
"Seberapa persen kegagalan operasi ini?"
"Tuan, kenapa Tuan menanyakan seberapa persen kegagalan? Harusnya Tuan fokus saja dengan operasi dan kesembuhan. Tuan harus yakin kalau Tuan bisa melihat lagi."
"Aku pernah menaruh harapan seluruh persen pada kesembuhan. Tapi, nyatanya seluruh persen itu di hanguskan kenyataan. Aku tidak lagi berharap kesembuhan. Aku melakukan ini karena kau yang paksa aku. Aku masih butuh dirimu untuk mengurus kantor."
Leo Hardana, pria yang kejam nan jahat di mata orang kini sedang menerima hadiah dari apa yang pernah ia perbuat di masa lalu. Kejahatan, mulutnya yang pedas, tangannya yang ringan, bukan ringan untuk membantu sesama, tapi memukul sesama. Kini pria itu sedang menikmati masa gelapnya, segelap kedua mata yang harusnya bisa melihat seluruh warna.
Satu tahun yang lalu, pria yang bergelar Bapak dari dua anak itu pindah ke luar negeri. Leo berniat menghabiskan sisa hidupnya di sana bersama keluarga kecilnya. Beberapa minggu tinggal di sana, Leo mengalami kecelakaan yang mengakibatkan ia kehilangan penglihatan.
Divonis buta oleh dokter yang merawatnya membuat kehidupan Leo berubah. Leo tidak hanya kehilangan penglihatan, tapi juga kehilangan anak dan istrinya.
Siapa sangka wanita yang selama ini ia sayangi mati-matian, ia pertahankan dengan maksimal, nyatanya meninggalkan dirinya di saat ia sedang di masa sulit.
"Maafkan aku, mas. Aku tidak bisa merawat kamu dan juga anak-anak kita sekaligus. Maafkan aku, aku harus meninggalkan kamu. Aku akan menjaga anak-anak kita, tenanglah. Aku pamit."
Leo mendengar kalimat pamit itu dari Rida, bahkan di saat dirinya masih dirawat di rumah sakit. Tak ada respon apapun dari Leo, ia hanya terdiam. Rasanya ia tak punya kata apapun untuk ia ucapkan hanya untuk mencegah Rida pergi.
Sakit hati? Jangan di tanya. Wanita yang ia ratukan mencampakkan dirinya di saat ia butuh pegangan. Tidak ada manusia yang baik-baik saja jika di posisi Leo. Hanya saja, jika mungkin saja manusia lainnya akan meraung dan memohon untuk tetap tinggal, tidak dengan Leo. Pria itu lebih memilih diam dan membiarkan siapapun pergi darinya.
Kenapa begitu? Karena baginya, mengemis pada seseorang untuk tetap tinggal di saat dirinya sedang di bawah adalah sebuah tindakan yang murah baginya, dan itu hanya akan melukai harga dirinya.
Sejak hari itu, Leo meminta Fais untuk menjemputnya, kembali ke negera asalnya dan menata semuanya dari awal. Sembuh, adalah satu-satunya keinginan Leo saat itu. Pria itu bepikir bahwa ia masih punya segalanya meski ia kehilangan keindahan dunia.
__ADS_1
Jika suatu hari nanti penglihatannya kembali, maka ia dengan mudah akan mendapatkan apa yang ia mau. Wanita, anak, uang, kedudukan, semua hal itu terlalu mudah baginya untuk ia dapatkan.
Beberapa bulan setelah berasa di negara asalnya, Leo mendapat kabar baik. Apalgi jika bukan soal donor mata untuknya. Untuk saat ini tidak ada yang membuat Leo bahagia kecuali kembali bisa memandang dunia.
"Kenapa semua masih gelap? Apa operasi ini gagal? Kau bilang operasi ini kemungkinan besar akan berhasil, lalu kenapa semua masih gelap?"
Ya, operasi enam bulan lalu entah kenapa mengalami kegagalan. Harapan tinggal harapan, kesenangan Leo untuk segera melampiaskan sakit hatinya terhadap Rida harus ia tunda.
"Jangan mudah menyerah Tuan. Kembalilah pada Leo yang dulu. Ke mana keyakinan Tuan soal motto hidup Tuan? 'Tidak ada yang tidak bisa Leo dapatkan', ke mana perginya?"
Hanya Fais yang selama ini mendampingi Leo dengan setia. Meski pria itu sering kali mengumpat dan mencaci dalam hati, kesetiaannya terhadap Leo tak bisa diragukan.
Setelah perdebatan sedikit panjang itu akhirnya Leo berbaring di meja operasi. Ia yak berharap banyak kali ini, ia tak mau kecewa hanya karena sebuah harapan.
Tiba-tiba saja ucapan dari Senja mengiang ditelinga Leo. Entah dari mana datangnya ingatan itu, padahal ia sama sekali tak memikirkan Senja akhir-akhir ini.
Ya, hanya akhir-akhir ini pria itu tak teringat dengan Senja. Rupanya diam-diam hati Leo menaruh rasa terhadap wanita kecil yang pernah ia pinjam rahimnya. Hanya saja, logikanya masih sering kali menampik perasaannya.
Senja, kamu apa kabar? Maafkan aku, aku nggak bisa merawat anak kita. Anak. Kita pergi dengan Rida tanpa bisa aku tahan. Aku tidak punya kemampuan untuk menahannya pergi. Tapi aku janji, aku akan mengambilnya dari Rida begitu aku sembuh. Aku harus menepati janjiku untuk menjaga mereka, kan? Mudah-mudahan aku tidak bertemu denganmu dalam keadaan begini."
***
Butuh dua hari untuk Akmal mengetahui kecurigaannya terhadap Leo. Terkejut dan tak percaya adalah Hal pertama yang ditunjukkan oleh Akmal.
__ADS_1
"Jadi Leo di sini sendirian maksudku nggak sama Rida dan anak-anaknya?" Senja yang bertanya.
"Iya, orang suruhan Ayah masih mencari tahu keberadaan Rida di mana. Sudah setahun, dan itu akan memakan waktu yang tidak singkat untuk mencari seseorang, kan.
"Terus sekarang kita harus gimana? Lambat laun Leo pasti akan kembali ke keadaan yang semula, kan? Dan itu pasti akan menggiring dia untuk tahu kenyataan kalau anak-anaknya sebetulnya sama aku." Senja mulai khawatir.
"Ibu berpikir kalau kamu sebaiknya menemui dia. Ya, diatur aja gimana situasinya biar seakan-akan kalian itu ketemu nggak sengaja. Dengan kondisinya yang tidak bisa melihat kamu bisa cari tahu karakter dia yang sekarang, maksud Ibu kamu bisa mencari tahu Leo yang sekarang ini sudah berubah atau belum. Berdasarkan pengalaman yang Ibu alami, seseorang yang mempunyai sifat atau karakter yang jahat, dia akan berubah ketika sudah mengalami sebuah musibah. Kenapa? Karena di saat itu, dia sudah sadar siapa-siapa orang yang akan bertahan, yang akan menetap dan siapa orang yang akan meninggalkan."
Manda menjeda ucapannya karena melihat reaksi Senja yang nampak entah berpikir atau tak mengerti dengan ucapannya.
"Jadi maksud Ibu, aku menemui dia, melakukan pendekatan, dan mencari tahu karakter dia yang sekarang begitu?"
"Iya, dengan begitu kamu akan tahu apa yang harus kamu lakukan. Kamu tahu langkah apa yang akan kamu ambil, menyembunyikan anak-anak atau justru malah mempertemukan mereka dengan ayahnya."
"Aku nggak setuju kalau itu!" sergah Akmal cepat.
"Kalau hanya untuk mencari tahu karakter Leo yang sekarang, lebih baik orang-orang suruhan aku yang mencari tahu. Jangan Senja yang terjun sendiri. Kamu nggak tahu betapa Leo menyakiti fisik dan juga hatinya Senja, masih bisa-bisanya kamu korbankan anak kita untuk kembali nemuin dia."
"Kalau aku mengorbankan dia, seharusnya aku sudah mengembalikan Senja pada Leo. Kamu, kan hanya tahu cerita jahatnya Leo ke Senja. Kamu nggak tahu cerita kebaikan Leo ketika Senja hamil."
"Jelas aja Leo baik ketika SenJlja hamil, keinginannya dan juga pencapaian yang akan terkabul."
Seperti biasa perdebatan mereka akan berbentuk panjang.
__ADS_1
"Ayah Ibu, udah, ah. "