
Melihat mata Senja yang berkaca-kaca membuat jiwa kemanusiaan Clara sedikit tersentuh. Seandainya saja ia tahu bahwa Karang dan Clara sendiri selama ini hanya bersama dengan raga Akmal saja, hatinya tertinggal di masa lalunya.
Genggaman di tangan Clara semakin erat, jarak sepasang suami istri pun terasa tambah dekat.
"Aku tahu kamu nggak sejahat ini, kan Cla? Aku tahu kamu punya hati yang baik yang nggak akan tega untuk kembali memisahkan seorang Ayah dan anak. Yang di katakan Senja benar, kita ini keluarga. Seharusnya nggak begini."
"Tapi kamu udah mengingkari janji kamu sendiri, kenapa kamu nggak jujur sama aku dari awal? Kenapa harus ada kebohongan lagi? Kamu sekarang bisa bicara baik-baik denganku, kenapa nggak kamu lakukan sejak awal? Kenapa kamu terasa sangat sulit untuk jujur sama aku? Kamu nipu aku dua kali."
"Nggak, aku nggak bermaksud buat nipu, Ma. Aku selama ini menyembunyikan ini memang buat jaga hati kamu aja. Aku juga merasa kamu belum siap untuk tahu kenyataannya, sebahagia apapun kamu, ketika aku menyangkut Senja, kamu selalu mengubah mood kamu. Kamu lihat Senja juga dong, Ma. Dia lahir tanpa aku, nggak di terima ibunya, begitu dewasa dia dinikahkan paksa dengan Leo. Mama tahu itu, kan? Di posisi Senja nggak mudah, Ma. Dan sekarang, ketika aku dan Senja bersama, dia pun nggak minta aku apa-apa. Dia hanya minta satu jam dari dua puluh empat jam waktu ku. Kamu perempuan, perasaan kamu harusnya lebih bisa merasakan bagaimana jika kamu berada di posisinya. Biarkan semua berjalan dengan bagaimana mestinya."
"Aku cape, Pa. Kita ini udah sama-sama tua, dari awal pernikahan kita selalu bertengkar, jarang akur, sampai anak kita yang jadi korban. Aku ini pengen masa tuaku damai, nggak ada lagi masalah-masalah, beban-beban, udah cukup aku menderita, sakit hati terus setelah menikah dengan kamu. Senja memang minta waktu kamu hanya satu jam, tapi hatimu milik dia, aku dan Karang cuma punya ragamu. Dari dulu memang kita bersama, tapi aku hanya bersama dengan ragamu. Hatimu entah melanglang buana di mana. Kamu nggak pernah mencintai aku dengan hati. Lalu ketika aku butuh dicintai oleh seseorang apa aku juga harus mengorbankan perasaanku juga?"
__ADS_1
Akmal menundukkan kepala. Ia memberi nasehat pada Manda untuk tidak tenggelam dalam masa lalu, tapi ia sendiri melakukan hal itu. Tenggelam dalam kubangan penyesalan dan tidak mampu keluar sehingga ia mengorbankan keluarganya sendiri.
Dari obrolan yang Senja dengar, ia baru menyadari bahwa ayahnya juga tenggelam dalam masa lalu, sama seperti ibunya dahulu. Dan mereka juga sama-sama mengorbankan orang terdekatnya. Manda yang mengorbankan anaknya dan Akmal mengorbankan anak istrinya.
Senja menghela nafas dalam, semua orang-orang terdekatnya sama-sama terjebak dalam masa lalu. Orang-orang yang tidak bersalah pun menjadi korban karena mereka. Sekarang Senja berada di posisi yang serba salah. Ingin mempertahankan keinginannya, tapi ia sadar bahwa hal itu menyakiti istri ayahnya. Namun, jika ia memikirkan perasaan orang lain, perasaannya sendiri kembali terluka entah untuk yang ke berapa kalinya.
"Ayah untuk sementara biarkan seperti ini dulu. Aku nggak apa-apa kalau memang ini pertemuan terakhir aku sama Ayah. Biarkan istri Ayah ini berpikir dengan tenang dan hati yang damai jangan paksa dia sekarang. Aku nggak akan memaksakan kehendakku lagi sama siapapun. Aku nggak mau kalau karena keinginanku banyak orang yang akan terluka nantinya."
"Senja mana bisa seperti itu, kamu dan keluarga Ayah ini bukan pilihan. Sama dengan halnya ayah dan ibu, kamu nggak bisa milih salah satu di antara kita. Hidup itu memang pilihan, tapi ada beberapa hal yang memang tidak bisa dipilih. Dan hidup itu tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita. Semuanya sudah ada yang mengatur kita hanya menjalankan peran. Lagi pula mau sampai kapan kita akan bersitegang seperti ini terus. Kita ini manusia, makhluk sosial, tidak bisa hidup sendiri-sendiri, kita butuh keluarga."
Memang rumit, semua yang terjadi pada kehidupan Senja memang bak benang kusut yang tidak akan pernah terurai. Bagaikan benang yang terlanjur tergulung asal, semakin dipaksa terurai maka akan semakin runyam.
__ADS_1
"Tante aku permisi, ya. Maaf kalau karena aku, suami Tante jadi nipu Tante lagi. Tapi satu yang perlu tante tahu, sebagai anak dari suami Tante, aku akan menganggap tante sebagai ibuku sendiri. Kita memang tidak saling kenal, tapi aku yakin suatu saat nanti hubungan kita juga akan sama dekatnya seperti Ibu dan anak yang lainnya. Kalau aku saja bisa menaklukkan ibuku sendiri yang membenciku, apalagi Tante, itu hal yang mudah untukku."
Senja berlalu dari sana. Kepergian wanita itu diantar oleh lirikan ekor mata dari Clara. Ia tak tahu bagaimana kehidupan Senja sebelum berita pengakuan Leo beredar. Yang ia tahu hanya Senja diinginkan oleh Leo untuk dipinjam rahimnya, selebihnya ia tak tahu.
Mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Senja membuat Clara sedikit berpikir bahwa kehidupan wanita itu pasti tak mudah. Segala pahit kehidupan seperti sudah ia jalani.
"Kenapa dia di benci ibunya sendiri?" Akhirnya mulut Clara terbuka untuk menanyakan sedikit soal Senja. Entahlah, hati Clara yang sebenarnya berhati lembut dan merasa tersentuh dengan kata-kata Senja.
"Aku tahu kamu itu orang baik, orang yang berhati lembut, kamu pemaaf. Kalau kamu nggak memiliki tiga sifat itu pasti kamu udah meninggalkan aku sejak dulu, kan? Jadi, setelah Manda tahu dirinya hamil...."
Mengalirlah mudah hidup Senja saat dirinya dalam kandungan hingga saat ini. Akmal pun jujur pada Clara bahwa ia memberikan sedikit hartanya pada Senja dan Manda. Ia tahu pasti Clara akan kecewa, tapi ia tak mau lagi menyembunyikan apapun darinya. Kecuali satu, ia tak mau jujur pada Clara soal perasaannya pada Manda. Biarlah cintanya untuk Manda akan ia bawa dan simpan hingga ia berada dalam bawah tanah.
__ADS_1
"Ternyata banyak yang terluka karena kamu, Pa. Satu kesalahan kamu yang berbuntut dengan terlukanya hati banyak orang. Yang menerima dampak dari kesalahan kamu tidak hanya Manda."
"Iya, aku tahu itu sebabnya aku ingin memperbaiki semuanya sekarang. Aku nggak bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki yang sudah berlalu, tapi setidaknya biarkan aku memperbaiki semuanya. Mungkin nggak banyak yang bisa aku lakukan, hanya sekedar mengobati sedikit luka hati yang sudah pernah aku torehkan."