Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
88. Maling


__ADS_3

"Terima kasih. Masakan kamu enak. Maaf aku merepotkan."


"Sudah kubilang aku nggak merasa di repotkan. Aku buatkan air panas dulu buat kompres perut kamu, ya. Aku lihat tadi salah satu di antara mereka ada yang nendang perut kamu. Nanti kamu kompres sendiri." Senja bangkit dari duduk dan kembali ke dapur untuk memanaskan air.


"Laki-laki tadi bukan suami Mbak, ya?" Entah kenapa Karang bertanya hal itu. Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutnya.


"Bukan, dia teman lama Mbak. Hanya saja dia sudah akrab dengan anak-anak Mbak. Dan udah anggap anak-anak seperti anaknya sendiri. Makanya tadi dia bilang anak-anakku. Memang hubungan mereka sedekat Ayah dan anak."


Karang membatin, kenapa Akmal tak seperti Leo. Jika Leo saja bisa menganggap anak orang anaknya sendiri dan bersikap seperti ayahnya sendiri, kenapa Akmal tak bisa begitu? Karang ingat, tak pernah sekalipun Akmal memperlakukan dirinya seperti Leo memperlakukan Alan tadi. Membawa ke kamar dengan di gendong saat tertidur, ah Karang merasa iri pada anak kecil itu.


Senja melirik Karang yang melamun di meja makan. Ia seperti paham apa yang sedang di pikirkan adik tirinya itu. Mendengar cerita dari Bu Clara, Senja menyimpulkan Karang hanya butuh perhatian ekstra. Ia harus diperlakukan dengan kasih sayang dan cinta yang tercurahkan penuh hanya untuknya seorang. Hanya cinta yang dibutuhkan oleh pemuda itu, agar ia bisa kembali ke jalan yang seharusnya ia lalui.


"Kenapa kamu diam? Apa yang kamu pikirkan? Kamu bisa anggap aku Kakak kalau kamu mau. Kamu bisa cerita apapun ke Mbak. Kita memang baru kenal, tapi Mbak pernah ada di posisi kamu. Banyak hal yang harus di ceritakan, tapi nggak ada telinga untuk mendengar keluh kesah kita. Itu rasanya nggak enak." Senja berusaha untuk memancing Karang agar lebih dekat dan mau bercerita banyak tentangnya.


"Omong kosong! Mbak punya teman baik seperti laki-laki tadi, gimana nggak ada telinga? Dia bisa jadi telinga buat Mbak."


"Kamu tahunya sekarang, dia yang sekarang bukan di yang dulu. Dulu dia jahat, kejam, nggak berperikemanusiaan. Tapi sekarang atas izin Tuhan dia sudah berubah. Nggak percaya? Tanya ayahmu saja. Katakan saja kamu ingin mendengar cerita soal Leo, kamu akan tahu gimana kejamnya di masa lalu. Bagaimana perusahaan kamu? Bicara soal Leo membuat aku ingat bisnis."


"Ya masih baru, jadi ya belum dapat apa-apa. Ya, tapi ada beberapa yang menanam saham. Aku masih dalam proses belajar. Ya, meskipun aku sebenarnya malas dan belum ada niatan untuk mengurus perusahaan, ya aku terpaksa tetap harus melakukannya dan menjalankan perusahaan yang sudah di bangun Papa buat aku."


"Seandainya aku punya perusahaan, pasti aku akan bergabung denganmu. Aku akan bicarakan ini pada Leo. Sudah malam, lebih baik kamu istirahat. Aku antar ke kamar."


"Biar aku yang bawa tremos dan baskomnya." Karang mengambil alih kedua benda yang tadinya ditangan Senja.


Wanita itu lalu membawa Karang ke kamarnya yang berada di dekat kamar Manda.


"Masuklah. Selamat istirahat, semoga biasa tidur nyenyak dan mimpi indah."

__ADS_1


"Terima kasih."


Senja bergegas ke kamar dan menghubungi ayahnya.


"Halo Ayah, maaf aku menghubungimu malam-malam. Aku hanya ingin bilang kalau Karang malam ini tidur di rumah ku."


"Apa? Kok bisa?"


Senja sedikit tersentak karena ia mendengar suara wanita di seberang sana. Ia kembali menatap layar benda pipihnya memastikan ia menghubungi nomor yang benar.


"Ini Tante Clara, ya?"


"Iya. Memang siapa lagi istrinya ayahmu selain Tante. Bagaimana ceritanya Karang bisa sama kamu Senja? Dia nggak apa-apa, kan?"


"Nggak Tante, jadi begini...."


Senja menceritakan kejadian dan awal mula bertemunya dirinya dengan Karang.


"Iya, terima kasih sudah menolong Karang. Tante nitip adik kamu, ya. Kabari kalau ada apa-apa."


"Iya, Tante tenanglah. Dia udah istirahat sekarang. Tante istirahat juga, ya. Bye."


Senja setelah itu juga memutuskan untuk segera tidur. Besok hari minggu, ia sudah ada rencana untuk bermalas-malasan esok hari.


Dan rencana Senja berjalan dengan sesuai keinginannya. Ia tak sadar matahari sudah meninggi di langit sana, dan ia masih meringkuk di bawah selimut. Padahal Ibu dan juga kedua anaknya sudah ramai di lantai dasar karena sedang bermain bersama.


"Yeee. Alan kalah lagi, kasih bedak lagi. Wajahnya putih semua. Hahaha." Alana tertawa dengan lantang sehingga membuat Karang yang tertidur di kamar yang berdekatan dengan ruang tengah seketika terduduk.

__ADS_1


"Astaga, apa sudah siang?" Karang meraih ponselnya dan melihat jam sudah menunjukkan di angka sembilan pagi. "Astaga, tidur di rumah orang bangun kesiangan." Pemuda itu lalu bergegas untuk ke kamar mandi.


Karang mandi dengan cepat-cepat. Tanpa ragu dan takut, pria itu keluar dari kamarnya dan mencari sumber keramaian yang diciptakan oleh penghuni rumah ini. Semua suara mendadak hilang ketika ia membuka pintu. Semua orang yang sedang di rumah tengah menatap ke arahnya.


"Siapa kamu? Maling, ya," teriak Manda.


Si kembar yang cepat tanggap segera mengambil apapun yang di dekat mereka untuk ia gunakan senjata. Sementa Manda sudah ada sapu di tangannya, asisten rumah tangga yang mendengar teriakan majikannya juga datang membawa sebuah alat dari dapur.


Belum sempat Karang mengucap apapun semua orang yang sudah membawa senjata berlari ke arahnya. Karang refleks melarikan diri dengan mengitari ruang tengah.


"Bu, saya bukan maling. Saya Karang, ampun." Karang meliuk-liukkan tubuhnya menghindari setiap serangan yang mereka lempar.


"Mbak, mbak Senja. Tolongin, aduh aku di kira maling ini."


"Ngapain kamu panggil-panggil anak saya?" Manda tanpa ampun memukuli Karang dengan gagang sapu.


"Bu lihatlah saya sudah babak belur ini, saya bukan maling. Saya pemilik perusahaan, saya udah kaya, ngapain saya maling. Astaga, Mbak Senja!" teriak Karang sekali lagi.


Wanita yang sejak tadi di panggil baru membuka mata setelah Karang meneriaki dirinya hingga ketiga kalinya. Mendengar teriakan yang melengking membuatnya tergesa-gesa turun ke lantai dasar.


Mulutnya seketika melebar ketika pemandangan kekerasan yang dilakukan sangat Ibu.


"Astaga, Ibu. Berhenti, Bu. Dia bukan orang jahat. Astaga, Ibu dia temanku. Anak-anak sudah cukup!"


Manda dan cucunya seketika terhenti dari aksi pemukulan itu.


"Teman? Kamu berteman sama anak ingusan begini? Sudah bukan waktunya Senja. Lagian ngapain dia tidur sini?"

__ADS_1


"Nanti aku ceritakan, Bu." Senja beralih memandang Karang. "Kamu nggak apa-apa? Ada yang luka?"


Karang hanya menggeleng seraya mengelus lengannya yang sejak tadi terkena pukulan sapu.


__ADS_2