkan anak gadisnya itu.


"Lagi tidur, kenapa diliatin begitu?" Akmal berjalan ke arah tempat tidur yang berada di kamar itu, lalu duduk di samping wanita yang saat ini masih bertahta di hatinya.


Tidak ada jawaban dari mulut Manda, hanya terdengar hembusan nafas panjang.


"Lucu, ya mereka. Untung aja mukanya nggak ada yang mirip Leo. Ya, meskipun ada beberapa bagian tubuh yang mirip, sih, kayak mata alis, tapi bagian tubuh yang lain mirip anak kita, kan?" Akmal mengikuti arah pandangan Manda.


Manda masih diam.


"Mau sampai kapan kamu membenci aku? Nggak ada salahnya kalau kamu damai sama masa lalu. Emang ada yang berubah kalau kamu begini terus sama aku, sama Senja? Coba aku mau lihat perubahannya apa."


"Nggak ada."


"Nah, itu kamu tahu terus kenapa? Kenapa kamu masih begini terus?"


"Kamu berharap aku bagaimana? Apakah kamu berharap aku akan senang, bahagia, tertawa-tawa, girang ketika aku, kamu datangi?"


"Kamu, kan udah tahu kenapa aku hilang. Aku juga udah menjelaskan kalau aku--."


"Tidak perlu dijelaskan berulang-ulang aku bosan dengarnya. Mau ngapain ke sini?" Manda bertanya dengan nada ketusnya.


"Aku nggak mau lah hubungan kita begini terus."


"Lalu maunya?"


"Ya kita biasa aja, kita kayak teman. Kita ini ada yang mengikat Manda, anak kita satu-satunya. Apalagi kita sekarang udah punya cucu, masa nggak malu sih kalau kita begini terus di hadapan Senja."


"Aku sudah tidak punya rasa malu. Apapun yang aku punya sudah kamu ambil dari dulu. Kenapa sekarang kamu tanyakan hal-hal yang tidak penting?"


"Tidak penting? Di antara kita ada Senja, jika hubungan kita seperti itu terus, kita tidak akan memberikan contoh yang baik untuk dia. Setidaknya di sisa-sisa kehidupannya yang kedua ini, kita berikan kenangan baik, kita tunjukkan kalau hubungan kita sudah mulai membaik. Apa kamu kurang selama dua puluh tahun menyiksa fisik dan batin dia? Dan sekarang dia berada dalam kehidupan barunya. kamu mau menontonkan hubungan kita yang seperti ini? Ayolah, Senja sudah menderita sebelum bertemu denganku. Lalu setelah bertemu denganku, dia akan tetap menderita begitu? Dengan ditambah dua anak tanpa sosok ayah, dia harus bekerja banting tulang nantinya. Kamu nggak mau membuat cerita kebahagiaan untuk dia?"


"Memang kamu tahu apa soal kehidupan?"

__ADS_1


"Manda, aku menghilang bukan berarti hidup aku bahagia. Aku juga sedih, aku juga frustasi cari kamu. Aku memang menikah dengan wanita lain, tapi kehidupanku sama sekali tidak ada bahagia bahagianya. Pikiran aku, hati aku, fokus aku, hidup aku, semuanya aku habiskan untuk memikirkan kamu." Akmal mengangkat tangannya lalu memegang kedua pundak Manda. "Sebenarnya kita ini sama, Manda. Kita sama-sama menderita. Hanya saja kita menderita di beda tempat dan beda hal."


Mata Manda tak sanggup menatap mata Akmal. Tetapan pria itu begitu menyakitkan untuknya.


__ADS_2