
"Apa? Jadi pak Leo adalah orang yang kaya yang akan menikahi kamu? Dia sudah beristri, Senja. Mana mungkin dia mau menikahi kamu?" Aldi terpekik tak percaya dengan aduan Senja.
"Mana mungkin aku bohong, sih Pakde. Dia sendiri yang datang ke restoran waktu itu, dia secara terang-terangan bilang kalah mau nikahi aku. Kalau dia udah punya istri ngapain cari istri lagi?"
"Ya mana Pakde tahu? Pakde jadi semakin was-was kalau begini. Pak Leo adalah orang yang berkuasa di kalangan bisnis. Nggak ada yang nggak kenal sama dia. Koneksi dia dengan orang-orang hebat dan berbahaya. Ini beneran kamu nggak akan aman kalau lama-lama di sini." Aldi mulai bingung dengan posisi keponakannya.
"Ya terus aku harus gimana? Aku juga takut kalau keberadaan aku ketahuan. Aku nggak mau jadi istri dia, apalagi jadi yang ke dua," sungut Senja membuat Aldi semakin pusing.
"Untuk sementara, kamu jangan sering-sering keluar rumah. Keluar rumah pas kerja aja, di kantor pun kamu jangan berkeliaran keluar lingkup kantor. Kalau ada keperluan kamu yang habis, kamu bisa kasih tahu Pakde, biar Pakde aja yang beli. Pakde pulang, ya udah mau malam. Ingat, jangan keluar rumah meskipun kamu pergi sama Daren." Aldi memperingati degan keras.
Senja hanya mengangguk patuh. Gadis itu segera menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya begitu motor Aldi keluar halaman rumah. Kakinya ia ajak melangkah untuk ke kamar dan duduk di atas kasur tanpa ranjang. Tubuhnya ia sandarkan ke dinding yang dekat dengan jendela. Menatap pintu berwarna putih dan meratapi nasibnya.
Senja mulai merindukan Ibu dan Neneknya. Tak ada kenangan apapun yang di bawa oleh Senja. Kecuali beberapa foto dirinya dan sang Nenek. Serta beberapa foto Ibunya yang ia ambil secara diam-diam.
"Ibu tahu nggak, ya kalau si cecurut Leo itu udah ada istri?" tanya Senja pada dirinya sendiri. "Tapi kalapun tahu, nggak mungkin juga Ibu akan merubah keputusannya. Ibu, kan benci sama aku. Mana peduli dia dengan apa yang aku rasakan." Senja melempar ponselnya ke kasur lalu merebahkan dirinya, menenggelamkan kepalanya dengan tumpukan bantal.
***
Ku titipkan rinduku pada angin yang berhembus pelan
Agar kau tahu betapa tenang dan nyamannya rinduku menyapamu
Ku titipkan segenggam cinta pada awan
__ADS_1
Itulah sebabnya sering terjadi hujan lebat
Kau tahu kenapa? Karena awan tak lagi mampu menampung rasaku padamu.
Sebuah puisi pendek Clara temukan di laci lemari yang tekunci lama. Setiap bait kata perkata membuat Clara melipat keningnya. Puisi yang menyiratkan kerinduan dan cinta yang dalam. Yang menjadi pertanyaan di kepala Clara adalah untuk siapa kerinduan dan cinta Akmal?
Sedang memikirkan suaminya, pintu terbuka dan muncul sosok Akmal di sana.
"Kenapa kamu lihat aku begitu?" tanyanya seraya meletakkan tas kerja di tempatnya.
"Aku menemukan ini, apa kamu ada wanita lain selain aku? Itu sebabnya kamu nggak pernah menunjukkan rasa kasih sayangmu ke aku? Apa ini alasannya, Pa?" Mata Clara tiba-tiba saja berkaca-kaca.
Bahkan wanita itu belum tahu kebenarannya bagaimana, ia belum mendengar penjelasan dari suaminya, namun ia sudah merasakan perih di hatinya.
Akmal mengambil kertas yang di genggaman tangan Clara, menatapnya sekilas lalu menghembuskan nafas berat.
"Masa lalu yang tidak siap kamu tinggal? Dan tidak ada akan pernah bisa kamu lupakan, begitu? Kalau itu memang masa lalu, kenapa kamu simpan kertas itu? Kenapa masih ada di kehidupan kamu yang sekarang? Kamu pernah mengatakan kalau kamu menikahiku atas dasar cinta, cinta yang mana? Dari untaian kata singkat yang kamu tulis, aku bisa merasakan cinta yang dalam, rindu yang tak bertepi, dan rasa yang sulit untuk hilang. Jangan lupa aku seorang perempuan, Pa. Hanya dengan tulisan saja aku bisa merasakan."
Belasan tahun menikah, baru kali ini Akmal mendengar suara bergetar menahan tangis dari mulut Clara. Setetes air bening terjun dengan angkuh membasahi pipi yang selalu ia rawat. Goresan kekecewaan yang tergambar jelas di setiap sudut wajah wanita yang memberinya seorang anak.
Dan untuk pertama kalinya pula, Akmal merasa iba dengan wanita yang masih menatapnya dengan lekat. Menunggu kalimat apa yang akan ia urai hingga menjadi jawaban yang akan menenangkan diri dan hatinya.
"Kamu berpikir terlalu jauh, Cla. Apa kamu tidak pernah berpikir bahwa ini puisi untukmu?"
__ADS_1
"Aku tidak bodoh, bagaimana bisa kamu membuat kata-kata yang begitu indah untukku di tulisan jika kamu selalu mengatakan kata umpatan dan amarah saat denganku?"
Skak!
Akmal tak bisa menjawab, ia merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa ia berkata begitu pada wanita yang cerdas seperti Clara, si wanita yang pandai memutar lidah untuk membuat lawan bicaranya bungkam.
"Sudah seharusnya aku sadar bahwa aku hanya memiliki ragamu."
Clara pergi dari kamar seraya mengusap air matanya yang terjun kembali.
"Clara ayolah ini hanya masa lalu. Kita sekarang bukan lagi pasangan muda yang harus mengatakan aku cinta kamu, aku sayang kamu. Itu semua sudah tidak kita perlukan. Kita sudah tidak butuh pengakuan. Kita hanya perlu tindakan saja."
Clara yang menghentikan langkahnya seketika berbalik menghadap Akmal.
"Tindakan yang mana? Tindakan yang mana yang menggambarkan kamu sayang sama aku? Kamu memang memanjakan aku dan Karang dengan semua yang kamu punya, tapi tidak dengan hati kamu. Apa kamu berpikir dengan apa yang kamu beri adalah satu-satunya bentuk ungkapan cinta dan kasih sayang? Aku tahu sekarang bagaimana rasanya jadi Karang. Aku tahu rasanya bagaimana diabaikan di tengah istana. Dan bodohnya aku baru sadar sekarang!"
"Clara," panggil Akmal menahan istrinya pergi dengan mencekal tangannya.
"Lepaskan! Aku ingin tidur dengan Karang. Memberikan kasih sayang yang terlambat aku berikan." Clara melepas paksa cekalan tangan Akmal dan berlalu dari sana.
Akmal mengusap wajahnya kasar. Menatap lembaran kertas yang sudah lama ia tulis dan sembunyikan dengan rapat. Entah bagaimana ceritanya Clara bisa menemukan benda ini setelah sekian tahun berlalu dan tersembunyi dengan aman.
Baru menemukan kertas, belum mengetahui kebenaram yang Akmal sembunyikan saja Clara sudah se kecewa itu. Bagaimana jika, ah bahkan Akmal membayangkannya saja terasa sangat sulit.
__ADS_1
Pasti akan ada banyak hati yang kecewa karena masa lalunya ini. Anak istrinya, dan juga Manda yang entah bagaimana kabarnya sekarang. Bahkan hingga kini Akmal masih memikirkan apakah karena kejadian malam itu ada benih yang tumbuh di rahim Manda?
otor baru buka gc, nih. gabung, yuk ☺