Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
52. Tangisan Manda


__ADS_3

"Lihat aku, Manda!"


Manda menangis. Kepalanya kembali memutarkan kejadian-kejadian dari malam itu hingga lahirnya Senja. Ia tak tahu, ia menangis untuk siapa, tapi yang jelas ia merasakan kesedihan yang dalam ketika mengingat tahun-tahun yang sudah ia lewati.


"Kenapa kamu nangis? Kamu menangis untuk siapa? Apa yang membuat kamu menangis?" Desak Akmal.


Manda masih sesenggukan.


"Ayo Manda bilang sama aku! Kamu mulai menyesal dengan apa yang sudah kamu lakukan terhadap anak kita yang tidak mengerti apa pun? Itu semua kesalahan aku dan kamu limpahkan semua kesalahan aku pada anakku?" Mulut Akmal bergetar saat mengucapkan kalimat terakhir.


"Kamu boleh hukum aku, Manda. Hukum aku sekarang, jangan anakku. Baiklah, kalau kamu tidak mau menjalani hubungan baik denganku tidak apa-apa. Tidak masalah, aku anggap ini adalah sebagai hukuman dari apa yang sudah aku perbuat. Tapi tolong, sayangi anakku Manda. Kamu lihat anakmu sekarang, kamu patut bangga dengan dia, kamu harus belajar banyak dari dia. Kamu lihat dua makhluk yang ada di samping kamu ini, kan? Kamu juga tahu bagaimana proses hadirnya mereka ke dunia tanpa aku perjelas, kan? Dua bayi ini adalah bayi yang tidak diinginkan Senja. Mereka lahir dari sorang laki-laki yang begitu jahat. Kurang lebih nasib kamu dan anakmu itu sama. Tapi perbedaannya begitu besar."


"Sudah cukup!" pinta Manda lemah.


"Senja dengan senang hati dan segala daya upayanya dia justru tidak ingin berpisah dari anaknya. Dia menantang dirinya sendiri untuk berhadapan dengan Leo hanya untuk mempertahankan anaknya. Kamu tahu bagaimana perjuangannya, tidak bisakah kamu seperti dia? Senja tidak peduli siapa bapak anak ini. Dia tidak peduli siapa yang membuat dirinya hamil dan kehilangan masa depannya, kehilangan semuanya. Yang terpenting adalah dia tidak dipisahkan dari anaknya. Secara tidak langsung pun kamu sudah menjual anakmu sendiri, Manda. Maaf, bukan anakmu. Senja adalah anakku. Aku benar-benar kecewa Manda. Aku juga benci pada diriku sendiri karena aku hingga saat ini pun masih mencintai wanita macam kamu. Tolonglah, Manda berikan kehidupan yang layak untuk anakku."


Manda terduduk, ia terisak semakin dalam. Untuk pertama kalinya ia menyadari kesalahannya. Ia merasa begitu banyak dosa, ia merasa begitu hina. Ia dengan sukarela menyentuh dua bayi dengan sadar, bahkan berniat akan memberikan nama untuk kedua bayi anaknya itu. Namun dua puluh satu tahun yang lalu, jangankan untuk menyentuh dan memberi nama, melihatnya saja ia tidak pernah.


"Sudah hentikan, Akmal!" pinta Manda menutup telinganya rapat-rapat.


"Aku tidak akan berhenti menyadarkan kamu, Manda. Aku tidak akan pernah berhenti sebelum kamu menyadari apa yang kamu lakukan selama ini salah. Aku tidak akan berhenti sebelum aku mendengar kata maaf dari mulutmu untuk anakku. Aku sama sekali tidak terima de--"


Ucapan Akmal terputus karena ponselnya yang berbunyi. Terpaksa ia menerima panggilan itu karena ternyata anak buahnya yang menghubungi dirinya.


"Ya, ada apa?"

__ADS_1


"Leo sudah pergi dari rumah sakit bersama istrinya dan dua anak kembar yang kita bawa. Sudah pergi dari satu jam yang lalu. Kamu pastikan dia tidak akan kembali ke rumah sakit."


"Tetap jaga di sana! aku segera datang."


Perhatian Akmal kembali pada Manda setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Aku tahu aku salah dua puluh satu tahun yang lalu. Aku sadar akan hal itu, tapi apa yang kamu lakukan ini tidaklah benar Manda. Jika Senja bisa memilih, dia pasti akan memilih gugur bersama dengan obat-obat yang kamu minum daripada harus hidup, tapi hidupnya seperti di neraka. Kalau kamu tidak bisa membahagiakan dia, tidak bisa memaafkan aku, tidak bisa memaafkan Senja. Biar aku yang pergi bersama Senja. Aku akan bawa dia, akan aku bawa sekaligus cucu-cucuku biar kamu merasa benar-benar sendirian di sini."


Akmal berlalu dari sana, membiarkan Manda dengan isakan penyesalan.


***


Akmal yang begitu membela Senja di hadapan ibunya sendiri, sangat berbanding terbalik dengan kehidupan anaknya yang lain. Sejak Senja mendatangi rumah ibunya tiga bulan yang lalu dan meminta bantuan dirinya untuk mencari sepasang bayi kembar, Akmal seperti terhipnotis hanya memprioritaskan Senja, tapi benar-benar mengenyampingkan Karang.


Remaja itu tumbuh menjadi sosok yang sangat lain dari sebelumnya. Tak ada yang menyadari perubahan Karang. Karena memang ia pandai menutupi segala sesuatu sejak ia kecil.


"Rang, lo ngelakuin kesalahan apa sampai lo di cari sama kakak kelas kita yang kayak preman itu." Di hari yang masih pagi, Karang sudah dilempar pertanyaan mengenai masalah oleh temannya.


"Kakak kelas yang kayak preman? Siapa?" tanya balik Karang seraya memainkan tusuk gigi di mulutnya.


"Itu si Dion."


"Oh, itu. Kapan gue di cari?"


"Kemarin, pulang sekolah."

__ADS_1


Karang nampak mengingat ingat.


"Gue ingat sekarang, mungkin Dion cemburu karena syukur ngobrol sama gebetannya kemarin. Itu, si Karina," jawab Karang santai.


"Ngapain, sih lo cari gara-gara aja, deh. Lo, kan tahu itu si Dion anak emas di sekolah ini. Bisa-bisa lo yang kena masalah meski lo nggak salah."


"Bodo amat."


"Heeeyy," teriak seseorang dari belakang.


Karang dan satu temannya yang sejak tadi berjalan dengan lambat menoleh ke sumber suara.


Remaja yang berteriak lantang itu berjalan maju kearah Karang, ia bersama dua orang temannya nampak berjalan menantang. Meraka masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, namun bertingkah seakan mereka adalah pria dewasa yang sedikit-sedikit ribut.


"Lo yang namanya Karang? Anak baru yang sok kegantengan," ujar Dion memiringkan bibirnya ke salah satu sisi.


"Sok kegantengan? Emang gue ganteng. Semua anak cewek juga mengakui kalau gue ganteng. Gebetan lo aja deketin gue. Gebetan lo yang deketin, bukan gue. Kalau gue, mah ogah deket-deket sama cewek. Masih bau kencur aja main pacar-pacaran."


Nampak wajah Dion yang memerah.


"Apa? Mau ngajak ribut? Gue nggak mau ribut urusan cewek. Gue masih terlalu kecil untuk urusan itu. Lo nggak usah khawatir, lah. Gue nggak akan merebut siapa pun dari siapa pun."


Karang menyugar rambutnya lalu menggeret temannya untuk pergi dari hadapan Dion dan teman-temannya.


"Awas aja lo kalau main-main sama omongan lo sendiri."

__ADS_1


Karang berhenti dan berbalik, "Kalau lo khawatir Kirana gue pacari, itu artinya lo juga mengakui kalau gue lebih ganteng dari lo."


__ADS_2