Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
67. Salah Tingkah


__ADS_3

"Maaf, Pak. Sepertinya saya salah ambil berkas. Hari ini harusnya meeting bersama Pak Frans."


"Tidak, berkas yang kamu ambil sudah benar. Kita hari ini meeting dengan Pak Leo."


Ya, nama Leo memang banyak, tapi bukankah nama lengkap dimiliki oleh satu orang, tidak mungkin nama lengkap yang sama dimiliki oleh dua orang, kan? Setidaknya itulah yang ada di pikiran Senja.


"Ayo tunggu apa lagi?"


"Ah, iya Pak."


Ya Tuhan, apa benar ini Leo yang akan kutemui ayah dari anak-anakku?


Jantung Senja kini sudah mulai bergemuruh. Tujuh tahun tidak bersua dengan pria itu membuat Senja membayangkan pertemuannya nanti pasti akan nampak canggung, begitu pikirnya.


Wanita itu diam seribu bahasa selama dalam perjalanan. Ia sedang mengatur kata demi kata agar menjadi kalimat untuk nanti bertemu dengan pria itu. Padahal dia tahu pertemuannya ini nanti adalah untuk membahas pekerjaan, bukan membahas masalah pribadi. Namun, entah kenapa ia begitu pusing memikirkan kalimat yang ia obrolkan nanti.


Senja melirik jam tangan yang ada di tangan kirinya. Meeting nanti pasti akan berjalan sampai makan siang, bahkan bisa dipastikan nanti makan siang dirinya dan juga atasannya pasti bersama dengan Leo.


Makan siang? Sama Leo, astaga, bahkan aku nggak pernah membayangkan ini. Kenapa jadwal meeting harus di ubah sekarang?


Senja semakin pusing. Dan pusingnya itu ternyata tidak mampu menghentikan waktu untuk terus berjalan. Kepalanya semakin berdenyut ketika kakinya menampakan halaman restoran.


Wanita itu berusah merelaks-kan dirinya dengan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia melakukan itu berulang-ulang sampai dirinya merasa tenang.


Deg deg deg


Mendadak situasi di restoran itu begitu hening, sunyi dan senyap. Senja berpikir begitu karena detak jantungnya sangat terdengar jelas di telinganya. Apa lagi kini ia sedang berhadapan dengan Leo Hardana. Rasanya ia ingin menghilang dari muka bumi ini.


"Maaf sekali Pak, kami datang terlambat. Mudah-mudahan tidak mengganggu kerjasama kita."


"Sama sekali tidak, Pak. Kami juga baru sampai kok tadi. Asisten Bapak baru?"


"Oh tidak Pak. Ini sekretaris saya. Kebetulan asisten saya berhalangan untuk masuk kantor hari ini, jadi saya menunjuk sekretaris saya untuk mendampingi saya. Perkenalkan namanya Senja."


Leo mengangguk lalu mengulurkan tangannya seakan ingin berkenalan. Dengan ragu Senja mambalas uluran tangan tersebut.


"Senja."

__ADS_1


Leo mengangguk, "Bisa kita mulai sekarang?"


"Bisa, Pak."


Sepanjang meeting berlangsung, Leo memperhatikan Senja, menatapnya dengan lekat, teduh dan sesekali menyunggingkan senyumnya. Ia kagum sekali dengan wanita itu, bagaimana bisa wanita yang sudah tujuh tahun terpisah dengannya dan kini di pertemukan kembali dalam keadaan berbeda.


Senja yang sekarang berbeda sekali. Dari segi penampilan, gaya bahasa, tutur katanya, semuanya berbeda. Hanya satu yang tidak berubah dari wajah Senja, kecantikan yang dimilikinya. Di mata Leo kecantikan Senja tetap sama meskipun penampilannya kini sudah berubah menjadi dewasa.


"Bagaimana, Pak?" tanya Senja di akhir penjelasannya.


Leo tak bergeming. Namun, tatapannya masih intens ke arah Senja. Wanita itu seketika gugup dan merasa gerah. Sejak tadi ia berusaha untuk tidak menggubris pandangan pria itu, namun bukannya sadar, pria itu malah semakin menatapnya.


"Maaf, Pak. Bagaimana? Apa kita me--."


"Iya, terima saja. Mana kontrak kerja sama kita."


Fais melipat keningnya, tidak biasanya atasannya itu menerima kontrak kerja sama tanpa banyak bertanya. Fais mengikuti gerak pandang Leo. Sedetik kemudian, ia memahami situasi ini. Fais memang pria yang tergolong cepat tanggap dalam memahami apapun.


Keringat dingin mulai terasa di kening Senja. Ia sadar sejak tadi di tatap tanpa jeda oleh Leo. Ia hingga kini pun sedang berusaha keras untuk bersikap biasa saja meski jantungnya terasa ingin meledak. Ia tak tahu apa yang sedang ia rasakan, padahal dahulu tidak seperti ini. Tapi sejak tadi saat mendengar namanya saja ia terasa gugup.


Mungkin yang membuat perasaannya berbeda adalah percakapan antara keduanya tujuh tahun yang lalu. Ia masih ingat sebelum ia pergi dari rumah sakit,


"Ya kalau aku ganteng lucu, dong," jawab Senja terkekeh menutupi kegugupannya.


"Tapi serius, kamu makin cantik. Oh, ya gelang dari aku masih ada?"


"Masih, kenapa? Nggak aku pakai, tapi aku bawa ke mana-mana." Senja merogoh tasnya dan mengambil gelang yang berhias bunga dan namanya. "Nih, masih ada, kan?" Senja menjereng gelang pemberian pria di depannya.


"Kenapa nggak dipakai? Itu, kan nama kamu, bukan nama aku. Orang nggak akan tahu kalau gelang itu pemberian dari aku."


"Iya, sih. Ya udah aku pakai."


"Aku pakaikan." Leo merebut gelang itu dan memasangkannya pasangan pergelangan tangan Senja. "Bagaimana kalau kita jadi teman? Kalau mau, sih."


"Iya." Senja menjawab dengan satu kata dengan wajah memerah.


"Tapi aku mau kita berteman dengan tanpa komunikasi. Aku mau ketemu sama kamu ketika aku sudah memperbaiki diri."

__ADS_1


Sepakat untuk berteman tidak membuat mereka sering bertemu, justru mereka lebih memilih untuk tidak berkomunikasi karena memfokuskan diri untuk memperbaiki diri sendiri.


"Lima menit lagi jam makan siang, bagaimana kalau kita makan bersama sekalian?"


"Boleh, Pak. Dengan senang hati," jawab atasan Senja.


Senja seketika terbatuk-batuk. Dengan sigap Leo mendorong minumannya ke arah Senja.


"Minum!" ujar Leo menatapnya dengan tatapan mematikan.


Senja menegak minuman yang di sodorkan pria itu. Senja merutuki diri sendiri karena ia merasa kegugupannya bukannya hilang tapi malah semakin merajau diri.


"Maaf, Pak saya izin ke toilet sebentar." Senja tak tahan, lebih baik ia menghabiskan waktu di tempat dingin itu dari pada menahan panas karena gugup.


Senja berjalan dengan cepat, bahkan langkahnya lebih pantas disebut berlari dari pada berjalan.


"Huh, akhirnya. Ya Tuhan, tidak tepat sekali pertemuan kami."


"Apa yang membuat tidak tepat? Apa kamu berharap pertemuan kita di luar pertemuan bisnis?"


"Leo kamu ikutin aku?"


"Iya, kenapa sih kok gugup banget kelihatannya? Udah lama kita nggak ketemu, apa kabar?"


Beberapa orang yang berlalu lalang di kamar mandi melirik mereka aneh. Bukannya memang aneh? Karena kamar mandi bukanlah tempat yang tepat untuk membuka sebuah obrolan.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik."


"Dan makin cantik."


Glek!


Senja menelan ludahnya dengan sudah payah. Sejak pertemuannya tujuh tahun yang lalu, kenapa ia merasa Leo begitu berubah. Dirinya yang terkenal dengan jual mahal dan tak pernah memuji orang, kini secara terang-terangan memuji dirinya.


"Semua wanita cantik."


"Cantik mereka sama, kamu beda. Cantik wanita lain karena materi, kamu dari hati."

__ADS_1


Tidak ada wanita yang tidak tersipu jika mendapat pujian seperti itu. Begitu pula Senja. Wanita yang menolak menikah dengan siapapun itu nyatanya juga bisa salah tingkah dan memerah ketika mendapat sanjungan.


__ADS_2