
Sabtu pagi, sesuai dengan janji Leo beberapa hari yang lalu bahwa ia akan membawa Senja ke rumah keluarganya. Sejak pagi tadi gadis yang sedang hamil itu tak henti-hentinya mengulum senyum.
Memakai pakaian terbaiknya dan memoles wajahnya secantik mungkin. Ia berdiri di depan cermin lemari memutar-mutar tubuhnya dengan bahagia, ia sudah tak sabar ingin bertemu ibunya.
"Astaga Senja. Kenapa sih kamu muter-muter begitu nanti jatuh gimana?" Pretes Leo.
"iya-iya berhenti, nggak jatuh kan tapi aku." Senja kesal mengerucutkan bibirnya.
"Mau ke mana dulu? Ayahmu atau ibumu?"
"Ibu," jawab Senja cepat. "Pokoknya nanti aku mau seharian di luar rumah aku nggak mau cepet-cepet pulang," ujar Senja seperti anak kecil yang tidak pernah diajak jalan-jalan, tapi memang dia tidak pernah jalan-jalan keluar rumah, kan? Jangan lupa buahwa Senja masih berusia dua puluh satu tahun sifat kekanak-kanakannya pasti masih melekat pada dirinya.
"Iya-iya seharian ini kamu akan ke mana aja akan aku antar."
Senja yang bertubuh mungil dan sedang mengandung dua anak kembar membuatnya kesusahan dalam melakukan hal apapun apalagi perutnya kini apa sangat membesar. Untuk berjalan sedikit jauh pun ia sudah ngos-ngosan.
"Mas aku ikut," teriak Rida menghentikan langkah Senja dan Leo yang sudah sampai di ruang tamu.
"Ini adalah pertemuan dengan keluargaku untuk apa kau ikut? untuk di caci maki sama mereka, untuk dihina sama mereka?" jawab Senja spontan.
"Aku yang dihina, aku yang dicaci maki kenapa kau yang repot? Aku mau ikut." Rida kekeh ingin ikut suaminya dan juga Senja.
__ADS_1
"Leo, aku tidak mau dia ikut, titik!" Senja tak mau kalah.
"Apa salahnya dia ikut, Senja?"
"Aku maunya quality time sama ibu, sama Pakde, sama Bude. Aku nggak mau kalau nanti dia nggak betah di sana terus buru-buru minta pulang. Pokoknya aku nggak mau. Aduh," pekik Senja memegangi perutnya.
"Kamu kenapa? Kenapa perutnya, sakit? Makanya jangan marah-marah Senja. Ayo aku bantu duduk."
Senja masih meringis kesakitan saat di papah oleh Leo menuju sofa ruang tamu. Enyah kenapa tiba-tiba saja perutnya merasa kram, tidak mungkin ia melahirkan sekarang karena usia kandungan masih enam bulan. Lagipula jika ia melahirkan sekarang, semua tidak berjalan sesuai dengan rencananya.
Senja ingin bertemu dengan keluarganya bukan semata-mata hanya ingin mengobati rindu. Ia ke sana juga ada maksud lain, yakni menjelaskan sesuatu yang sudah ia rencanakan dari lama.
"Masih sakit perutnya?" tanya Leo masih dengan nada paniknya, tangannya sejak tadi tak henti-hentinua mengelus perut Senja dengan lembut.
"Masih, tapi sudah mendingan sejak dielus-elus." Senja mengatakan itu dengan menatap Rida sembari mengedipkan sebelah matanya.
Rida semakin geram melihat tingkah Senja. Semakin ke sini Senja semakin tak tahu diri dan tak sadar posisi. Selalu memanfaatkan kehamilannya dalam situasi apapun.
"Sayang, anak-anak Papa lagi gaduh di dalam, ya pelan-pelan, Nak. Nanti perut mamanya sakit. Mama kesakitan tahu," Ujar Leo begitu mesra.
Jujur saja, Senja merasakan perubahan yang signifikan di diri Leo. Terlebih saat Leo tahu bahwa dirinya hamil. Ia diperlakukan seperti istrinya sendiri, bahkan lambat laun ia mulai mengabaikan Rida, istri yang selama ini ia agung-agungkan.
__ADS_1
Apakah Senja bahagia dengan perubahan Leo? Tentu saja bahagia. Bukan karena Leo mulai memperhatikan dirinya, tapi lebih kepada ia bisa memanfaatkan perubahan Leo untuk menuruti apa inginnya. Apalagi dengan kondisinya yang hamil membuat Leo lebih mudah untuk menuruti apapun ucapan Senja tanpa minta dua kali.
"Mas, mamanya anak yang di kandung Senja itu aku, hanya aku yang dipanggil mama. Kamu ingat tujuan awal kamu dong, Senja hanya tempat penitipan benih kamu bukan mamanya dari anakmu." Rida berujar dengan marah.
Mendengar ucapan dari Rida membuat Senja seketika berdiri dari duduknya. Menatap dengan marah wanita yang berdiri tak jauh darinya. Entah terbuat dari apa hati wanita yang satu ini. Kenapa ucapannya dari dulu hingga sekarang tidak pernah mengenakkan hati, selalu saja menyakitkan, selalu saja tidak memperdulikan perasaan orang. Entah bagaimana cara orang tuanya mendidik Rida, wanita itu benar-benar tidak tahu terima kasih. Atai justru kesalahan itu pada Leo? Leo yang selalu memberikan perlakuan-perlakukan manisnya. Apalagi ketika salah, wanita itu tetap dianggap benar. Mungkinkah itu yang membuat Rida menjadi wanita egois dan tak berperasaan. Ya, meskipun semuanya sudah berubah setelah kehamilan Senja.
"Apa? Apa kau bilang, kau mamanya anak-anakku? Aku yang mengandung, aku yang melahirkan. Kau hanya akan merawatnya, sekali lagi ku tekankan anak yang akan kau rawat itu adalah anak-anakku bukan anakmu. Kau yang mengambilnya dariku lebih tepatnya kalian. Kalian yang tidak punya hati, tidak punya perasaan, memanfaatkan seseorang untuk kesenangan kalian sendiri, untuk kebahagiaan kalian sendiri, tanpa mempedulikan perasaan orang lain. Aku adalah korban kejahatan kalian, kalian hancurkan masa depanku, kalian buat aku nggak berdaya, lalu setelah itu kalian pisahkan aku dari anak-anakku."
Seketika Leo panik melihat senja yang berteriak-teriak marah. Ia takut anaknya keluar karena teriakannya itu.
"Senja, Senja dengerin aku. Tahan emosi kamu jangan marah-marah. Kamu lagi hamil anak aku Senja, aku nggak mau anak aku kenapa-napa. Please, aku nggak mau anak aku lahir sebelum waktunya. Perut kamu baru aja kram, baru enakan, terus kamu teriak-teriak lagi nanti sakit lagi perutnya. Udah, duduk dulu Senja, kamu duduk. Kalau kamu nggak mau nurut sama aku kita nggak akan pergi."
Senja terpaksa duduk kembali demi dirinya bisa menemui keluarganya. Nafas gadis itu mulai tersengal-sengal karena kelelahan. Berteriak dengan lantang dan panjang lebar ternyata mampu menguras tenaganya.
"Kamu tunggu dulu di sini sebentar, ya aku mau bicara sama Rida. Tenangkan diri kamu, oke."
Leo lalu bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke arah Rida. Menyeret pelan istrinya itu menuju kamar. Penutup rapat pintu kamar tersebut dan mendudukkan Rida di ranjang.
"Sayang kamu kenapa, sih? Akhir-akhir ini sering emosi, sering marah. Ini, kan yang kamu inginkan? Kamu menginginkan anak dari benih aku, kan? Lalu sekarang ketika kita sudah hampir mendapatkannya kenapa kamu menjadi berubah begini? Ayo dong, Sayang sabar sebentar aku ngasih perhatian ke Senja juga karena dia lagi hamil. Kamu selalu meributkan hal itu, kan? Mana mungkin aku jatuh cinta sama anak itu. Ada anak aku di diri Senja, ada anak kita. Kalau bukan kita yang perhatian siapa lagi? Dia juga butuh sosok laki-laki yang manjain dia. Yang seperti kamu lihat tadi, kamu tahu rasanya hamil itu gimana, kamu sempat pernah merasakan itu, kan? Pengen dimanja, pengen diperhatikan, meskipun dengan perlakuan-perlakuan kecil seharusnya kamu paham itu. Aku bisa memisahkan antara perhatian buat anak aku sama Senja, Rida. Selama ini aku perhatian ke Senaja juga karena ada anak kita di sana. Sebelum Senja hamil apakah kamu pernah melihat aku perhatian sama dia? Nggak, kan?"
"Aku cuma takut aja, Mas. Aku takut di rebut kamu dari aku."
__ADS_1
Leo memeluk istrinya, memberikan sentuhan ketenangan agar wanita itu tak terlalu khawatir dengan apa yang ia lihat.