
"Senja mana, Mbak kok sepi?" Akmal yang baru datang dari rumah mengambil alih Alana dan menanyakan keberadaan Senja. Biasanya wanita wanita itu akan bermain dengan kedua anak kembarnya, namun saat ia menapaki lantai ruang tamu, tak ada bau Senja di sana.
"Sedang pergi, Pak katanya tadi ada urusan."
"Sejak kapan?"
"Satu jam lalu, lebih tepatnya setelah Ibu Manda pergi."
Mendengar penuturan dari salah satu baby sitter nya membuat Akmal seketika terkoneksi dan mencurigai Senja mengikuti ibunya.
"Senja menitipkan pesan pada kalian?"
Baby sitter itu nampak berpikir, "Hanya di minta untuk menelepon saat susu yang di botol sudah habis, Pak."
"Telepon dia, dan katakan susu sudah habis. Jangan bilang kalau saya di sini."
"Tap--."
"Lakukan sekarang!"
Perintah dari Akmal membuat baby sitter itu seketika merogoh saku seragamnya dan mencari ponselnya. Berbicara dengan senja dihadapan pria itu membuat baby sitter itu nampak sedikit takut dan gugup.
"Bu Senja sudah dalam perjalanan, Pak."
"Ya sudah, susunya sudah habis apa belum?"
"Belum, Pak. Tersisa sedikit saja sebenarnya."
"Berikan pada mereka. Lalu cuci botolnya!" Sekali lagi, dengan nada tegas Akmal memerintah pekerjanya itu dan kali ini tidak ada bantahan.
Akmal melanjutkan aktivitasnya dengan bermain dengan si kembar. Setiap hari minggu ia akan bergantian menghabiskan waktu dengan keluarganya. Ia harus bisa bersikap adil pada kedua anaknya.
"Ayah ada di sini? Sejak kapan?" tanya Senja ngos-ngosan.
"Baru saja sampai, kamu dari mana?"
__ADS_1
"Ikutin Ibu. Mending Ayah jujur, deh sama aku. Sebenarnya Ibu sakit apa, sih? Aku tahu kalau ibu ke rumah sakit untuk cuci darah, tadi aku ngikutin dia. Aku mau tanya dari ke Suster yang ada di resepsionis, tapi Mbak bilang kalau si kembar lagi nangis, susunya habis, makanya aku cepat-cepat pulang. Ayah aku berhak tahu apa yang dialami oleh Ibu. Aku anaknya." Senja dengan memelas duduk di samping ayahnya.
Akmal tak langsung menjawab, ia bingung harus menjawab apa. Bohong pun rasanya sudah tidak mungkin, karena Senja sudah tahu bahwa ibunya melakukan kemoterapi di rumah sakit. Tapi jujur pun rasanya juga tidak mungkin, itu pasti akan mempengaruhi psikisnya nantinya apalagi Senja masih menyusui. Dan pada akhirnya permasalahan ini akan berdampak pada cucunya juga.
"Ayah, apalagi yang Ayah pikirkan? Ayah sudah tidak ada ruang untuk bohong lagi," desak Senja.
"Ya udah, tapi janji jangan terlalu dipikirkan, ya! Kita sedang berusaha untuk menyembuhkan Ibu. Ibu kena gagal ginjal. Jadi beberapa bulan setelah kepergian kamu ke rumah Leo, Ibu sering merasakan sakit di pinggang. Ibu awalnya mengabaikan dan rutinkan diri untuk minum obat anti nyeri, tapi lama-kelamaan Ibu tidak tahan dan memeriksakan diri ke dokter dan divonis menderita gagal ginjal stadium awal. Sejak saat itu Ayah dan Pakde sudah mengantri untuk mendapatkan donor ginjal yang cocok untuk ibu dan memang sampai sekarang belum ada. Jadi kita harus sabar, itu sebabnya kita memaksa ibu untuk rutin gagal ginjal"
"Dan kalian merasakan masalah terbesar ini sama aku?"
"Ini untuk kebaikan kamu juga Senja, kami tidak mungkin membebani kamu dengan Ibu yang sakit disaat kamu sendiri memiliki beban yang berat. Lagipula juga Ibu tidak mau kamu tahu soal sakitnya, takutnya kamu khawatir. Sekarang Ayah mau tanya sama kamu, kamu mau ibu sembuh atau tidak?"
"Ayah menanyakan pertanyaan macam apa? Sudah jelas aku ingin sembuh."
"Kalau begitu ikuti apa kata Ayah, kamu harus pura-pura tidak tahu tentang penyakit ibu. Nanti takutnya kalau ibu tahu kamu sudah tahu semuanya, ibu malah akan menjadi kepikiran, pergi dari rumah dan ini malah membuat kondisinya semakin buruk, kan?"
"Jadi aku harus bersandiwara bahwa semuanya baik-baik saja?"
"Iya, untuk menjaga perasaan ibu dan juga mempertahankan kesehatannya."
"Ya kalau nggak sungguh-sungguh mana mungkin Ayah minta ini ke kamu? Gimana, sih kamu?"
***
"Ma aku kerja kelompok di rumah temen, ya," ujar Karang duduk di samping ibunya.
"Ini, kan minggu. Tumben?"
"Iya, tugasnya dikumpulin besok." Karang mengulurkan tangannya untuk bersalaman. "Aku bawa motor aja, ya Ma. Biar cepet."
"Iya, hati-hati. Pulangnya jangan kesorean."
Karang menyambar kunci motor yang berada di laci dekat TV. Berlarian layaknya anak remaja yang tak sabar ingin keluar rumah bersama dengan teman-temannya.
Mengerjakan tugas kelompok adalah salah satu alasan yang sering digunakan Karang untuk keluar menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya. Entah itu hanya sekedar ngopi di pinggir jalan atau cafe atau hanya sekedar nongkrong di salah satu rumah kawan-kawannya.
__ADS_1
Karang lebih senang menghabiskan waktu dengan teman sekolahnya karena ia bisa mengeluarkan emosinya jika sedang bersama dengan mereka.
"Lah, kok ada Karina?" tanya Karang begitu sampai di rumah temannya.
"Ya nggak apa-apa, emang kenapa kalau ada gue?"
"Ya bukan apa-apa, tapi, kan kita beda tingkat beda kelas gitu maksud gue. Nggak ada maksud apa-apa."
"Cuma nongkrong doang, harus banget satu kelas sama satu tingkat?"
"Nggak juga, sih," jawab Karang garuk-garuk tengkuknya.
Karang duduk di sebelah Karina, karena memang hanya tempat itu yang kosong. Baru saja menempatkan bokongnya di alas karpet, tangan kanan Karang sudah mengulur ke arah meja dan mengambil satu batang rokok. Memasukkannya ke dalam mulut lalu membakar salah satu sisinya.
"Gue denger kemarin lo disamperin sama Dion, ya?"
"Iya, cemburu dia gara-gara lo ngobrol sama gue. Lagian kenapa, sih lo nggak terima aja cinta dia. Gue empet tahu nggak, setiap hari dikejar-kejar mulu sama dia. Paling nggak lo jangan ngobrol sama gue lah, kalau di sekolah. Gue sekolah bukan buat ngajak ribut orang, bukan adu pukul sama anak orang cuman perkara cewek. Sumpah bukan tipe gue banget tau nggak."
"Halah ke sekolah lo juga cuma datang doang. Pake acara nggak mau ribut lagi, noh anak sekolah sebelah masuk rumah sakit gara-gara lo pukuli."
"Jangan bahas itu, gara-gara dia gue jadi ganteng Cepet sama sopir, kan?"
"Rang," panggil Karina.
Karang menoleh tanpa bersuara, seketika ia terkejut saat merasakan bibir karena menyentuh bibirnya sesaat, hanya beberapa detik saja. Namun rasanya begitu, ah sulit sekali rasanya dijelaskan oleh Karang.
Semua remaja yang berada di situ hanya dia menatap dua insan yang sedang saling tatap dengan wajah merah merona. Tanpa sadar Karang meraba bibirnya.
"Masih mau bilang kalau lo nggak mikirin cewek?"
"Jelas, iya. Apapun yang lo lakukan ke gue, gue nggak akan pernah berubah pikiran gue, nggak akan pernah ngerubah pendapat gue kalau cewek itu ribet."
"Lo ada masalah apa sih, Rang sama hubungan-hubungan yang seharusnya sedang kita jalani. Maksud gue, lo kayak anti banget sama cinta-cinta monyet."
"Gue hidup tanpa cinta, dan selamanya nggak akan pernah kenal dengan satu kata itu. Cinta bagi gue nggak ada."
__ADS_1