
Clara sudah sampau di restoran di mana ia dan Senja sepakat untuk bertemu. Baru beberapa menit ia duduk di salah satu kursi di sana, sudah nampak Senja yang datang dengan kaki yang terpincang.
"Selamat pagi, Tante. Maaf aku sayang terlambat. Apa Tante sudah menunggu lama?" ujar Senja menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
Tanpa rasa sungkan ataupun perasaan takut, Senja dengan mantap mencium punggung tangan wanita itu. Clara sedikit terkejut dan meremang saat Senja melakukan penghormatan itu.
"Saya baru datang juga. Kakimu kenapa?"
"Oh ini keseleo kemarin. Nggak apa-apa, udah mendingan." Senja duduk di hadapan Clara. Mereka berhadapan dengan meja yang memisahkan mereka.
"Ini minumnya. Mudah-mudahan kamu suka, saya nggak mau obrolan kita jadi tertunda karena kamu pesan minuman. Kamu nggak apa-apa, kan kalau menghabiskan waktu dengan saya seharian? Kamu nggak ada janji yang kamu lupakan?"
"Iya, aku free hari ini. Kita bebas ngobrol. Ada apa, Tante? Apa yang membuat Tante mengajak aku untuk bertemu dan meminta waktuku seharian?"
"Saya sudah mendengar cerita hidup kamu dari suami saya. Kamu lahir tanpa kasih sayang dari ibumu, tidak pernah bertemu dengan ayahmu, tapi sekarang kamu berhasil menemuinya. Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan menuntut hak yang selama ini hilang?"
Senja tersenyum lembut. "Kalau aku mau melakukan itu, seharusnya sudah aku lakukan dari dulu. Tante sepertinya tahu kalau aku bertemu dengan Ayah sejak umur dua puluh tahun. Dan sekarang aku sudah dua puluh sembilan tahun. Dalam waktu sembilan tahun itu, tidak pernah sama sekali terbesit dalam kepalaku untuk menuntut apapun dari Ayah. Aku tahu Ayah sudah berkeluarga, pasti akan timbul masalah ketika aku meminta sesuatu darinya. Karena aku sadar, aku ini anak yang lahir dari sebuah keterpaksaan bukan keinginan dari keduanya. Aku juga yakin Ayah pasti tidak bermaksud untuk menghamili ibu waktu itu. Aku selalu berusaha menempatkan diri di posisiku. Aku tidak akan memaksakan kehendakku pada orang lain. Tante nggak usah khawatir, aku nggak akan minta Ayah untuk tetap bersamaku dua puluh empat jam, seumur hidup aku, aku nggak minta itu."
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak minta? Oke, terlepas dari kamu anak yang terlahir diinginkan atau tidak, kamu dan suami saya itu tetap ada hubungan darah. Tetapi ayah dan anak. Kenapa kamu tidak meminta hakmu pada ayahmu? Kenapa kamu seolah-olah tidak butuh itu?"
"Bukan tidak butuh, Tante. Sekarang gini coba aku tanya ke Tante, kalau aku bersikukuh meminta hakku pada Ayah lalu tante juga tidak mau kehilangan hak. Apakah itu akan memperbaiki suasana atau mungkin malah hubungan antara tante dan juga ayah akan membaik? Tidak, kan? Dengan aku tidak menuntut hakku saja hubungan kalian itu sudah sering bersitegang. Bagaimana kalau aku menuntut hakku juga? Aku rasa itu bukan ide yang bagus, justru akan memperburuk suasana. Aku nggak mau itu, aku nggak mau karena aku ada hubungan yang harus dikorbankan. Lebih baik aku yang berkorban. Aku sudah mengalami banyak hal di dunia ini, termasuk jehilangan. Aku nggak mau orang lain juga merasakan kehilangan, terlebih kehilangan itu karena aku. Saat ini aku sudah bahagia banget Tante sama anak aku dan juga Ibu aku. Lalu aku mau menuntut apa lagi?"
Clara tersentuh hatinya, sejak dimulai dari Senja datang tadi, ia sudah merasa bahwa wanita ini benar-benar baik dan berhati mulia. Ia rela tertatih-tatih dan datang memenuhi janji dengannya ketika keadaan kakinya sedang tidak baik-baik saja. Padahal ia bisa mengatakan bahwa sedang tidak sehat, dan meminta Clara untuk datang ke rumahnya, begitu kira-kira pikir Clara.
Tangan Senja memberanikan diri untuk menggenggam tangan Clara. Ibu jarinya mengelus-elus punggung tangan wanita itu. Terasa halus dan lembut, pasti wanita ini wanita penyayang, batin Senja.
"Tante nggak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Bisa melihat ayah saja aku sudah senang."
Ternyata benar yang dikatakan Akmal, pikiran Clara mengenai Senja berubah saat itu juga, bahkan tidak perlu menunggu satu hari. Baru beberapa jam saja, Clara sudah merasakan betapa mulianya hati Senja.
Clara tahu, seikhlas apapun Senja terhadap apa yang ia jalani sekarang, pasti terbesit keinginan dalam hatinya. Hal yang tidak wajar jika ia tidak minta sesuatu yang lebih. Tapi kembali lagi, demi orang lain, dirinya mengorbankan keinginannya. Apakah ini adil untuknya?
"Senja mulia sekali hati kamu." Akhirnya kata pujian itu keluar dari mulut wanita yang meyakini tidak akan pernah melihat keberadaan Senja.
"Ah, Tante bisa aja. Nggak semulia itu. Aku mikirnya cuman gini, sih. Ya kota hidup sekali, buat apa, sih harus saling membenci, saingan dalam segala hal, hidup kita malah kayak tidak dinikmati. Malah lebih ke bagaimana caranya kita lebih unggul dari manusia lainnya dan itu beban banget nggak, sih? Iya, kan. Kita jadi nggak bahagia, karena kita fokus sama menyaingi orang lain."
__ADS_1
"Iya, kamu benar. Tante sudah merasakannya, Tante sibuk membuat Ayah kamu biar bisa cinta sama Tante, biar cuman fokus dan memprioritaskan Tante dan anak kami, tapi malah Tante tertekan dan sakit-sakitan."
Mendengar Clara menyebut nama anak kami membuat Senja teringat dengan Karang.
"Oh, ya Tante, anak tante sama ayah itu namanya Karang, kan? Apa yang jadi pimpinan perusahan baru? Yang kemarin ikut seminar?"
"Kamu pernah ketemu? Sebentar, tante perlihatkan fotonya." Clara merogoh tasnya untuk mengambil ponsel dan membuka galerinya.
Setelah berhasil menemukan foto Karang, ia memperlihatkannya pada Senja.
"Ini?"
"Ah, iya. Ini Karang anak kalian? Aku pernah bertemu dengannya itu kalau nggak salah tiga kali. Anak tante itu nyebelin banget tahu nggak." Mode ghibah dan julis Senja sudah on. Ia menggeser kursi nya agar lebih dekat dengan kursi Clara.
"Masa waktu itu pernah dia sama temen-temennya menuhin jalan sama motor gedenya itu. Aku nggak dikasih jalan sama dia, padahal aku, tuh waktu itu buru-buru mau jemput anak aku. Begitu aku turun, aku tanya kenapa mereka seperti itu, Karang malah jawabnya galak banget, malah dia yang marah-marahin aku, katanya dia yang salah. Dia malah nantang aku buat nabrak motornya dia." Senja berceloteh seperti menganggap Clara itu adalah temannya. Hal itu membuat Clara menahan tawa dengan kejulitan Senja.
"Terus gimana? Kamu tabrak?"
__ADS_1
"Nggak, sih. Aku muter jalan, aku balik lagi ke kantor karena anak-anak dijemput sama supir. Tapi beneran Tante, sandainya aku tahu kalau Karang itu adik aku, mungkin udah aku jewer dia, aku suruh pulang."
Akhirnya obrolan mereka yang seharusnya bicara dengan serius berubah menjadi obrolan yang penuh dengan canda tawa dan pendekatan diri masing-masing. Clara seolah dibuat lupa dengan masalahnya dan dengan tujuannya menemui Senja.