
Begitu matahari sudah menyapa, Senja berangkat seperti biasa. Ada yang berbeda dengan perasaannya kali ini. Hari ini adalah terakhir kali ia bertemu dengan sang Nenek. Ia benar-benar mengambil keputusan untuk pergi dari rumah demi mempertahankan cintanya dan juga mengabulkan permintaan sangat Nenek.
"Nek, aku pergi, ya. Nenek harus jaga diri dan kesehatan. Tunggu aku ke sini. Aku pasti akan ke sini lagi jika keadaan sudah membaik. Aku sayang Nenek," ujar Senja dengan mulut bergetar menahan tangis. Ia berkali-kali mencium tangan wanita tua yang sudah merawatnya dengan sepenuh hati selama dua puluh tahun ini.
"Iya, Nak. Nenek akan jaga kesehatan untuk kamu. Nenek pasti akan menunggu kamu datang ke sini." Bu Patmi mencium kening Senja lama. "Udah pergi sana! Mumpung Ibu kamu masih tidur."
Senja mengangguk lalu keluar kamar. Ia menatap pintu kamar Ibunya. Entah kenapa tangannya tergerak untuk membuka pintu kamar Ibunya. Terlihat Manda yang masih pulas di bawah selimut tebalnya. Air mata Senja jatuh begitu saja.
"Maafkan aku Ibu. Aku harus pergi, maaf aku menjadi anak durhaka. Aku berharap suatu hari nanti aku mendapatkan ampunan darimu," ujar Senja lalu menutup pintu kamar dan melangkahkan kaki dengan berat.
Sangat berat meninggalkan rumah dengan kenangan sejuta luka ini. Meskipun Senja tumbuh penuh dengan luka masih ada secuil kasih sayang yang diberikan Neneknya.
"Senja, kamu nggak ada barang lagi yang di bawa? Kalau masih ada di bawa sekalian saja. Masukkan mobil," titah Aldi saat melihat Senja yang akan berangkat ke restorannya.
"Tidak ada, Pakde. Itu aja udah cukup. Aku langsung berangkat, ya."
"Senja, kamu juga harus cari kerjaan lain. Pakde yakin pria itu akan mencarimu di restoran jika dia tidak bisa menemui mu di rumah."
"Iya, aku akan cari kerjaan lain. Pakde tenang aja. Aku berangkat."
***
Leo berangkat lebih pagi dari biasanya. Ia berencana akan menemui Senja di restoran. Sungguh tak sabar rasanya hatinya ingin segera menikah dengan gadis kecil itu.
"Sayang, aku berangkat dulu, ya. Aku mau ketemu sama klien penting," ujar Leo bohong. Ia tak mau membuat istrinya sakit hati atau berpikir yang tidak-tidak jika ia mengatakan yang sebenarnya.
"Sepagi ini? Ini masih jam delapan."
"Pertemuan kita ada di tempat yang sedikit jauh dari kantor. Ini saja aku sudah terlambat beberapa menit. Jaga diri di rumah dan jangan keluar tanpa supir." Leo mengecup singkat kening dan kedua pipi istrinya lalu beranjak dari sana.
__ADS_1
Di halaman rumah, sopir pribadi Leo sudah menunggu dan dengan sigap membukakan pintu mobil untuk majikannya. Bekerja dengan Loe tidaklah mudah. Para pekerjanya harus sigap dan tak boleh melakukan kesalahan. Sekali saja hal itu terjadi maka mereka harus menguatkan hati dan mental untuk mendapatkan amukan dari majikannya. Pria itu selalu menuntut kesempurnaan dalam hal apapun apalagi yang berhubungan dengan uang.
Setelah dua puluh lima menit duduk di mobil mewahnya, akhirnya Leo sampai di restoran tempat bekerja Senja. Masih nampak sepi karena terlalu pagi untuk datang hanya sekedar sarapan ke restoran semewah ini.
Kedatagan Leo disambut oleh salah satu karyawan pria. Meskipun sedikit terkejut sepagi ini sudah ada customer, ia tetap berusaha menetralisir kegugupannya dan menyambut Leo dengan baik.
"Selamat pagi, Pak. Selamat datang di.."
"Panggilkan Senja," potong Leo dengan wajah dinginnya.
"Baik, Pak," jawab pemuda itu lalu pergi dari sana.
Pemuda itu berjalan ke belakang meskipun banyak pertanyaan yang bergelantungan di kepalanya. Namun apa daya, ia tak mungkin juga bertanya pada pria itu. Mungkin itu saudaranya Senja, pikir pemuda itu tak mau ambil pusing.
"Nja, ada yang cari kamu di depan. Pakai jas, rapi, ganteng. Siapanya kamu? Sepagi ini udah ke sini buat cari kamu doang."
Ucapan pemuda itu membuat Daren menoleh seketika. Ia rela meninggalkan pekerjaannya sesaat dan berjalan menghampiri kedua manusia itu.
"Iya, kayaknya kalau di lihat dari penampilannya pengusaha kaya," jawab pemuda itu.
Senja tiba-tiba saja berkeringat dingin. Ia sudah menebak siapa yang mencarinya sepagi ini. Ia jadi teringat dengan ucapan Aldi yang memintanya untuk mencari pekerjaan lain.
"Senja, kenapa kamu jadi kayak ketakutan dan gugup begini? Ada apa?" Daren bertanya dengan memegang pundak kekasihnya dan menghadapkan gadis itu ke arahnya.
"Nggak, Kak. Aku nggak apa-apa. Aku temui dia dulu, ya."
"Siapa yang cari kamu sepagi ini?"
"Kan belum ketemu, aku juga nggak tahu siapa, Kak. Aku ke sana dulu, ya."
__ADS_1
Daren merasakan keanehan. Entah dari mana datangnya dan apa penyebabnya. Daren sendiri juga bingung. Dari pada menerka-nerka siapa orang yang mencari kekasihnya, ia pun mengikuti langkah Senja dan mengintipnya dari jauh.
"Selamat pagi, maaf ada perlu apa cari saya?" tanya Senja sedikit takut. Hal itu ia tunjukkan dari gerak jemarinya yang terus memelintir bagian bawah bajunya.
Leo menurunkan kaca mata hitamnya. Menampilkan senyum termanisnya dan meminta Senja untuk duduk di kursi seberangnya.
"Maaf, Pak. Saya sedang bekerja jadi.."
"Duduk saja, tidak akan ada yang berani menegurmu meskipun dia adalah pemilik restoran ini. Santai saja, duduk!" pinta Leo lagi.
Mendengar penuturan Leo membuat Senja berpikir bahwa orang ini adalah orang yang berpengaruh dalam dunia bisnis. Bisa jadi pria ini adalah raja bisnis dari segala bisnis, batin Senja menerka-nerka.
Senja dengan ragu duduk di kursi yang di tunjuk oleh Leo. Tangannya masih tetap sama, masih terus bergerak memilin bajunya. Tatapannya ia arahkan pada halaman restoran yang begitu luas. Ia tak berani menatap mata Leo yang memancarkan ketajaman bak pisau yang baru saja di asah.
"Kamu pasti bingung dengan semua ini. Sudah diberi tahu Ibumu soal kedatangan ku ke rumah kamu kemarin?" tanya Leo menegakkan tubuhnya dan meletakkan kedua tangannya di atas meja.
"Belum. Memang ada tujuan apa Anda datang ke rumah saya?"
Leo tersenyum hangat, namun sangat terlihat menakutkan bagi Senja.
"Nggak afdol kalau kita nggak kenalan dulu, Leo. Pemilik Cahaya grup." Leo menyodorkan tangan untuk bersalaman dengan Senja.
"Saya rasa Anda sudah mengetahui nama saya. Tidak perlu basa-basi, Pak. Langsung saja ke tujuan Anda." Senja memberanikan diri.
"Saya ingin menjadikan kamu sebagai istri saya."
Mendengar ucapan Leo membuat Daren memajukan langkahnya sejengkal. Namun, ia urung melanjutkannya karena jawaban Senja.
"Kalau saya tidak mau?" tanya Senja dengan menampakkan wajah berani tapi dengan gemuruh jantung yang tak karuan. Tangannya pun masih memilin ujung bajunya. Seandainya saja Leo tahu apa yang sebenarnya di rasakan Senja, mungkin saja pria itu sudah terbahak-bahak.
__ADS_1
"Tidak ada yang bisa menolak kemauan saya."
"Tapi saya bisa."