
"Ayah, sepertinya saran yang Ibu kasih itu ada benarnya juga. Ayah harus tau Leo itu sebenarnya ada sisi baiknya. Biar bagaimanapun dia, jahatnya dia, Leo manusia biasa, Yah. Dia punya sisi baik meski hanya seujung kuku."
"Senja kita nggak tahu apa yang ada di pikiran orang. Nanti dia pura-pura baik tapi ternyata itu hanya manipulasinya dia."
"Nggak semua orang kayak kamu, ya. Nggak usah punya prasangka buruk. Lagi pula Senja hanya bertemu, tidak menikah, kenapa kamu jadi khawatir? Kamu lupa Senja pernah serumah sama Leo?"
"Terserah kalian lah. Memang repot kalau urusan sama wanita. Apalagi Ayah nggak ada temennya. Ya udahlah, terserah kamu aja. Tapi kamu harus jaga diri, kalau ada apa-apa hubungi Ayah. Leo masih di rumah sakit tempat Ibu operasi kalau kamu mau ketemu sekarang. Ayah pergi dulu, ada kerjaan."
Setelah kepergian sang Ayah, Senja juga melakukan hal yang sama, bersiap akan ke rumah sakit saat itu juga. Lebih cepat, lebih baik, begitu pikir wanita dua puluh dua tahun itu.
Dengan memakai dress berwarna pink bermotif bunga kecil-kecil, rambut panjangnya ia gerai serta sebuah jepitan kecil ia tempelkan pada sisi kanan rambutnya membuat Senja seperti anak gadis yang masih duduk di bangku kuliah. Orang yang melihat wanita itu tidak akan percaya bahwa dirinya sudah memiliki dua orang anak.
Senja merasa cantik setelah diurus oleh ayahnya. Apalagi setelah ia memiliki anak dan kehidupannya yang serba berkecukupan membuat wanita itu lebih santai dan bisa menikmati hidupnya.
Dengan langkah percaya diri yang tinggi, ia berjalan menuju meja resepsionis dan menanyakan Di mana kamar Leo. Tentu saja hal itu mudah didapatkan, langkahnya kembali terayun semakin dalam ke bangunan yang serba putih itu. Menengokkan kepalanya ke tangan ke kanan dan ke kiri hingga langkahnya terhenti Di sebuah kamar yang bertuliskan 'Dahlia 11'.
"Kok deg-deg an, ya. Aduh mana tadi aku lupa nggak mikirin alasan kenapa bisa nemu kamar dia. Aduh gimana dong?"
Di saat Senda sedang sibuk dengan pikirannya ,tiba-tiba pintu terayun ke dalam. Senja menoleh ke arah pintu seketika.
Dia, kan yang selalu sama Leo. Siapa, sih dia?
Senja dan Fais beberapa detik saling tatap dalam diam.
"Nona Senja, kan?" tanya Fais dengan ekspresi menduga-duga.
"Ah, iya kok tahu?"
"Saya asisten pribadinya Tuan Leo. Mungkin Nona tidak pernah melihat saya, tapi saya sering melihat Nona."
"Oh begitu, ya. Jadi benar ini ruang rawat Leo?"
"Iya, Non. Tuan Leo baru saja operasi mata. Mau ketemu?"
__ADS_1
"Boleh kalau nggak mengganggu."
Fais menyingkirkan tubuhnya dari tengah pintu membiarkan Senja masuk ke dalam ruangan yang hanya berisi ranjang dan satu sofa panjang.
"Tuan, ada tamu."
"Tamu? Siapa?" Nampak wajah Leo bingung.
Senja menjawil pundak Fais lalu memberinya kode untuk tetap diam dan meminta waktu untuk berdua saja.
Dengan senang hati tentu saja pria itu bersedia menuruti keinginan Senja. Fais adalah salah satu orang yang juga menikmati kebaikan Leo. Tentu saja sedikit banyak ia mengenal Leo beserta kepribadiannya. Ia akan bahagia jika melihat atasannya itu juga bahagia.
Fais tahu, selama tinggal bersama Senja Leo banyak berubah, ia pun merasakan perubahannya itu.
"Hai," sapa Senja. Entah kenapa hanya kata itu yang terucap dari mulutnya.
Leo menenangkan kepala seakan Ia berpikir seperti pernah mendengar suaranya, tapi masa, iya dia orangnya. Itu hanya pikiran dan tebakan Senja saja, karena ia hanya bisa melihat wajahnya tanpa melihat matanya.
"Kok diem aja? Lupa, ya sama aku."
"Senja?"
"Masih ingat ternyata. Apa kabar?"
"Kamu Senja?" tanya Leo berninar.
"Iya. Kok bisa begini? Apa yang sebenarnya terjadi?" Terpaksa ia menanyakan hal yang sebenarnya jawabannya sudah ia ketahui. Ia bingung hendak bicara apa dengan pria itu.
Leo menunduk seakan ia menyembunyikan air matanya. Ia bingung hendak bercerita atau tidak, jika ia bicara jujur ia takut dan Senja akan mengasihani dirinya. Ia membenci hal itu, seumur hidupnya, tidak pernah ia dikasihani oleh orang lain.
"Dari mana kamu tahu aku di sini?" Leo langsung meluncurkan pertanyaan ketika kepalanya melintas sebuah pertanyaan yang bisa mengalihkan topik.
"Sebenarnya aku udah ketemu kamu enam bulan yang lalu. Aku kira, aku salah lihat, ya karena, kan kamu bilang mau ke luar negeri dan kamu juga bertindak seakan-akan nggak kenal aku. Kamu nggak nyapa aku jadi, ya aku mengira kalau aku salah lihat aja. Terus beberapa hari yang lalu ternyata kita ketemu lagi. Di rumah sakit ini juga. Nggak mungkin dong, aku salah lihat dua kali. Akhirnya aku cari tahu ruang rawat kamu."
__ADS_1
"Kita ketemu di sini? Kamu sehat-sehat aja, kan?" Perhatian Leo ternyata masih sama saat dirinya hamil satu tahun lalu.
"Iya, Alhamdulillah aku sehat. Yang sakit Ibu. Tapi Ibu sekarang sudah sembuh, dia habis operasi juga beberapa hari lalu. Sakit gagal ginjal." Ingin menanyakan soal Rida, tapi Senja tak tega minat kondisi Leo saat ini. Badan yang semakin kurus, pasti ia banyak beban pikiran. Jika ia menanyakan Rida rasanya itu akan membuatnya semakin sedih. Tapi di satu sisi tidakkah aneh jika ia tak menanyakan istrinya?
"Bagus kalau kamu sehat."
Ya Tuhan, aku baru saja kemarin meminta padamu untuk tidak Kau pertemukan dengan Senja. Tapi kenapa justru Kau malah mendatangkan dia ke sini.
"Anak-anak kita bagaimana?" Akhirnya Senja menemukan pertanyaan yang mengarah pada Rida. Mudah-mudahan tak mengubah Leo menjadi sedih, harap Senja.
"Anak-anak?" Leo mengubah ekspresi wajahnya. "Maafkan aku Senja, gara-gara aku buta, Rida memutuskan untuk meninggalkan aku. Dia membawa anak-anak kita ikut bersamanya. Aku minta maaf, aku sudah mengingkari janji." Tidak ada wajah memanipulasi dari wajah Leo. Ia nampak benar-benar menyesal dan merasa bersalah.
Justru yang sekarang sedikit menyesal salah Senja. Ia merasa jahat karena sudah menipu Leo. Sementara Leo saat ini sangat jujur padanya, pria itu sudah sangat menghargainya.
Jujur saja, Senja bingung harus bersikap bagaimana. Di satu sisi ia ingin jujur bahwa sebenarnya anak-anaknya bersama dirinya, tapi ia juga takut jika Leo mengambil anak-anak dari hidupnya.
"Terus sekarang Rida perginya ke mana?"
"Aku belum tahu. Nanti kalau aku sudah sembuh, aku akan mencari tahu. Mungkin dia masih di rumah kami yang ada di luar. Soalnya kata anak buahku dia nggak menemukan Rida di sini."
"Jenapa kamu nggak menghalangi dia untuk pergi? Padahal kamu sudah melakukan apapun untuk dirinya."
Leo tersenyum kecil. "Buat apa? Mau aku pertahankan seperti apa juga dia akan tetap pada pendiriannya. Dia meninggalkan aku karena memang aku ini buta. Dia menganggap aku gak bisa ngurusin dia. Jadi, ya udah. Rela nggak rela aku harus merelakan dia pergi. Aku nggak mau melukai harga diriku sendiri dengan memohon padanya untuk tetap tinggal, kan?"
"Bukannya kamu pernah melakukan itu? Bukannya kamu pernah bilang ke aku, kalau kamu pernah memohon ke Rida untuk tetap tinggal bersamanya setelah Rida divonis tidak bisa hamil karena rahimnya diangkat."
"Itu beda, posisinya saat itu adalah Rida yang memiliki kekurangan. Aku menerima kekurangan dia dan sekarang adalah posisinya terbalik. Aku yang memiliki kekurangan dan dia nggak bisa terima itu."
"Secinta itu kamu sama dia?"
"Banyak orang yang nggak tahu, kalau aku udah cinta sama orang cintaku berlebihan. Kebanyakan orang tahu aku ini jahat, kejam, nggak punya perasaan, nggak punya hati. Kamu dulu mikirnya juga begitu, kan?"
Senja hanya manggut-manggut, ia memang membenarkan ucapan Leo. Tapi belakangan ini ia sadar, bahwa pria itu pasti ada sisi baik yang tulus dari hati. Karena Senja sendiri juga merasakan kebaikan itu di saat masih tinggal satu atap.
__ADS_1