
Ya, memang benar, Senja mengenal Leo hanya jahatnya saja waktu itu, ia sangat membenci Leo, benar-benar membencinya. Namun, lambat laun mata Senja terbuka, sisi lain dari Leo nampak di matanya.
Memang benar apa yang Leo katakan, cinta Leo terhadap istrinya nampak nyata. Semua orang di rumah itu bisa melihatnya.
"Tapi, kan ada anak-anak mu yang dibawa Rida. Ya, seenggaknya kamu menahan Rida untuk anak-anak kamu dong, kamu mendapatkan itu tidak mudah, kan? Kenapa kamu melepas anakmu begitu mudah? Apa harga dirimu jauh lebih penting daripada anak-anakmu?"
Leo menghela nafas panjang, "Bukan karena harga diri. Aku membiarkan Rida membawa mereka, karena aku merasa dia lebih bisa merawat anak-anak daripada aku, kan? Aku ini buta, mungkin aku bisa membayar baby sitter untuk anak-anakku, tapi aku tidak bisa melihat perkembangannya. Aku tidak tahu bagaimana mereka memperlakukan anakku, kan? Bukannya itu jauh lebih menjadi beban pikiran aku nantinya. Lagi pula aku masih normal, aku masih bisa menikah dan memiliki anak nantinya. Sedangkan Rida, selamanya dia akan hidup sendiri kalau anak-anak aku bawa. Apa kamu keberatan kalau anak-anak dibawa sama Rida?"
"Aku keberatan atau tidak, tidak akan berpengaruh apapun, kan? Sudah ada perjanjian tertulis di antara kita kalau aku tidak akan mengganggu keluarga kalian lagi. Kalau aku memaksakan kehendakku, nanti aku malah nyusahin orang-orang."
Perbincangan itu terhenti karena seorang dokter membuka pintu.
"Selamat siang, Pak Leo. Sudah siap untuk dibuka perbannya?"
"Hari ini kamu buka perban?" Entah kenapa saja terkejut dengan penuturan dokter itu.
"Iya, kenapa? Kayak nggak pernah lihat orang buka perban aja kamu."
"Bukannya gitu, kok bisa pas banget sama datangnya aku gitu, loh maksudnya."
Beberapa detik berikutnya, tangan dokter laki-laki itu mulai bekerja membuka lapisan perban yang tidak terlalu tebal.
Seperti yang Leo rasakan sebelum operasi, ia tak berharap banyak kali ini operasinya akan berhasil. Namun hadirnya Senja membawa setitik harapan itu muncul, hanya setitik. Tidak lebih.
Senja tetap berdiam diri di sana, tidak ada niatan untuk pergi atau setidaknya memanggil Fais, karena biar bagaimanapun pria itu adalah pria kepercayaan Leo.
"Buka matanya pelan-pelan, jangan dipaksa, ya, Pak."
Leo hanya menggangguk, kelopak matanya ia buka perlahan. Semuanya masih buram, bahkan saat matanya terbuka sepenuhnya semuanya pun masih terlihat samar.
Leo hampir berucap bahwa ia hanya melihat keburaman saja, semuanya terlihat samar. Ia tak bisa melihat dengan jelas apa-apa yang ada di sekitarnya. Namun, mulutnya urung terbuka, karena dengan perlahan Leo bisa melihat semuanya dengan jelas.
Dinding yang bercat putih, dokter pria gemuk yang berkacamata, pakaian pasien yang ia kenakan, ranjang yang ia duduki dan
__ADS_1
"Senja." Leo berucap dengan mata yang berbinar.
Tak ia sangka, orang pertama kali yang ia lihat setelah kegelapan adalah wanita yang melahirkan anak untuknya. Wanita kecil yang mengubah sebagian hidup dan juga pola berpikirnya.
"Kamu bisa lihat?" Senja bertanya dengan senyuman yang begitu manis. Bukan manis yang dibuat-buat, tapi wanita itu memang terlihat manis saat ini.
Leo tak mampu berucap, bahkan untuk menekan ludahnya saja ia kesusahan. Matanya masih tertuju pada sosok Senja yang berada tak jauh darinya. Melihatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Ya Tuhan, dia Senja, kan? Satu tahun tidak bertemu, dia tambah cantik, dia terlihat manis dengan jepitan kecil di rambut panjangnya. Dressnya yang tertutup membuatnya semakin anggun. Ada apa denganku? Ku mohon Tuhan jangan buat jantungku berhenti sekarang.
"Leo. Apa sekarang penyakitmu pindah ke telinga?" sindir Senja yang pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban.
Leo gelagapan seketika, ia tiba-tiba saja salah tingkah. Meraba tengkuknya adalah salah satu kebiasaan Leo ketika dirinya sedang gugup.
"Bapak bisa melihat dengan jelas?"
"Bisa, Dok, Bisa. Saya sudah bisa melihat, terima kasih."
Setelah kepergian dokter pria itu suasana kembali hening. Leo sungguh tak tahu apa yang harus saya bicarakan dengan Senja. Menanyakan hal apapun ia juga bingung. Entahlah ia merasa otaknya sedang buntu saat ini.
"Leo."
"Senja."
Mereka saling memanggil dalam waktu bersamaan.
"Mau ngomong apa?" Untuk kedua kalinya mereka mengucapkan kalimat yang sama dan dalam waktu yang sama.
Mereka tertawa bersama karena sejak tadi seakan sudah membuat janji akan mengucapkan kalimat apa.
"Kamu duluan." Sekali lagi mereka mengucapkan dua kata itu dengan bersamaan.
Untuk yang kedua kalinya mereka tertawa kembali. Namun, tawa yang kedua ini hanya sesaat saja untuk Leo, karena ia terpana melihat Senja yang tertawa sedikit lepas. Sejak pertama kali bertemu dan mengenal Senja, tak pernah ia melihat tawa Senja yang seperti ini.
__ADS_1
Selama satu tahun lebih hidup satu atap dengan Leo, pria itu selalu melihat wajah murung, sedih dan juga wajah berani. Tak pernah sekalipun Leo melihat Senja yang tertawa seperti ini, meskipun ketika wanita itu meminta sesuatu dan Leo dengan segera mengabulkannya, ia tak pernah melihat tawa Senja.
"Ah cape aku ketawa," ujar Senja memegangi perutnya.
Sedetik setelah Senja berucap, Leo segera memasang wajah gagahnya dan juga wajah kejamnya seperti biasa. Jangan sampai Senja menyadari bahwa ia baru saja mengagumi senyumnya.
"Khem. Fais tadi mana?" Leo bertanya untuk menutupi salah tingkahnya.
"Faiz, ya yang laki-laki sama kamu itu?"
Leo hanya mengangguk.
"Tadi, sih keluar, ya pas aku masuk. Nggak tahu ke mana. Mau aku carikan?"
"Nggak usah," jawab Leo cepat.
Canggung. Adalah gambaran yang pas untuk situasi yang sekarang menyelimuti mereka. Dua manusia yang kini berada di satu tempat yang sama nampak berlomba-lomba untuk membungkam mulutnya. Yang wanita mengatupkan mulutnya, yang pria menutupi salah tingkahnya dengan menetap ke segala arah.
"Kamu kerja di mana?" Pertanyaan yang tidak penting memang, tapi setidaknya ada obrolan yang mereka bahas.
"Kerja?"
Kenapa dia jadi nanya aku kerja di mana? Mana ada aku mikir jawaban untuk pertanyaan ini. Aku harus jawab apa?
"Senja."
"Iya. E nggak kerja, di rumah aja. Aku bilang, kan tadi kalau ibuku sakit dan baru saja operasi. Jadi selama ini aku hanya merawat dia."
"Masih berhubungan baik dengan ayahmu?"
"Iya, memang harus musuhan? Kalau kata Bunda Inul itu, masa lalu biarlah masa lalu. Jangan kau ungkit jangan ingatkan aku." Senja bersenandung merdu menyanyikan penggalan lagi dangdut yang dibawakan oleh penyanyi terkenal.
Sungguh Leo ingin tertawa melihat cinta yang bernyanyi. Suaranya tidak buruk, bahkan terdengar sedikit merdu. Hanya saja, ia sedikit aneh melihat tingkah Senja yang konyol.
__ADS_1