Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
21. Renungan


__ADS_3

Akmal kembali ke ruangannya setelah memeriksa kesiapan untuk meeting yang akan dilaksanakan beberapa menit lagi. Ia berjalan cepat agar segera sampai di ruangannya. Sungguh kepalanya sangat pening beberapa hari ini. Untunglah ia sendirian di rumah, tak ada Clara yang selalu memulai keributan dan menambah beban di kepalanya.


"Bapak," sapa sesorang.


Akmal yang semula bermain ponsel mendongakkan kepala. Rasa terkejutnya tak bisa ia sembunyikan dari wajahnya.


"Senja? Bagaimana bisa kau ada di sini? Dan.." Akmal tak melanjutkan kalimatnya, ia meneliti Senja dari atas hingga bawah. Otaknya masih terlalu lemot untuk mencerna apa yang ia lihat.


"Iya, Pak. Saya bekerja di sini, baru hari ini. Ada sesuatu yang mengharuskan saya untuk keluar dari restoran. Sebuah kebetulan yang tidak saya sangka bisa bekerja di kantor Bapak." Senja tersenyum hangat.


Senyuman yang selalu Senja ukir membuat hati Akmal menghangat, lengkungan itu membuat dirinya teringat dengan seseorang.


"Senang bisa melihat mu setiap hari di sini. Semoga kau betah, panggil saya Pak Akmal." Akmal juga tak kalah ramah.


"Baik, Pak Akmal. Saya kembali bekerja dulu." Senja menunduk dan sedikit membungkukkan badan untuk berpamitan dari sana


Sedikit ada perubahan mood di hati Akmal setelah melihat Senja. Ia jauh lebih baik dari sebelumnya. Jangan tanya kenapa, karena Akmal sendiri tak tahu apa jawabannya.


Semua karyawan Akmal menunduk hormat pada dua orang yang baru saja menapak lantai kantor Buana Indah. Kedatangannya di sambut oleh salah satu karyawan kepercayaan Akmal.


"Selamat pagi, Pak. Selamat datang di perusahaan kami, suatu kehormatan bagi kami kedatangan tamu seperti Bapak." Sambut Aldi.


"Selamat pagi. Tidak perlu berlebihan, kita adalah teman, bukan? Langsung saja ke meeting kita. Aku tidak punya banyak waktu."


"Baik, Pak. Mari," ajak Aldi yang notabene lebih tua, tapi terlihat lebih menghormati Leo hanya karena status mereka yang berbeda.

__ADS_1


Uang memang segalanya, benda kertas itu begitu di puja banyak orang. Seakan benda itu mampu membuat kita bahagia selamanya, seakan benda itu mampu membeli kehidupan kita yang tidak kekal. Entah tradisi dari mana, siapapun yang memiliki uang dan harta melimpah, maka mereka akan mendapatkan penghormatan yang lebih dari segalanya.


Sambutan homat pun kembali Leo terima dari pemilik perusahaan yang kini lantainya sedang ia injak. Berbasa-basi sebentar, lalu memulai pembicaraan urusan pekerjaan.


***


Pukul setengah dua belas siang, Leo meninggalkan kantor besar Akmal. Bukan Leo namanya jika ia berjalan tanpa wibawa dan dengan wajah dinginnya. Disaat semua orang menyapa dengan menundukkan kepala, ada sosok gadis yang terpaku di tempat.


Detak jantung Senja seakan berirama dengan cepat dan merosot dari tempatnya. Nafasnya tersengal-sengal, tenggorokannya tercekat.


Senja kenal betul siapa pria yang sedang  berjalan menuju ke arahnya. Ia adalah pria yang dihindari oleh Senja. Ia tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, tapi entah mengapa kakinya begitu sulit untuk ia gerakkan, bahkan bergeser dari tempatnya saja terasa sangat berat. Senja semakin ketakutan, hal itu terlihat dari dahinya yang sudah mulai basah oleh keringat.


"Nja, ayo, makan! Ntar keburu habis jam makan siang kita. Beli di kantin aja, makanannya nggak kalah enak sama masakan di luar."


Mendengar ucapan temannya membuat gadis itu tersadar. Tanpa menjawab ajakan dari temannya itu, Senja segera berlari menjauh dari sana. Mencari tempat aman.


Mendengar sepatah kata yang tak lengkap membuat langkah Leo memelan. Ia mendongak dan menatap Rina yang berlari ke arah belakang. Entah perasaan dari mana ia menangkap sesuatu yang membuatnya curiga.


"Ada apa, Tuan?" tanya Fais yang bingung dengan atasannya.


"Kau tidak dengar office girls tadi nyebut Nja? Aku curiga kalau yang dia panggil adalah Senja." Pandangan Leo masih tertuju pada lorong tempat Rina berlari.


"Bukankah Senja bekerja di restoran?"


"Sudah tidak. Senja melarikan diri dari dari rumah setelah aku datang ke restoran tempatnya bekerja." Leo memajukan langkahnya satu langkah. Ia ingin memastikan apakan instingnya kali ini benar atau tidak.

__ADS_1


Baru saja menggerakkan langkahnya yang kedua, dering teleponnya menggema ingin segera di terima.


***


"Astaga, bagaimana ini? Kenapa orang-orang yang aku suruh tidak ada kabar hingga sekarang? Ah sial, bagaimana dengan nasibku nanti jika aku tak menemukan Senja dalam waktu dekat." Manda mondar-mandir dengan wajah panik.


Sudah beberapa hari ini, Manda menyuruh orang untuk menemukan di mana keberadaan Senja. Namun, hingga hari ini tak ada sama sekali perubahan atau setidaknya titik terang keberadaan sang Anak.


"Ah," pekik Manda di tengah paniknya. Sejak kepergian Senja, pinggang Manda seringkali nyeri hebat.


Manda menggigit bibir bawahnya demi menahan sakit yang teramat menyiksa. Dengan tertatih Manda berjalan ke laci yang di dekat TV. Meraih kotak obat dan mengambil obat pereda nyeri di sana.


"Kamu kenapa, Manda? Kamu seperti sering kesakitan akhir-akhir ini," tanya  bu Patmi mendekati Manda.


"Nggak tahu, Bu. Akhir-akhir ini aku sering nyeri pinggang. Terasa sangat sakit dan menyiksa. Tapi nggak apa-apa, aku udah minum obat pereda nyeri. Sudah berkurang." Manda duduk merebahkan dirinya di sofa. Menikmati sakit yang perlahan hilang.


"Cobalah untuk periksa ke dokter, biar kalau ada apa-apa bisa ditangani dengan cepat, biar nggak terlambat."


"Apa Ibu berharap aku sakit parah? Aku hanya sakit pinggang biasa, nggak apa-apa."


"Manda, apa kepergian Senja tak membuatmu berubah, kamu tidak sadar dengan ini semua?"


"Memang hal apa yang harus membuat aku berubah? Senja ada di sini atau tidak, aku juga tidak peduli. Yang aku pedulikan adalah janjiku pada Leo, aku harus menemukan Senja untuk pria kaya itu."


"Cobalah untuk berdamai dengan hatimu, dengan masa lalumu. Ibu tahu kamu tidak begini, Ibu tahu kamu tidak jahat, Ibu tahu kamu tidak tega melakukan ini, kan? Manda, cobalah untuk melihat Senja dari sisi baikmu, Nak. Dia anakmu. Kamu mempertaruhkan nyawa demi lahirnya dia. Begitu dia lahir, kamu siksa dia, kamu beri dia luka batin yang kuat dan hebat. Sementara kamu sendiri tahu bagaimana rasanya merasakan sakit itu, dan kamu torehkan juga pada anakmu? Apa kamu tidak ingat? Ketika kamu sakit, ketika kamu sedang tak bisa menemukan barangmu, kamu tidak bisa melakukan sesuatu, siapa yang bantu kamu? Anakmu tidak pernah benci padamu, Man. Berubahlah selagi Senja masih ada, berbuat baiklah padanya ketika Ibu masih ada di sisi kalian. Ibu ingin sekali melihat kamu bersikap baik padanya. Sekali saja, Manda cobalah. Maka kamu akan mencintai dia juga. Cinta Senja padamu tidak bertepi dan tak terbatas. Tapi kamu tidak bisa melihatnya karena kamu dibutakan dengan amarah dan kebencian. Dua rasa yang seharusnya kamu lampiaskan untuk Ayahnya, bukan pada anaknya. Semua ini tidak adil untuk Senja. Jika Ibu jadi kamu, Ibu akan tetap memberikan kasih sayang, cinta, dan juga menjadikan dia wanita sukses. Untuk apa? Untuk membungkam mulut pria yang sudah merusak masa depan Ibu. Ibu akan tunjukkan kalau perbuatannya tidak akan merubah apapun. Akan Ibu tunjukkan kalau dia gagal merusak Ibu."

__ADS_1


Manda diam, tiba-tiba matanya terasa panas. Setitik air mata jatuh dari sudut matanya.


__ADS_2