Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
46. Menjalankan Rencana


__ADS_3

Setelah pertemuan pertama Senja dengan keluarganya, ia tak lagi di kekang oleh Leo. Ia diizinkan untuk berkomunikasi dengan keluarganya, tapi tidak untuk bertemu. Hal itu tentu Senja senang. Tidak apa tidak bertemu lagi, asalkan mereka masih bisa berkomunikasi dengan baik dan rencana yang dibuat Senja pasti akan lebih matang jika sering berkomunikasi dengan keluarganya.


Esok hari adalah tanggal di mana seharusnya Senja melakukan operasi caesar. Tanggal yang dipilih Leo bukanlah tanggal sembarangan, ia memilih tanggal esok hari karena esok hari adalah ulang tahunnya.


"Besok adalah hari ulang tahunku dan hari di mana anak-anakku akan lahir jaga dirimu jangan sampai operasi besok gagal. Aku akan pulang cepat hari ini dan membawamu ke rumah sakit agar kamu besok pagi-pagi bisa dioperasi." Leo berhenti sejenak lalu memandang Senja dengan lekat dan dalam entah apa tujuannya.


"Sebenarnya hari ini aku ingin menghabiskan waktu denganmu, tapi ada pekerjaan yang mengharuskan aku datang ke kantor. Kamu ada ingin sesuatu atau apa gitu. Hari ini adalah hari pertemuan terakhir kita, besok setelah aku menemani kamu operasi kita tidak akan pernah bertemu lagi. Aku akan mengabulkan semua keinginanmu kecuali bertemu dengan anakmu. Aku tidak akan pernah melakukan itu."


"Keinginanku hanya satu dan kau sudah menjawabnya, jadi aku tidak akan minta apa-apa. Pergilah! Aku ingin segera tidur, aku ingin hari ini cepat berlalu. Jika cepat berlalu itu artinya aku semakin dekat dengan perpisahan kita dan aku sangat bahagia."


"Kamu bahagia pisah denganku? Apa selama kamu di sini, aku tidak pernah membuat kesan baik di matamu?"


"Kesan baik?" Senja bertanya dengan nada mengejek. "Tidak ada kesan yang baik bagi siapapun orang yang berniat memisahkan seorang ibu dengan anaknya. Kau ingin aku operasi besok, kan? Tolong jangan buat tensi darahku naik dan besok kau gagal melihat anakmu." Senja melipir ke kamar setelah mengatakan itu.


Leo hanya mengantar kepergian Senja dengan ekor matanya. Entah kenapa ia merasa ada yang berbeda hari ini.


Aku merasakan seperti ini pasti karena besok aku akan meninggalkan negara ini. Bukan karena perasaanku yang mulai merasakan sesuatu terhadap senja. Tidak, tidak senja hanyalah wanita yang mengandung dan melahirkan anakku kembali fokus ke keluargamu Leo, kau tidak mungkin memiliki rasa dengan gadis itu. Rasa sedihmu ini pasti hanya karena kau ingin meninggalkan negaramu dan juga rumahmu ini.


Leo menepuk-nepuk kepalanya pelan lalu terburu buru berjalan keluar rumah.

__ADS_1


Sementara itu, Senja mulai menjalankan rencananya. Ia berjalan ke dapur dengan memperhatikan sekeliling seperti maling. Seakan dirinya memastikan bahwa tempat yang berada di dekatnya benar-benar aman. Begitu sampai di dapur, ia membuka kulkas dan mengambil minuman yang biasa diminum oleh Rida. Dengan gerakan cepat wanita hamil itu memasukkan sesuatu ke dalam minuman tersebut. Dengan gerakan cepat pula ia mengembalikan botol minuman itu ke tempat semula dan berlalu dari dapur.


"Sekarang tugasku adalah menghubungi Ayah. Aku harus memastika, apakah anak buahnya sudah standby di rumah sakit atau belum," gumam Senja seraya mengunci pintu kamarnya.


Terdengar bunyi nada sambung seberang sana. Sejurus kemudian Senja mendengar suara ayahnya.


"Halo Ayah, apa anak buah ayah sudah ada di rumah sakit?"


"Aman Sayang. Bahkan tidak hanya anak buah aja yang udah di sana, bayi kembar yang kamu inginkan pun sudah Ayah kirim ke sana. Kamu sudah siap melakukan ini, Nak?"


"Tentu saja, aku tinggal menunggu Rida minum minumannya, dengan begitu aku bisa leluasa untuk pergi dari rumah. Kalau aku pergi sekarang takutnya nanti dia tahu dan akan sadar dengan rencanaku."


"Aku nggak ada pilihan lain, aku harus mempertahankan apa yang aku punya, kan? Ayah hanya perlu mendoakan aku. Secepatnya aku ke rumah sakit. Ayah harus memastikan kalau pekerjaan anak buah Ayah ini bagus. Aku nggak mau kalau rencana yang sudah aku rencanakan dengan matang ini akan gagal, ini kesempatan aku yang pertama dan terakhir." Senja samar-samar mendengar suara langkah kaki yang berada di dekat kamarnya. Yah, aku tutup dulu teleponnya, ya. Kayaknya Rida udah ada di dapur aku harus awasi dia. "


Ya sudah hati-hati, ya."


Senja mengintip di balik pintu. Benar dugaannya, ternyata Rida yang berjalan ke dapur dan seperti biasa, ia meminum jus favoritnya yang sudah ia campuri obat tidur. Senja masih mengintip di celah pintu ketika Rida menandaskan minumannya. Dalam hati tentu saja ia bersorak senang, tidak lama lagi Rida pasti akan tertidur dengan nyenyak.


"Sabar Senja. Kamu harus sabar lima sampai sepuluh menit lagi setelah dia masuk kamar, pasti kamu akan keluar dengan aman."

__ADS_1


Satu menit dua menit tiga menit dan banyak menit Senja habiskan di dalam kamar. Setelah dirasa cukup lama ia menunggu ia berjalan keluar kamar dengan mempersiapkan diri memasang wajah kesakitan.


"Pak supir, pak tolong antar saya ke rumah sakit," teriak Senja dari teras.


Sang supir yang sedang nongkrong di pos satpam berjalan tergopoh-gopoh menuju teras. Bahkan satpam yang saat itu sedang bertugas ikut berlari mengikuti langkah lebar si supir.


"Ada apa, Neng?" tanya supir.


"Perut saya sakit. Saya mau ke rumah sakit, Pak tolong."


"Baik, Neng. Saya siapkan mobil dulu."


"Neng mau saya teleponkan tuan Leo?" Satpam yang bertanya.


"Nomor Leo nggak aktif kalau dia pulang beritahu bahwa perut saya sangat sakit."


Mobil datang ke hadapan Senja setelah sejak menjawab pertanyaan dari satpam itu, ia dengan tergesa-gesa masuk ke mobil.


"Pak begitu nanti sampai rumah sakit Bapak langsung pulang lagi, ya. Nanti pasti Leo juga kan datang ke rumah sakit. Soalnya dia tadi bilang kalau mau pulang cepat. Dan katakan kepadanya nanti, kalau saya ke rumah sakit tidak membawa apapun. Supaya dia bawa keperluan anaknya."

__ADS_1


"Baik, Neng. Nanti akan saya sampaikan."


__ADS_2