
Entah pukul berapa Senja dan Leo sampai di rumah Bu Patmi. Gadis itu seketika berlari ke arah teras rumahnya. Ia mendapati ibunya yang sedang menyiram tanaman memunggungi jalanan. Senja berjalan pelan begitu jarak di antara mereka semakin dekat. Ia memperhatikan tubuh ibunya yang lebih kurus dari satu tahun yang lalu.
Ingin sekali rasanya Senja memanggil ibunya, namun takut jika ibunya menjauh. Akhirnya iamemutuskan untuk tetap berjalan perlahan dan
Grep
Senja memeluk ibunya dari belakang dengan erat seraya terisak. Ia menempelkan kepalanya di punggung sang ibu.
Manda hanya terdiam, nampaknya wanita itu sedang menerka-nerka siapa yang memeluknya. Wanita itu menggerakkan sedikit tubuhnya.
"Diamlah sebentar saja, Bu." Senja mengeratkan pelukannya.
Entah karena apa Manda menuruti permintaan anak gadis yang selama ini tak ia harapkan. Ia diam terpasku seraya terus menyiram tanaman.
"Aku kangen sama Ibu," ujar senja sedikit lebih tenang.
Tak lama kemudian Senja melonggarkan pelukannya, hal itu dimanfaatkan Manda untuk segera berbalik ke arah anaknya. Menatap wajah ayu sang anak dengan begitu lekat dan dekat. Hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.
Matanya tiba-tiba saja berembun melihat Senja yang tersenyum, namun Matanya penuh dengan air mata. Perasaan Manda sudah mulai aneh, ingin sekali rasanya hatinya menyentuh wajah anak itu. Namun, kilasan-kilasan masa lalu yang buruk membuatnya memilih untuk diam.
Mata Manda beralih ke perut saja yang membesar. Ia jadi ingat dengan kehamilannya puluhan tahun yang lalu. Dan i menyadari satu hal, kehamilan anaknya dan juga dirinya sama-sama tak mereka inginkan. Manda yakin, Senja tak ingin hamil anak dari Leo. Tapi ia terpaksa melakukannya entah demi siapa.
"Aku mau peluk Ibu lagi boleh?"
Manda hanya mengangguk tanpa bersuara. Tanpa aba-aba dan dengan gerakan yang cepat Senja langsung memeluk ibunya dengan erat.
"Terima kasih Ibu. Terima kasih sudah membiarkan aku untuk memeluk tubuhmu." Senja tersenyum senang, namun air matanya terus meluncur deras.
"Aku melakukan ini hanya untuk nenekmu. Dia memintaku untuk memelukmu sebelum dia pergi untuk selamanya."
Senja terkesiap, tanpa melepas pelukannya ia mendongak ke arah ibunya. menatapnya lekat, ia ingin ibunya mengatakan sekali lagi. Ia berharap apa yang ia dengar adalah salah.
__ADS_1
"Iya nenekmu sudah meninggal, sudah satu tahun yang lalu."
"Nggak ada yang kasih tahu aku." Senja melepas pelukannya.
"Kamu di mana saja kami tidak ada yang tahu." Manda sejak tadi bicara dengan datar tanpa ekspresi, tidak marah, bahagia, apalagi kebencian. Tatapannya pun berbeda. Lebih teduh daripada setahun yang lalu.
"Berapa bulan?" Manda bertanya seraya menatap perut anaknya.
"Sudah enam bulan, Bu."
Manda mengernyit, "Sebesar ini?"
"Anakku kembar."
"Anakku Senja," ralat Leo dengan cepat.
"Iya aku tahu mereka anakmu, tapi mereka anakku juga. Jangan selalu meralat kata-kata ku ketika aku menyebut ananakk. Apa salahnya dengan aku menyebutkan mereka anakku juga? Yang mengandung aku, yang melahirkan aku, coba jelaskan di mana legak kesalahan ku. Kenapa kau selalu merapat kata-kataku. Ketika istrimu menyebut anakku, anak dia saja aku tidak pernah protes, aku nggak pernah marah, lalu kenapa aku yang mengandung anakku nggak boleh menyebut mereka sebagai anakku."
"Senja," panggil Aldi.
Senja menoleh, matanya berbinar. Ia berjalan cepat ke arah Aldi, begitupun juga dengan pria itu berlari ke arah Senja dan merentangkan kedua tangannya.
Tubuh mereka saling bertabrakan dengan disertai tangis Kerinduan. Mereka membiarkan air mata mereka tumpah begitu saja. Agar kerinduan yang sempat tertimbun di puncak kepala menguar begitu dan berangsur-angsur hilang.
"Kamu apa kabar, Nak?" Aldi melepas pelukannya, namun tangannya masih bertengger di pundak keponakannya.
"Alhamdulillah aku baik, Pakde. Seperti yang Pakde lihat sekarang. Bagaimana kabar kalian?"
"Alhamdulillah baik juga, Nak tapi..."
"Aku datang terlambat, Nenek sudah pergi meninggalkanku tanpa pamit. Padahal Nenek sudah janji sama aku, kalau mau menungguku untuk pulang. Tapi nenek sepertinya sudah lelah menunggu. Karena kenyataannya aku tidak bisa ke mana-mana."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, tidak usah dibahas, lupakan saja! Nanti suatu hari akan Pakde ajak kamu ke makam Nenek. Kalau sekarang, kan kamu lagi hamil jadi jangan dulu."
Manda berjalan ke arah tempat berdirinya Aldi dan juga Senja. Yang melewati Leo begitu saja, bahkan tidak hanya Manda yang mengabaikan Leo. Tapi semua orang yang berada di sana mengabaikan kehadiran pria itu. Ingin marah tapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Ia takut Senj akan mengamuk lagi dan membuat kramnya kambuh. Ia tak mau mengorbankan anak-anaknya.
"Lebih baik ngobrol di dalam." Manda berucap seraya terus berjalan ke dalam rumah. Ekspresinya masih sama, datar."
Senja menatap ke arah Leo sebelum ia berjalan ke.
"Kalau kau kuat tidak dianggap ada oleh kita semua, maasuklah ke dalam. Tapi jika kau tidak kuat kau boleh kembali ke mobil atau bisa pulang sekalian dan jemput aku besok sore."
"Tidak ada aturan yang memperbolehkan kamu menginap di sini."
"Tidak ada juga yang melarangku untuk menginap di sini, ini rumah Ibuku."
"Kau harus menurut padaku!"
"Memang kau siapa aku harus menurut padamu? Saudara bukan, suami bukan, statusmu hanya ayah dari anak yang aku kandung. Tidak lebih dari itu, jadi tolong jaga batasanmu!"
Leo mengeratkan giginya, ia begitu marah dengan ucapan Senja. Pria itu akhirnya melipir pergi masuk ke dalam mobil dan Senja tidak peduli dengan apa yang akan pria itu lakukan.
"Senja kamu sebsrani itu sama Leo." Aldi bertanya dengan heran. Pasalnya, keponakan itu sangat lemah lembut tidak beringas seperti sekarang.
"Salah sendiri siapa suruh dia ngekang aku. Dia mencelakai Ibu karena aku terlalu sering menolak apa perintahnya. Akhirnya aku mau hamil anaknya. Ini aku lakukan hanya untuk Ibu. Dan sikapku ke dia yang sekarang, aku mau menunjukkan sama dia dan juga istrinya kalau aku tidak selemah apa yang dia kira."
"Pakde kagum sama kamu. Ayo kita masuk kita ngobrol di dalam."
Tangan Adi merangkul keponakannya seraya berjalan menuju teras. Mereka terkejut karena Manda ternyata masih berdiam diri di teras mendengar semua percakapan Senja dan juga Aldi.
"Kenapa kamu rela hamil untukku? Kau tidak mementingkan masa depanmu?" tanya Manda tiba-tiba.
"Tidak ada yang lebih penting dari Ibu."
__ADS_1