
Leo berdiri dengan mengerutkan kening ia memandang Senja seakan meminta penjelasan padanya bahwa apa yang ia dengar tadi tidak salah.
"Om Leo! Om Leo ada di sini, jadi yang ngantar Mama pulang itu om Leo?" Alana dengan genitnya menarik-narik baju Leo. " baju Om basah hujan-hujanan, ya tadi?"
Leo masih bingung, namun dalam kebingungannya itu, ia masih bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. Ia kembali berjongkok dengan menatap anak kembar yang berada di depannya. Memperhatikan dan memandang lekat kembali Alan dan Alana.
"Om kenal sama Mama?" Alan melempar pertanyaan.
Leo tak langsung menjawab, ia malah mendongak menatap Senja dengan pandangan masih sama seakan meminta penjelasan.
Senja dengan perlahan membuang muka seraya menggigit bibirnya. Ada perasaan campur aduk saat ini yang dirasakan oleh Senja. Rasa takut, was-was, khawatir, cemas, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Senja tak bisa memisah-misah antara rasa-rasa yang ia rasakan itu.
"Iya, Om Leo kenal sama Mama. Kalian habis dari mana?"
"Dari mall dong, tadi niatnya mau nunggu Mama, tapi Mama kelamaan pulangnya. Jadi kita perginya sama oma. Masuk dulu yuk, Om kita main." Alana yang bicara.
"Alana, Om Leo ada urusan, Om harus..."
"Ayo kita main!" sela Leo seraya berdiri dan menggandeng kedua anaknya untuk masuk ke dalam rumah. Padahal pemilik rumah masih berada di luar semua. Tak lupa sebelum masuk rumah ia memberikan hadiah Senja tatapan yang tajam.
Manda bergegas menghampiri anaknya begitu mereka bertiga masuk rumah.
"Kenapa kamu nggak bisa kalau Leo yang antar? Kenapa kamu musti pakai embel-embel teman. Kalau tadi kamu bilang kalau Leo yang antar, Ibu nggak akan ngajak pulang anak-anak sekarang. Jadi ketahuan, kan kalau kamu menyembunyikan anak-anaknya. Habis pikir Ibu sama kamu Senja."
"Ibu tenanglah! Aku sendiri juga sedang bingung."
"Bingung? Senja, Ibu sudah mengingatkan kamu berkali-kali untuk tidak dekat dengan Leo, tapi kamu terus ngeyel kalau Leo sudah berubah. Kamu terus bilang kalau dia juga berhak tahu atas keberadaan Alan dan Alana dia juga ayahnya. Itu, kan yang kamu selalu bilang? Hayo kenapa kamu sekarang bingung? Coba jelaskan ke Leo yang terjadi sebenarnya. Ibu pengen tahu gimana reaksinya. Kamu dikasih tahu itu selalu saja ngeyel, nggak pernah nurut. Sekarang jadi bingung sendiri, kan?"
__ADS_1
"Iya, iya Ibu nanti pasti aku akan jelaskan. Lebih baik sekarang kita masuk dulu, pikiran kita itu harus tenang harus dingin. Aku yakin banget kalau Leo nggak akan melakukan apapun, Bu. Nggak akan bahwa anak-anak. Aku yang jamin, kalau memang itu nanti terjadi, aku yakin Leo nggak akan bisa bawa anak-anak."
Senja mengakhiri perdebatan itu dengan berjalan masuk ke rumah. Dengan menahan ngilu dan sakit di pergelangan kakinya seraya menahan gatal karena terkena air hujan, ia tertatih-tatih berjalan seraya terus berharap dan berdoa agar apa yang ibunya khawatirkan Tidak terjadi.
"Kamu kenapa kayak gitu jalannya?Kenapa kakinya pincang?"
"Aku tadi, tuh pakai heels jalannya cepet-cepet di atas aspal yang licin jadi aku kepleset. Terus akhirnya beberapa tubuh aku kena hujan."
"Itulah sebabnya kalau tidak pernah mendengarkan apa yang diucapkan ibunya." Manda dengan galak mengucapkan itu lalu berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah.
Senja menghela nafas dalam, tidak apa jika ibunya hampir setiap hari mengomel entah karena dirinya atau karena anak-anaknya. Ia Justru lebih senang melihat ibunya mengomel daripada marah seperti puluhan tahun yang lalu. Meskipun terlambat menikmati omelan ibunya, Senja tetap bahagia. Anaknya bisa merasakan kasih sayang dari neneknya dari mereka dilahirkan.
"Leo kamu tunggu dulu di sini, ya aku mau ambilkan baju buat kamu."
Seakan tidak terjadi apa-apa Senja berkata dengan mudah dan terlihat santai. Meskipun tatapan tajam Leo perlihatkan, Senja nampak biasa saja. Bukankah tatapan itu seharusnya menakutkan untuknya? Karena biar bagaimanapun sudah tujuh tahun ia tidak menerima tatapan seperti itu darinya.
"Om Leo mau pakai baju siapa, Ma?" Alana yang bertanya.
"Kak Bayu." Senja melanjutkan langkahnya ke dapur. Ia mencium aroma masakan yang membuat perutnya kembali lapar.
"Mama kakinya kenapa?" Alan bertanya seraya membWa tubuhnya ke arah Senja.
"Jatuh, nggak apa-apa. Nanti di urut sama Bibi juga akan enakan."
"Mama pasti hujan-hujanan, ya. Ini tangannya bentol-bentol. Ya udah aku aja yang bilang ke Bibi kalau Mama mau pinjam baju Kak Bayu." Alan melesat ke dapur.
Kini tinggallah Senja, Leo dan Alana yang sibuk memperlihatkan barbie-barbienya. Manda entah ke mana perginya wanita itu, mungkin saja ia langsung ke kamarnya.
__ADS_1
Merasa ini waktu yang tepat, Leo berdiri dari duduknya dan melangkahkan kaki ke arah Senja yang masih mematung di tempat.
"Apa ini Senja?" Leo bertanya dengan nada dinginnya. Senja seakan merasa Leo kembali seperti saat pertama kali mengenalnya.
"Leo. Aku bisa jelaskan, tapi tidak sekarang, tidak di depan anak-anak."
"Lalu kapan?"
"Besok, aku berjanji padamu besok akan kujelaskan semua yang terjadi. Sebelumnya aku minta maaf, jika di matamu aku salah."
"Jelas salah. Jelas kamu salah Senja. Aku benar-benar kecewa."
"Leo aku mohon jangan bahas sekarang. Ada anak-anak."
Tak lama dari percakapan itu, Alan datang dengan berlari membawa sebuah kaos dan juga celana pendek.
"Ini Om kaosnya, mungkin akan sedikit pendek kalau Om yang pakai."
"Terima kasih, ya. Di mana Om harus ganti baju?"
"Biar aku yang antar Om ke kamar mandi. Ayo Om! Kamar mandinya ada di dekat dapur." Alana berteriak dengan menyeret Leo ke arah dapur.
Alan menatap kepergian mereka dengan mencibir. Sementara Senja juga meninggalkan ruang tamu untuk mengganti pakaiannya.
"Om tetap ganteng meskipun bajunya sedikit ketat di pakai sama Om. Aku mau main lagi, Om temani aku dandanin barbienya." Alana terus berceloteh seraya mengalungkan tangannya di leher pria rupawan itu.
Leo memang sengaja membawa Alana ke dalam gendongannya. Pria yang sudah curiga dari awal pertemuannya dengan si kembar membuat Leo nelangsa. Ia menyesal kenapa tidak dari awal ia mencari tahu, kenapa harus menunggu berbulan-bulan baru ia tahu bahwa Alan dan Alana adalah anak-anaknya. Kenapa?
__ADS_1
"Apa, sih, Na. Masa laki-laki kamu suruh mainan berbie. Jangan mau Om, mending Om bantu aku ngerakit mobil."
Akhirnya terjadilah perebutan pria tampan yang satu-satunya berhasil memasuki rumah Senja dengan di sambut baik oleh Senja, bahkan wanita itu yang membawanya ke mari.