
Senja terlihat kuat di depan ayah dan juga ibu tirinya. Namun, Senja hanyalah manusia biasa yang mempunyai titik lemah. Begitu sampai di dalam mobil, wanita itu menangis sejadi-jadinya, menumpahkan segala air mata yang sejak tadi ia tahan. Menenggelamkan kepalanya di bundaran setir adalah pilihan yang tepat baginya.
Jujur saja Senja lelah, ia lelah harus bersikap sok kuat di depan semua orang. Memasang wajah bahagia dan baik-baik saja seakan ia tidak ada beban yang di pikirkan. Ia memang bahagia dengan kehidupannya sekarang, tapi statusnya yang menjadi anak gelap tetaplah menjadi beban tersendiri baginya.
Senja ingin seperti keluarga atau manusia lainnya, yang meskipun mempunyai saudara, ataupun orang tua tiri, mereka bisa kenal atau bahkan dekat. Tapi nyatanya hal itu tidak semudah yang ia kira, kesulitan hidupnya rupanya tak hilang bersama dengan penderitaannya yang telah lama berlalu.
"Ya Tuhan, apakah aku egois dan tidak tahu diri jika kau ingin sekali permintaanku ini Engkau kabulkan? Aku hanya ingin bersama Ayah, aku ingin menikmati rasa sayang dan cinta darinya. Tapi di sini lain aku juga merasakan kehancuran di hati istrinya." Pundak Senja semakin bergetar hebat. Isakan yang ia sembunyikan begitu menyesakkan dada. Memang tak salah, beberapa orang mengatakan salah satu hal yang paling menyakitkan adalah menangis dalam diam.
Tok tok tok
"Senja, kamu masih di dalam? Kamu nggak apa-apa?" terdengar suara Akmal yang sedang memanggil anaknya. Nampak istrinya yang masih berdiri di sampingnya dengan wajah yang sulit digambarkan. Tidak ada ekspresi marah, sedih, murung, ekspresinya lebih kepada biasa saja.
Senja buru-buru mengelap air matanya dan mengatur nafas sebelum membuka pintu mobil. Ia tak mau ada satupun orang yang tahu bahwa ia sehabis menangis.
"Iya Ayah aku di dalam. Ada apa?" tanya Senja menghadap sepasang suami istri itu dengan topeng kebahagiaannya.
"Kamu habis nangis?"
"Enggak kok, ini tadi gatel aja, terus aku kucek-kucek jadi merah. Ayah sama Tante mau pulang?"
Meskipun Clara masih enggan berbicara dengannya, Senja tetap berusaha untuk menganggap wanita itu ada dan berusaha untuk bersikap baik padanya. Karena ia tahu Clara sebenarnya orang yang baik, hanya saja hatinya masih terluka.
"Iya Ayah mau antar Tante Clara pulang dulu. Kamu langsung berangkat kerja? Ini udah hampir telat, kenapa kamu nggak balik-balik?"
"Ya ini aku tadi juga mau langsung balik, tapi ada telepon jadi aku terima telepon dulu. Aku langsung balik, ya. Ayah sama Tanye hati-hati. Dan, ya aku titip salam untuk adikku, em siapa namanya?"
__ADS_1
"Karang. Dia beberapa hari yang lalu juga ikut...."
"Pa, ayo kita pulang."
Entah apa yang membuat Clara menyela ucapan suaminya. Entah ia yang mulai kepanasan, ia yang tak mau bicara terlalu lama dengan Senja atau ia belum mau Akmal menceritakan kehidupannya Karang, entahlah.
"Ya udah Ayah pulang dulu, ya. Nanti akan Ayah sampaikan salam kamu buat Karang. Hati-hati di jalan."
Kasihan Tante Clara, bertahun-tahun hidup dengan Ayah tapi Ayah malah memikirkan yang lain.
Senja lalu kembali masuk mobil begitu Akmal dan Clara meninggalkan parkiran restoran. Wanita itu mengemudikan mobilnya dengan cepat karena waktu yang begitu mepet dengan jam kerja. Waktu memang terasa kejam bagi Senja. Ia terus berjalan tanpa henti, tidak memberikannya kesempatan untuk lebih berlama-lama dengan orang-orang yang ia cintai.
Di tengah perjalan, ponsel yang berada di tas mendayu-dayu ingin diraih. Senja tidak menerima panggilan tersebut karena masih berada di jalan. Namun, karena ponselnya yang tidak berhenti berdering berkali-kali membuat ia terpaksa menggerakkan tangannya untuk mengangkat telepon itu.
"Ya Tuhan, aku nabrak mobil orang. Gara-gara panggilan sialan ini aku jadi nggak lihat lampu merah menyala." Senja bergumam seraya kembali mengabaikan ponselnya yang masih berdering dan memasukkannya ke dalam tas.
Di saat Senja keluar dari mobil, di saat itu juga pemilik mobil yang ia tabrak menghampiri dirinya. Keduanya nampak sama-sama terkejut karena kembali dipertemukan yang ketiga kalinya dalam suasana tidak menyenangkan.
"Kalau nggak bisa bawa mobil seenggaknya pakai supir," seloroh Karang yang marah karena mobilnya tertabrak dari belakang.
"Aku tidak tahu kenapa Tuhan selalu mempertemukan kita dalam suasana yang tidak enak, tapi aku benar-benar tidak sengaja, aku minta maaf. Aku akan tanggung jawab, kau bisa bawa servis mobilmu, aku yang akan tanggung biayanya."
"Kau menghinaku? Untuk urusan servis mobil saja tidak perlu meminta uangmu. Aku bisa melakukannya sendiri."
"Iya aku tahu, aku paham, tapi aku tetap bersalah. Satu-satunya caraku mempertanggung jawabkan kesalahanku adalah dengan memperbaiki mobilmu kembali, kan? Aku tahu kau bisa memperbaiki mobilmu sendiri, bahkan kau mampu beli mobil lagi kalau kau mau. Aku tahu itu, tapi ini adalah bentuk tanggung jawab dari aku. Ayo kita ke bengkel langgananmu."
__ADS_1
"Nggak perlu."
"Kalau kau nggak minta pertanggungjawaban, kenapa kau turun mobil? Seharusnya kau diam aja di dalam mobil nggak perlu turun nemuin aku." Senja yang berusaha untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, namun tidak digubris dan merasa pemuda di depannya itu mengajaknya berdebat, menjadikan dirinya kesal sendiri.
"Ya mau ngasih tahu lah, kalau lagi di jalan itu fokus, fokusnya di jalan. Jangan rahanya di sini tapi mata berkeliaran kemana-mana."
"Baiklah, saran diterima. Kalau begitu mari kita lanjutkan perjalanan kita masing-masing."
"Siapa yang nyuruh? Bukannya kau tadi bilang kalau kau mau mempertanggung jawabkan kesalahanmu?"
"Bukannya tadi aku juga sudah menawarkan bahwa akan membiayai servis mobilmu, tapi kau menolakkan lalu bertanggung jawab apalagi yang kamu minta."
"Antar aku ke kantor!" belakan
Tanpa persetujuan dari Senja, Karang mengitari mobilnya dan duduk di kursi penumpang bagian belakang. Ia menjatuhkan bokongnya di sana dengan tenang dan santai.
"Turun kau! Aku tidak mau mengantarmu ke kantor, aku juga harus kembali ke kantor, aku juga ada pekerjaan. Aku sampai menabrakmu aku karena aku juga sedang buru-buru." Senja langsung melayangkan protesnya begitu masuk ke dalam mobil.
"Salah satu bentuk tanggung jawab seseorang atas kesalahannya adalah dengan menuruti kemauan korbannya, maju sekarang lampu sudah hijau."
Yang benar saja, sedetik setelah Karang mengatakan itu, banyak terdengar klakson dari belakang mereka nampak tak sabar menunggu mobil Senja melaju.
"Tuh, kan apa aku bilang? Ayo jalan!"
Dengan sangat terpaksa Senja melajukan mobilnya. Sesekali pandangannya ia arahkan pada kaca spion yang berada di dalam mobil. Melihat wajah karang yang nampak tersenyum menang atas pertikaiannya kali ini membuat dirinya semakin kesal.
__ADS_1