
"Aku percaya."
Tidak ada alasan bagi Senja tidak percaya pada laki-laki di depannya. Segala perlakuan dan perubahan yang beberapa bulan belakangan, sudah cukup bagi Leo untuk mendapatkan kepercayaan dari Senja.
Keindahan mata itu, mata yang dengan lekat dan dalam menatapnya sukses membuat Senja bergetar. Pandangan mata yang jauh berbeda dari saat mereka masih tinggal satu atap.
"Syukurlah kalau begitu. Aku senang bisa mendapat sesuatu yang berharga darimu."
"Kamu mau ambil anak-anak kita?" Entah apa yang membuat Senja bertanya begitu. Ia percaya dengan perubahan Leo, tapi ketakutannya masih menghantui.
Leo tertawa kecil, "Ya nggak lah. Aku nggak akan ambil mereka, aku yang akan datang pada kalian."
"Maksudnya?"
"Nanti kamu akan tahu apa maksudku. Aku sebenarnya sedikit curiga waktu pertama kali bertemu dengan mereka. Wajah yang mirip denganku, kelakuan Alan yang membuatku ingat dengan masa lalu. Mirip banget kelakuan Alan sama aku, ya. Kamu merasa kehilangan nggak sih, waktu aku benar-benar menghilang beberapa tahun lalu. Setelah aku bisa lihat, kan kita sama sekali nggak pernah ketemu, ya."
"Kenapa juga aku merasa kehilangan, bukan siapa-siapa," ledek Senja tanpa rasa bersalah dan dosa.
"Tapi aku yakin kamu selalu ingat aku, kamu nggak akan bisa nampik itu."
"Gimana nggak ingat kalau setiap hari wajah yang aku lihat kayak kamu."
"Selain itu, gelang ini juga pasti selalu mengingatkan aku, kan? Terlalu banyak kenangan yang aku ukir ternyata." Leo terkekeh geli.
"Kamu maafin aku?"
__ADS_1
"Kalau kamu nggak ada alasan buat nggak percaya sama aku, aku juga nggak ada alasan buat nggak maafin kamu. Aku memang kecewa, tapi aku nggak marah. Ada alasan di setiap tindakan seseorang. Aku tidak membenarkan tindakan kamu, tapi aku sadar kamu begitu juga karena aku. Kamu mengizinkan aku untuk ke sini saja aku sudah senang. Kamu izinkan aku untuk bertemu mereka aku sudah bersyukur. Sudah jangan dibahas dan dipikirkan lagi. Semuanya sudah terbuka, kita jalani saja. Kamu pernah memperkenalkan sosok papa dengan mereka? Aku perhatikan mereka tidak pernah menyebut papa saat bertemu denganku. Yang mereka bicarakan selalu mama dan oma."
Senja sedikit menundukkan kepala. Ia diam sesaat untuk merangkai kata agar menjadi kalimat yang pas sebagai jawaban. Jawaban yang sekiranya tidak menyakitkan.
"Aku memang tidak pernah cerita soal kamu. Mereka berkali-kali tanya papa di mana, teman-temannya punya papa kenapa mereka nggak, mereka pengen lihat papa." Senja menjawab dengan mulut bergetar menahan isakan. Sebisa mungkin ia berusaha tak menangis di depan Leo.
"Tapi aku selalu menjawab 'Mama akan mempertemukan papa kalian suatu hari nanti' aku selalu menjelaskan kepada mereka bahwa kamu sedang pergi. Setiap kali mereka bertanya padaku soal kamu, wajahku katanya terlihat sedih dan murung. Dan sejak itu mereka tidak pernah lagi bertanya soal kamu. Karena mereka menganggap bahwa bertanya soal kamu hanya akan membawa kesedihan untuk ibunya. Sebenarnya aku bukan sedih, tapi perasaan aku campur aduk setiap kali mereka tanya kamu. Antara perasaan rasa bersalah, kesal, jengkel semuanya jadi satu."
"Maaf, aku minta maaf kalau aku juga menoreh luka di hati kamu. Maaf, ya. Udah jangan nangis. Aku janji rasa sakit yang pernah aku kasih, nggak akan lagi aku ulangi," ujar Leo mengelap pipi Senja yang basah. "Udah malem, aku pulang, ya. Aku akan datang ke sini besok malam. Jangan ke mana-mana, jangan biarkan anak-anak pergi kalau aku belum datang. Kamu juga jangan banyak jalan, biar cepat sembuh. Biar hari minggu kita bisa jalan bareng. Jangan bilang dulu kalau aku papa mereka."
"Kenapa?"
"Biar aku deketin mereka dulu, nanti biar aku yang bilang. Kamu nggak keberatan, kan?"
"Nggak. Kalau aku keberatan, itu artinya aku egois."
Senja masih dia mematung, ia tercengang dengan perlakuan yang baru saja ia terima. Yang diacak rambut, tapi yang berantakan hati, itulah setidaknya kata-kata yang pas untuk Senja saat ini tanpa ia sadari.
Tangan Senja meraba dadanya. Ia mendengar detak jantung yang sama dengan detak jantung Leo beberapa jam yang lalu. Detak jantung saat ia dalam gendongan pria itu.
"Astaga, sepertinya aku sedang tidak sehat. Lebih baik aku tidur sekarang."
***
"Mau ke mana Karang?"
__ADS_1
Akmal yang di ruang tengah bersama dengan istrinya melihat Karang yang berdandan dengan rapi seperti hendak pergi.
"Nongkrong sebentar. Udah berbulan-pelan aku nggak pernah nongkrong, masa nongkrong sekali aja nggak boleh."
"Bukan nggak boleh, tapi sekarang kamu itu sudah menjadi pimpinan perusahaan. Kamu harus menjaga nama baik dan reputasi kamu sendiri."
"Aku nggak mau jadi pimpinan kalau harus repot seperti ini. Nongkrong doang nggak akan membuat namaku menjadi jelek. Cuman ngopi doang sama temen, emang seorang pemilik perusahaan itu nggak boleh ngopi? Kaku banget hidupnya."
"Bukannya begitu, nggak pantes kalau seorang pebisnis itu nongkrong-nongkrong nggak jelas."
"Wajar kalau aku masih hobi nongkrong. Aku masih kuliah masih dua puluh dua tahun, masih muda. Usia segitu lagi senang-senangnya kumpul sama temen-temennya, nggak kayak aku yang berkutat sama berkas. Aku juga mau merefresh otakku, Pa."
"Siapa bilang usia segitu lagi senang-senang kumpul bersama teman-temannya? Banyak orang di luar sana yang di usia segitu sudah menjalani beban hidup yang berat. Kamu hanya dibebani perusahaan saja sudah ngeluh sepanjang waktu."
"Wajar aku ngeluh, aku dipaksa sama Papa. Kehidupan aku nggak berjalan sesuai dengan keinginan aku."
Akmal seketika berdiri, sebenarnya ia sudah bosan bertengkar terus dengan anak laki-lakinya. Tapi jika Karang tidak diberi ketegasan, maka ia tidak akan punya masa depan yang cerah. Akmal tidak mau jika masa depan anaknya itu tidak jelas jeluntrungannya.
"Karang, Papa seperti ini juga buat masa depan kamu. Mau jadi apa kamu nanti kalau kamu menuruti keinginanmu saja? Iya kalau keinginanmu bagus dan jelas. Ini keinginan kamu kelayapan saja. Sepertinya Papa memang harus mempertemukan kamu dengan kakak kamu, biar kamu bisa belajar banyak dari dia."
Clara sejak tadi diam seketika berdiri menyusul suaminya. Baru tadi siang sepasang suami istri itu bersepakat untuk tidak membahas Senja terlebih dahulu di depan Karang. Akmal malah berniat mempertemukan mereka.
"Pa, kamu apa-apaan, sih?" protes Clara.
"Oh jadi selama ini Papa membanding-bandingkan aku sama kehidupan anak Papa yang lain? Anak yang tidak jelas jeluntrugannya saja dibanggakan."
__ADS_1
Plak!