
Leo segera bangkit dari setengah tengkurapnya. Mereka berdua nampak salah tingkah. Tak berselang lama terdengar langkah kedua anaknya yang masuk ke dalam kamar.
"Om Leo ke mana aja? Aku sama Alan kangen tahu. Itu kenapa kok nafasnya kayak habis lari?" tanya Alana bingung.
"Om tadi habis ngapain?" tambah Alan.
Mampus.
Kata itulah yang muncul pertama kali dalam hati Leo. Sebuah kesalahan kecil yang berdampak besar, lupa menutup pintu kamar Senja adalah kesalahan terbodoh di sepanjang sejarah kehidupan Leo.
"Ha? Em memang iya Om habis lari. Om baru saja sampai sini. Dari teras sampai ke lantai dua Om lari, makanya ngos-ngosan."
"Terus tadi ngapain?" Alan belum mendapatkan jawaban. Ia tak akan pernah pergi dari sana selagi apa yang ia tanyakan belum terjawab.
"Bersihin ini ada sedikit kotoran di mata Mama. Itu aja kok."
Alana memandang Leo dengan seksama, ia tak berucap, hanya diam saja. Namun pandangan mata yang ia lempar seakan mengintimidasinya.
"Om bohong."
"Nggak. Kenapa harus bohong? Tanya saja sama Mama." Leo mulai gugup.
Dahi mulusnya mulai dihiasi dengan setitik keringat yang tiba-tiba muncul. Ditambah pandangan kedua anaknya yang masih berpusat padanya.
"Kenapa kalian melihat Om seperti itu? Ganti baju dulu sana."
__ADS_1
"Tuh, kan bohong," sahut Alana. "Kata Mama kalau mau melihat orang itu jujur apa nggak sama kita, kita hanya perlu memandangnya setelah dia mengucapkan sesuatu. Jika dia gugup dan kembali mengucapkan sesuatu lebih dulu maka itu artinya dia bohong dan itu sekarang terjadi pada Om Leo."
"Ah kalian ini, nggak semua begitu. Jangan di dengar semua apa kata Mama. Nggak semua yang di dengar Mama benar, kan?"
"Tapi tiba-tiba berkeringat setelah menjawab adalah ciri khas seseorang ketika berbohong," sahut Alan yang semakin memojokkan Leo.
Senja hanya pura-pura bodoh dengan melirik ke sagala arah. Ia membiarkan Leo berjuang sendirian menjawab pertanyaan dari kedua anaknya, kekesalan yang belum usai ditambah lagi dengan kegiatan melelahkan namun mengenakkan itu membuat Senja perlu memberikan pelajaran pada pria itu.
"Anak-anaknya Mama yang pinter, yuk kalian ganti baju dulu, yuk. Mau Om bantu."
Alan dan Alana saling tatap sesaat lalu sedetik kemudian mereka kompak menggelengkan kepala. Mereka melipir pergi dengan pertanyaan yang masih bergelantungan di kepala.
"Menurut kamu tadi Om Leo ngapain Mama? Masa bersihin mata yang ada beleknya sedekat itu? Mana aku lihat tadi ada kagak lipstik gitu di sekitar mulut Om Leo," bisik Alana seraya terus berjalan keluar kamar.
Mereka memutuskan untuk berjalan lebih cepat setelah obrolan singkat yang membuat jalan mereka lambat seperti siput.
Hembusan nafas lega terdengar begitu saja di mulut Leo saat tubuh mereka tak lagi nampak di kamar itu. Memejamkan mata sesaat lalu menoleh pada wanita yang mengatupkan mulut menahan tawa.
"Ketawa aja kalau ketawa," ujar Leo sinis.
"Salah sendiri main nyosor aja, kayak nggak punya dosa hidupnya. Habis menghilang satu bulan lebih sekalinya ketemu minta yang lebih."
"Tapi kamu senang, kan? Nggak usah bohong, tuh muka udah merah kayak tomat."
"Bibir kamu juga ada merah-merahnya."
__ADS_1
Mendengar ucapan Senja membuat Leo refleks meraba bibirnya. Ia melihat bibir wanita itu yang sedikit ada warna merah karena lipstik. Ia langsung berdiri dan berjalan menuju meja rias yang tak jauh dari ranjang.
"Kamu ngapain, sih sakit pakai lipstik segala?" protes Leo begitu melihat lipstik Senja tinggal di mulutnya.
"Ya biar nggak kelihatan pucat-pucat amat. Lagian lipstiknya tipis, yang nempel di situ juga dikit. Yang salah, kan kamu, kenapa jadi nyalahin aku? Nggak ada yang nyuruh kamu buat nggak senonoh kayak tadi."
"Tapi, kan kamu tadi bales, ya artinya kamu juga seneng dong, kamu juga menikmati apa yang aku beri."
Senja membuang muka seketika. Leo yang membersihkan mulutnya seraya melirik wanita itu nampak tersenyum menang atas perdebatannya. Tak apa ia terlihat kalah di depan anak-anaknya, tapi yang penting mengalahkan Senja adalah sebuah kemenangan yang besar baginya.
Leo kembali membawa tubuhnya ke ranjang milik Senja. Kembali mendudukkan diri di sana. Senja berusaha duduk begitu pria itu kembali ada di dekatnya. Badan yang tadinya begitu lemah mendadak memiliki tenaga setelah adegan sedikit panas membakar adrenalinnya.
Senja menatap aneh Leo yang juga menatapnya dengan intens. Tatapan yang pria itu lempar nampak berbeda dari biasanya. Entah apa yang membuat berbeda, Senja belum tahu pasti penyebabnya.
"Senja aku mau bicara serius." Ucapan Leo tentu saja membuat siapapun yang mendengarnya dah dig dug ser. Senja menggeser tubuhnya sedikit saking gugupnya.
"Apa?"
"Mau Sampai kapan hubungan kita ini nggak jelas? Kita ada yang mengikat, anak yang kamu besarkan adalah anakku. Aku sudah pernah bilang kalau aku cinta sama. Aku juga pernah bilang kalau aku nggak masalah jika nggak langsung kamu jawab, aku sabar menunggu, tapi bukan berarti kamu tarik ulur begini. Kamu sudah terlalu lama menggantung perasaanku. Bukannya aku nggak sabar, tapi aku juga butuh kejelasan, Senja. Aku juga mau ikut merawat dan menyaksikan tumbuh kembang anak-anak kita. Aku mau memberikan rasa kasih sayangku kepada mereka tanpa jeda. Aku juga mau dunia tahu kalau aku papanya. Aku sedih Senja, ketika aku harus pulang dari sini aku menikmati sendirian lagi, sedangkan sebenarnya aku punya anak."
"Leo kamu tahu sendiri keadaan keluargaku, kan? Aku tidak bermaksud untuk menggantung perasaan kamu. Tapi kamu tahu sendiri keluargaku belum utuh. Aku juga mau menikah sama kamu, tapi jika salah satu keluarga aku ada yang nggak hadir aku nggak mau, Leo. Hingga saat ini Karang belum mau, dia belum bersedia ketemu sama aku. Karang udah berubah menjadi lebih baik, jauh lebih baik malah, tapi kehadiran aku belum diterima dia. Bersabarlah sebentar lagi sampai aku mendapatkan hatinya. Aku mau di hari pernikahan kita nanti itu lengkap. Ada Ayah, Ibu, ada keluarga Ayah. Aku hanya menunggu saat itu tiba, saat di mana Karang mengenalku sebagai kakaknya. Bukan sebagai wanita yang dia anggap Kakak."
Mencurahkan isi hati yang selama ini ia simpan sendiri membuat Senja teriris perih. Matanya berembun dan hendak meluruhkan cairan bening dari kedua sudut indra penglihatannya.
Bukan hal yang mudah bagi Senja untuk menahan hasrat yang sama seperti Leo. Cinta yang tumbuh seiring berjalannya waktu dan juga kebersamaan mereka yang selama ini sering terjalin membuat Senja pelan-pelan melabuhkan hatinya pada sosok Leo.
__ADS_1