
"Selamat pagi, cintaku," sapa Daren di depan pintu rumah Senja.
"Selamat pagi juga. Aku kangen," rengek Senja.
"Sama Sayang, aku juga kangen. Satu bulan nggak ketemu rasanya udah kayak setahun aja. Aku nahan banget tahu untuk nggak ketemu kamu. Gimana kerjaan lancar, kan? Kamu aman di sini."
"Aman, Kak. Tapi, ya itu yang kayak aku ceritakan beberapa waktu lalu. Aku harus hati-hati dan nggak bisa ke mana-mana. Tapi sejauh ini aku aman, kamu tenang aja. Berangkat sekarang, yuk. Aku takut telat."
"Aku sebenarnya mau menikah sama kamu cepet, tapi gimana ngomongnya? Aku takut sama Pakde kamu. Galak orangnya. Kalau kita menikah juga perlu wali dari kamu, Sayang. Mending kamu kasih kabar juga, deh ke keluarga Ayah kamu buat jadi wali. Nanti aku akan beranikan diri juga ngomong sama Pakde."
Senja diam. Ia hanya menghembuskan nafas kasar. Bagaimana cara mengetahui keluarga Ayahnya, jika ia saja tak tahu Ayahnya siapa, di mana, bagaimana bentuknya? Bahkan namanya saja ia tak tahu.
"Kok diem?"
"Akan kita bahas kalau kita punya waktu longgar yang sama, Kak. Kalau sekarang, kan nggak pas. Kamu libur aku kerja, kadang juga sebaliknya. Nanti kita akan atur."
"Ya udah, aku nurut aja. Aku cuman nggak mau kamu kucing-kucingan terus sama si Leo itu."
Setelah perbincangan yang cukup singkat itu, mereka berangkat menuju kantor Akmal. Tanpa rasa curiga atau ada perasaan lain, mereka duduk dengan mesra di atas motor. Padahal sejak tadi ada dua orang pria yang sedang mengawasi mereka dari jarak jauh.
"Lo hubungi Tuan Leo, kita hadang mereka di jalan persawahan." Si pengendara motor menginteruksi pria yang diboncengnya.
Saat berada di jalanan yang cukup sepi dan lenggang. Kedua pria yang sejak tadi mengikuti menghadang perjalanan mereka. Raut panik seketika tergambar jelas di wajah Senja. Baru saja ia dan Daren membicarakan niat menikah, tapi tiba-tiba mereka di hadang. Senja sangat ketakutan mengingat bahwa dirinya dalam bahaya.
"Kak, aku takut, Kak. Aku yakin dia pasti orang suruhan Leo. Bagaimana ini?" tanya Senja mencengkram kuat pundak sang kekasih.
"Tenang, Sayang. Lapor polisi, aku akan hadapi mereka."
"Mereka berdua, badan mereka besar-besar, Kak."
"Nurut sama aku, kamu minggir dan telepon polisi."
Daren turun dari motor dan berjalan ke hadapan mereka. Ada sedikit rasa was-was di hati Daren karena ia takut tak bisa menjaga dan menyelamatkan Senja.
"Berikan gadis itu, maka kau akan selamat."
__ADS_1
"Langkahi dulu mayat ku."
Tak mau membuang waktu, kedua pria yang bertubuh kekar itu langsung menyerang Daren secara bersamaan. Daren dengan mudah menepis dan memberikan pukulan pada keduanya. Namun, rupanya pukulan Daren tak terlalu berefek pada keduanya. Hanya menimbulkan memar dan luka kecil saja.
Sungguh tidak imbang dari segi jumlah, Daren yang berhadapan dengan dua orang membuat tenaganya lebih cepat terkuras. Namun, ia tak mau menyerah, serangan demi serangan ia berikan demi keselamatan kekasihnya.
Tak berselang lama, mobil Loe datang. Senja yang masih sibuk dengan ponselnya seketika mundur teratur. Tanpa aba-aba Leo menarik tangan Senja dengan kasar. Senja tak pasrah begitu saja. Dengan menggunakan tangan satunya, Senja meraih sesuatu dalam tas yang bisa ia gunakan sebagai senjata untuk melindungi dirinya sendiri.
Lama Senja mencari garpu yang selalu bawa ia kemana-mana. Benda kecil yang biasa di dapur itu bisa dijadikan senjata saat genting seperti ini. Tak kunjung bisa menemukan benda itu, Senja meraih buku peninggalan sang Ayah. Ia memukul wajah Loe dengan buku tebal itu dengan brutal.
"Lepas! Kak Daren, lepaskan aku!" Teriakan dari Senja membuat Daren lengah dan
Bugh!
Dua pukulan bersamaan ia terima di bibir dan sudut matanya. Mau tak mau Daren tersungkur ke aspal dengan kondisinya yang sudah babak belur.
"Kak Daren!" Senja histeris melihat kekasihnya yang terkapar di tanah.
Meraka saling tatap dalam kejauhan. Senja dengan tatapan meminta pertolongan dan rasa khawatir akan keadaan Daren. Sedangkan pria itu menatap kekasihnya untuk mengumpulkan kembali kekuatannya.
Senja tak mau dengar, ia masih meronta dan terus memukuli Leo dengan bukunya. Merasa geram, Leo mengambil buku itu dan membuangnya ke sembarang arah. Setelah itu ia mendorong Senja dengan kasar masuk ke mobil.
Daren berhasil bangkit, namun mobil sudah melaju dengan cepat.
"Bukuku, kenapa kau buang buku itu, lelaki biadab! AYAAAAAAAH," teriak Senja mengeluarkan kepalanya melalui jendela yang terbuka. Ia melihat Daren yang dengan tertatih berusaha berdiri dan memungut buku itu.
"AYAAAAAH!"
***
"Senjaaa!" Akmal terduduk dari tidurnya. Ia terbangun dari tidurnya dengan nafas yang sudah tersengal-sengal, keringat yang membasahi wajah dan dengan detak jantung yang tak karuan.
"Kenapa, Pa? Kamu mimpi buruk? Teriakan kamu terdengar sampai bawah. Ada apa? Ini minum!" Clara memberikan segelas air putih.
'Senja. Bagaimana bisa aku mimpi dia? Dia berteriak minta tolong, apa di dalam bahaya? Tapi apa hubungannya denganku?' Akmal merasa pusing di kepalanya kembali kumat setelah memimpikan gadis yang akhir-akhir ini sering ia lihat di kantor.
__ADS_1
"Kamu mimpi apa? Senja? Siapa itu Senja? Wanita di masa lalumu?" cerca Clara.
"Bukan. Senja itu gadis yang bekerja di kantor, dia office girls bahkan dia baru bekerja satu bulan. Aku nggak tahu kenapa aku bisa memimpikan dia yang sedang meminta tolong."
"Hanya bunga tidur, lebih baik kamu sekarang mandi. Aku dan Karang tunggu di bawah." Clara kembali ke lantai bawah setelah itu.
Dengan pikiran masih terpaut pada mimpinya, Akmal berjalan dengan kepala yang di penuhi nama Senja.
***
Leo menggeret kasar Senja untuk masuk ke dalam rumah. Gadis itu sudah sangat berantakan, sejak tadi ia meronta ingin di lepaskan.
"DIAM! apa kau tak bosan sejak tadi berteriak!" bentak Leo mendorong Senja ke lantai hingga tersungkur. Ia jatuh tepat di bawah kaki Rida.
Wanita itu membungkukkan badan dan membantu Senja berdiri. Rambut yang sebelumnya tertata rapi kini terlihat tak karuan. Tatapan iba Rida lempar pada gadis kecil yang sembab oleh air mata.
"Mas, kamu terlalu kasar. Kasihan, dia. Yang butuh bukan dia, tapi kita."
"Kamu tidak tahu dia sejak tadi berteriak, dia juga membuang waktu kita. Aku banyak menghabiskan waktu dan uang hanya untuk mencari dia. Gadis tak tahu diri," umpat Leo masih emosi.
Rida lalu memanggil salah satu asisten rumah tangganya dan memintanya untuk mengantar Senja ke kamar.
"Aku mau pergi, tolong biarkan aku pergi dari sini," pinta Senja pada Rida dengan wajah memohon.
"Istirahatlah dulu."
"Aku mau pergi."
"Hey kau...."
Cukup dengan tatapan yang Rida lempar mampu membuat mulut Leo bungkam.
"Kita butuh rahimnya untuk menampung benihmu. Bersabarlah sedikit."
"Apa?" ujar Senja yang begitu lirih.
__ADS_1