
Entah sudah berapa hari Karang tak masuk sekolah. Ia berangkat dan masuk ke halaman sekolah setiap harinya, namun begitu supirnya pergi, ia kembali keluar sekolah. Begitu terus kerjaan Karang sekarang. Ia tak pernah ke mana-mana, selalu berada di kedai yang jauhnya kira-kira hanya satu kilo meter saja, namun akan tetap terasa jauh dan lelah juga jika harus berjalan.
Karang yang sekarang jauh lebih pendiam dari dahulu. Lebih sering menyendiri dan jarang bergaul dengan siapapun. Di rumah pun ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar dan mengunci pintunya.
Sebagai Ibu, Clara sudah berkali-kali bertanya sebagai bentuk perhatiannya, tapi sayangnya, anak semata wayangnya itu selalu mengatakan hal yang sama. Yakni, tidak apa-apa. Ia hanya lelah saja.
"Kamu, kok nggak pernah masuk sekolah, Dek? Kamu pakai seragam tapi setiap hari ke sini," tanya pemilik kedai yang masih berusia tiga puluh tahunan.
"Iya," jawab Karang singkat.
"Kamu kayaknya nggak bandel, kenapa? Apa ada masalah sama temannya?" Pria tampan itu begitu ramah.
"Apa Kakak keberatan aku ke sini? Bukannya uang Kakak tambah banyak kalau aku setiap hari duduk dan memesan minuman di sini?" Karang sejak tadi menjawab dengan nada yang dingin dan tak bersahabat.
Sifatnya mulai kembali pada sifat Karang yang dulu. Sifat dingin yang sempat melunak dan mencair kini kembali beku, bahkan lebih keras dan yang terdaulu.
Kenyataan yang Karang hadapi saat ini jauh lebih menyakitkan baginya. Karang yang beranjak remaja mengerti arti kalimat memiliki anak dari wanita lain. Ia paham, bahwa ia bukan anak satu-satunya dari sang Ayah.
Tapi, bukan itu yang Karang permasalahkan. Ia tak masalah jika tak menjadi anak satu-satunya, hanya saja kenapa harus dari wanita lain. Apa ibunya tak bisa lagi memberikan seorang anak?
"Jelas Kakak keberatan kamu ke sini setiap pagi, kan waktunya sekolah. Orang tua kamu menyekolahkan kamu tidak gratis, perlu uang. Mereka berharap kamu jadi orang sukses nantinya."
"Apa orang bisa dibilang sukses kalau dia punya uang banyak?"
Pria itu tampak berpikir, "Nggak dong. Uang bukan satu-satunya tolak ukur kesuksesan seseorang," jawab pria itu mantap.
"Sekolah dengan rajin pun tidak menjamin sukses, kan? Semua ditentukan nasib." Entah dari mana kata-kata yang keluar dari mulut Karang. Nampaknya, Karang banyak belajar dari apa yang ia lihat. Namun sayangnya, ia melihat dari sisi yang salah.
"Ya kalau nggak ada semangat sekolah dan menuntut ilmu suksesnya dari mana?"
"Kakak buka kedai seperti ini ada di pelajaran sekolah? Kakak bisa masak, belajar dari sekolah? Bisa menciptakan makanan dengan resep sendiri, didapat dari sekolah juga?"
Pria itu diam sesaat. Ia membatin, pikiran anak ini begitu kritis, tapi pria itu sangat menyayangkan kenapa ia harus bolos sekolah beberapa hari ini. Ia anak yang cerdas, tak mungkin ia bolos sekolah dengan alalsan yang sederhana.
__ADS_1
"Ada kok sekolah masak, banyak sekarang."
"Yang aku tanyakan apa Kakak dapat pelajaran itu di sekolah yang Kakak tempati dulu?"
"Nggak. Kakak hanya lulusan SMK jurusan otomotif."
"Nggak nyambung sama profesi Kakak sekarang, kan? Terus Kakak bisa masak sama menciptakan resep makanan dari mana?"
"Buku, Kakak banyak baca buku aja."
"Di sekolah bacanya?"
"Ya nggak. Kan, di sekolah nggak ada pelajaran itu."
"Bisa ambil kesimpulan dari apa yang kita bicarakan?"
Pria itu mengernyit, berpikir jawaban yang tepat. Ia tak boleh salah jawab, akan ia letakkan di mana wajah dan harga dirinya nanti.
"Kesimpulannya adalah..."
Pria itu mengarahkan pandangan pada meja yang memisahkan mereka. Terdapat beberapa buku yang tertumpuk di sana.
Memang, iya. Beberapa hari terakhir Karang tak masuk sekolah, namun tetap ia belajar sebisa dirinya. Mungkin tidak semua ia pahami, tapi setidaknya ia berusaha untuk terus memahami dengan caranya sendiri.
"Apa yang membuat kamu belajar di sini? Di sekolah enak, ada temennya banyak."
"Aku merasa lebih tenang. Biarkan aku di sini, Kak. Aku nggak ada tempat di manapun," ujar Karang melas.
Pria itu mengernyit. "Maksudnya?"
"Nggak semua yang kita alami bisa diceritakan, kan?"
"Iya, kamu benar. Nggak semua hal harus kita ceritakan pada orang lain. Apalagi baru kenal orang itu. Tapi dengan cerita ke orang, setidaknya beban kita terangkrat meskipun sedikit. Kamu ada keluarga, kan?"
__ADS_1
"Ada."
"Kenapa kamu nggak cerita ke mereka? Kamu ada masalah apa. Setidaknya mereka berdua adalah orang yang harusnya menjadi kepercayaan kamu. Kamu bisa cerita apapun ke mereka."
"Mereka saja ada masalah, di mana masalah orang dewasa lebih berat. Masa aku nambah masalah mereka dengan curhat ke mereka? Masa aku curhat sama orang yang aku keluhkan?"
Sedikit bingung dengan kalimat Karang yang terakhir. Pria itu diam sesaat untuk mencerna kata demi kata, menelaah ucapannya agar ia bisa paham.
Apa anak sekecil ini punya masalah dengan kedua orang tuanya? Kalau di lihat dari penampilan dia bukan orang sederhana. Itu artinya bukan perkara uang jajan.
"Kamu ada masalah sama orang tua? Kamu masih kecil, masa ada konflik sama mereka. Apa kamu bandel, nggak nurut? Biasanya anak seusia kamu ini lagi bandel-bandelnya dan susah diatur. Mereka akhirnya berontak biar di perhatikan."
"Kalau aku berontak harusnya aku nggak sekolah. Tapi ini aku masih nipu mereka dengan datang ke sekolah."
Pria itu dibuat semakin bingung.
"Terus?"
"Apa kalau anak dan orang tua bermasalah, yang salah sudah pasti anaknya? Mereka, kan juga manusia yang katanya punya salah."
"Iya. Semua manusia bisa melakukan kesalahan. Memang apa yang mereka lakukan sampai kamu begini?" Pria itu masih tak mau menyerah mengkorek ada apa sebenarnya dengan pelanggan barunya ini. Entah kenapa ia begitu tertarik dengan Karang yang menurutnya cerdas dan begitu misterius.
"Kakak mau tahu? Buat apa?"
"Meringankan beban kamu, seperti yang Kakak bilang tadi. Kakak memang nggak bisa bantu. Kakak adalah orang lain di keluarga kamu, jelas salah kalau Kakak ikut campur. Tapi, setidaknya dengan kamu cerita, kamu bisa tahu kamu harus berbuat apa, harus bagaimana, langkah apa yang akan kamu ambil. Kamu anak yang cerdas."
"Kakak punya TV? Hape?" Karang balik bertanya seraya memasukkan bukunya dalam tas.
"Punya lah. Masa nggak punya."
"Masalahku ada di sana. Ini uang minumannya. Makasih, ya, Kak. Aku harus pulang." Tanpa mendengar jawaban dari pria itu, Karang melipir pergi.
Masalah dia ada di TV, hape? Gimana maksudnya, sih?
__ADS_1
Pria itu menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Fiks! Ia tak bisa tidur nyenyak malam ini.