
Tiga hari berlalu.
Tepat di hari yang sama saat Akmal tertembak. Suasana duka juga menyelimuti keluar Aldi. Sang Ibu yang berpulang mendadak tanpa keluhan membuat kedua anaknya merasa syok dan kehilangan tentunya.
"Aku sudah benar-benar sendiri, Kak," ujar Manda duduk di sofa ruang tamu sepulang dari pemakaman.
"Masih ada, Kakak. Udah, Ibu udah tenang. Kamu ingat pesan Ibu. Cobalah damai dengan masa lalu, di mulai dari memaafkan diri kamu sendiri. Setelah itu orang-orang yang ada di sekeliling kamu. Udah masuk kamar sana! Aku pulang dulu, kamu istirahat di kamar, dan pikirkan apa yang aku katakan. Kamu sekarang hanya punya aku, kalau nggak nurut sama aku mau nurut sama siapa?"
Manda hanya diam menatap punggung sang Kakak yang perlahan hilang ditelan jarak pandang. Kalimat terakhir sang Kakak membuatnya berpikir keras dan ingatannya mau tak mau kembali ke masa silam. Masa di mana perhatian dan kasih sayang saudara kandung satu-satunya itu begitu besar.
Manda tak pernah kekurangan kasih sayang meski hidupnya dari kecil tak ada sosok Ayah yang menemani setiap perkembangannya. Kasih sayang dari Ibu dan Kakaknya sudah cukup menjadikan Manda sosok gadis yang ceria dan baik. Namun, semua sifatnya itu sudah hilang bersama dengan terenggutnya mahkota yang susah payah ia jaga.
Wanita itu beranjak dari duduknya dan berjalan ke kamar. Ia mendudukkan dirinya di tepian tempat tidur. Melamun dan memikirkan nasibnya ke depan. Ia hanya punya satu Kakak, bagaimana kalau kakaknya itu meninggalkannya lebih dulu.
"Nggak-nggak. Nggak bisa, ayolah Manda jangan berpikir yang tidak-tidak."
Manda membaringkan tubuhnya di kasur. Berusaha untuk tidur disaat matahari sedang semangat-semangatnya menyengat bumi. Rasa sakit dan nyeri di punggungnya masih ada dan datang tiba-tiba, semakin ke sini, intensitas sakitnya justru sering berdatangan.
Tak membutuhkan waktu lama bagi wanita itu untuk bersenggama dengan alam mimpi, rasa lelah menangis membuat ia tertidur lebih cepat.
***
Senja duduk di taman belakang rumah yang beberapa hari terakhir ia tempati. Ia sedang duduk diam menikmati panas siang hari yang begitu terik, namun angin semilir yang menerbang-nerbangkan helaian rambutnya terasa begitu menyejukkan.
__ADS_1
Senja merindukan Ibu dan Neneknya. Bagimana kabar mereka? Apa mereka tahu bahwa dirinya sedang di sekap di rumah yang begitu mewah? Mengingat Ibunya membuat Senja merasa dirinya juga tak kalah kotor. Sekarang ia mengerti kenapa ibunya begitu membenci dirinya, melakukan hubungan tanpa adanya pernikahan adalah hal hina. Meskipun mereka sama-sama mendapatkan paksaan, tetap saja dua wanita anak dan Ibu merasa sangat hina.
Senja mulai memikirkan bagaimana jika akan ada nyawa yang tumbuh di rahimnya? Apa yang harus ia lakukan? Jika itu sampai terjadi, pasti ia dan anaknya akan terpisah, karena Leo hanya ingin anaknya.
Di pikiran yang lain tiba-tiba Senja teringat dengan Ayahnya. Kenapa sudah beberapa hari ini sejak penembakan itu Ayahnya tak lagi datang untuk menyelamatkannya? Kepala Senja mendadak pusing karena memikirkan banyak hal. Ayahnya, ibunya, neneknya belum lagi kekasihnya yang entah akan bertahan dengannya atau tidak.
Besar harapan Senja untuk bisa terbebas dari istana beracun ini, ia harus menuntaskan banyak hal. Salah satunya adalah tentang ayahnya. Ayah yang meninggalkannya dengan ibunya berpuluh-puluh tahun. Kenapa baru muncul sekarang dan disaat ia sedang berada dalam kungkungan pria berhati kejam.
"Senja, kita ke rumah sakit sekarang!" ajak Leo berdiri tak jauh dari tempat duduk Senja, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Menambah kesan berwibawa dan tampan, namun sayangnya tidak dengan kelakuannya.
"Untuk apa? Kita mau jenguk Ayah?" Entah kenapa Senja melontarkan pertanyaan seperti itu, padahal saat kejadian penembakan, Leo sudah jelas mengisyaratkan tak boleh menemui Akmal.
"Aya mu sudah tak lagi di rumah sakit. Kenapa kau masih memikirkan dia? Mungkin dia sekarang sedang terpuruk karena media memberitakan masa lalunya. Ayahmu itu dikenal banyak orang. Sukses di usia muda dengan hasil jerih payahnya sendiri membuat orang tertarik untuk mengenal dia lebih dalam. Dia pernah jadi motivator, pernah menjadi bintang tamu di acara besar. Kamu nggak tahu, kan? Kasihan sekali. Jangan pikirkan ayahmu lagi, biarkan dia bahagia dengan anak dan istrinya. Jangan rusak kebahagiaan mereka. Cari kebahagiaan kamu sendiri dan kamu bisa memulainya dari sekarang."
Leo tertawa pelan, "Mana mungkin? Kau nggak akan aku lepas sebelum kau memberiku anak. Itu sebabnya kita ke rumah sakit sekarang, kita akan program bayi kembar," bisik Leo di telinga Senja saat mengucapkan kalimat terakhir.
Leo menatap wajah Senja dari dekat. Dan ia merasakan jantungnya yang tiba-tiba saja belingsatan tak tahu apa penyebabnya.
***
"Eh bapaknya si Karang masa pernah merkosa perempuan terus ditinggal kabur."
"Iya, aku juga dengar berita itu di TV. Papaku yang kenal sama bapaknya Karang jadi nggak mau berteman lagi sama dia."
__ADS_1
Sejak sampai di halaman sekolah tadi, tak henti-hentinya telinga Karang mendengar ocehan para temannya. Telinga dan matanya sampai memanas karena sejak tadi tak jeda untuk mendengar kalimat-kalimat meyakitkan itu.
Karang tak tahan dengan cibiran yang ia dapat lebih parah saat sampai di kelas. Tanpa ba bi bu lagi, anak beranjak remaja itu kembali ke luar kelas dengan langkah cepat. Untuk pertama kalinya, Karang bolos sekolah.
Karang terus berjalan keluar sekolah tanpa hambatan. Ia tak peduli lagi dengan tatapan heran dan tak suka dari siapapun murid yang berpapasan dengannya.
Entah kemana Karang akan pergi, yang jelas ia terus melangkah mengikuti kaki yang semakin menjauh dari sekolah. Ia tak takut kesasar, atau mungkin ia tak sempat memikirkan itu. Dengan amarah dan kekesalan yang sedang di puncak kepala, ia menghapus kasar pipi yang baru saja terjamah oleh air matanya sendiri.
Sesekali kakinya menendang kerikil yang menghadang jalannya. Melampiaskan segala kekesalan yang ada. Hingga ia menyadari satu hal. Ia terlalu jauh berjalan, bahkan ia tak tahu sekarang berada di mana.
"Ah, biarlah. Toh dari tadi aku jalan lurus doang, nggak belok-belok. Pasti tahu jalan kembali ke sekolah. Nanti aja pas jam pulang aku balik ke sana," gumam Karang menengok sekitar untuk mencari penjual minuman.
Matanya lalu tertuju pada minuman ber cup. Tenggorokannya yang kering sejak tadi meronta ingin segera di beri cairan. Saking hausnya ia terburu-buru menyeberang jalan.
"Aaaaaa." Hampir saja ia tertabrak mobil. Untunglah refleks Karang dan si pengendara cukup bagus hingga tak merugikan keduanya.
"Kamu nggak apa-apa? Ada yang luka?"
"Nggak ada, Kak. Maaf aku terburu-buru karena haus. Maafkan aku."
"Iya, nggak apa-apa. Aku bantu nyeberang aja kalau gitu, ya."
Karang menangguk. Dalam hati ia berpikir seperti pernah melihat wanita ini tapi di mana?
__ADS_1