
Senja benar-benar mengantar Karang hingga depan kantornya. Meskipun ia sangat kesal, ia justru mendapatkan kenyataan baru yang membuat kesalnya menjadi menguap entah ke mana. Ia menjumpai mobil sang Ayah yang juga baru saja masuk ke dalam pekarangan kantor Karang. Saking fokusnya dirinya pada pandangannya yang lurus ke depan, ia tak manyadari Karang sudah keluar dari mobilnya.
Senja masih mematung di dalam mobil. Ia melupakan statusnya yang masih menjadi karyawan di sebuah perusahaan, ia yang seharusnya sudah kembali ke kantor seakan di buat lupa diri karena keingingahuannya.
"Nama anak Ayah, Karang. Dan sekarang Ayah bawa istrinya ke kantor yang baru ini? Aku ingat namanya pemuda itu juga Karang. Apa mereka benar-benar orang yang sama. Masa iya Ayah punya anak senyebelin itu?" Senja bicara seakan ada lawan bicara yang akan menjawab ke kepoannya.
Belum usai Senja kebingungan, ia dibuat semakin bertanya-tanya dengan tingkah Karang. Pemuda itu memberikan ciuman di punggung tangan istri Akmal saja, sedangkan Akmal seperti sedang bicara dengan pemuda yang baru saja datang tanpa basa-basi apapun. Entah apa yang mereka bicarakan, jarak yang sedikit jauh membuat Senja tak mendengar apapun, hanya melihat gerak-gerik mereka saja.
Tak berselang lama, setelah terlibat obrolan, mereka bertiga masuk beriringan menuju kantor dan disusul oleh salah satu orang karyawan yang mengikuti ke mana pun Karang pergi. Nampak beberapa karyawan yang menggangguk hormat pada ketiganya.
"Fix! Nggak salah lagi, Karang pemilik perusahaan ini dan Karangnya ayah adalah orang yang sama. Akan Aku pastikan ke Ayah nanti."
***
"Aku nggak mau tidur siang Oma. Aku mau ke mall, aku mau main."
"Besok, kan weekend. Udah nunggu besok aja main sama mama."
"Sekarang Oma, aku maunya sekarang."
Bukan Alana jika ia tidak memaksakan kehendaknya seperti ayahnya. Sejak sepulang sekolah tadi anak gadis Senja itu merengek ingin bermain di mall.
"Ya udah kalau mau sekarang banget, nanti tunggu mama pulang. Sekarang tidur siang dulu nanti malam kita jalan-jalan ke mall."
"Nggak mau tidur siang," sungut Alana yang mulai kesal.
Manda yang tidak bisa menghadapi cucunya itu lalu Berniat menghubungi Senja. Hanya wanita itu yang bisa menghadapi kedua anaknya yang terlalu sulit untuk diatur.
__ADS_1
"Ya udah Oma teleponin mama dulu, boleh apa nggak kita ke mall."
"Ngak usah izin Mama, Oma, nanti malah nggak boleh," rengek Alana.
"Kamu apa, sih Na. Ribut mulu tahu nggak. Kenapa apa-apa harus dituruti?" sela Alan yang jengah melihat Alana ribut dengan omanya.
Memang kedua wanita yang berbeda generasi itu jarang akur. Hampir nyaris tidak pernah mereka terlihat bersenggama bersama.
"Kamu nggak ngaca? kamu sendiri juga apa-apa harus dituruti, kan? Kita itu sama nggak usah ngolok-ngolong aku terus."
"Iya, tapi permintaan aku, kan lebih penting daripada permintaan kamu yang jalan ke mall lah, makan di luar lah, beli alat buat dandan lah, belum lagi barang-barang kamu yang nggak berguna itu."
"Barang mana yang nggak berguna? Semua barang aku berguna tahu."
"Berguna dari mana? Kamu apa-apa aja masih pinjam aku."
Alana yang cengeng seketika berkaca-kaca, anak kecil itu berjalan ke arah Manda dan mengadu pada wanita itu. Alan nakal adalah kata andalan yang selalu ia ucapkan saat ia kalah berdebat.
" Ke mall, Oma."
"Masih ingat aja, ya udah tidur dulu. Biar Oma telepon mama. Mama sekarang masih sibuk di telepon dari tadi nggak diangkat. Kalau nggak mau nurut malah Oma kunci kamu di kamar."
"Kunci aja kalau berani, nanti aku aduin ke Mama. Pokoknya telepon terus Mama sampai diangkat."
"Na, nggak semua hal-hal yang nggak penting itu dituruti sekarang. Ke mall itu bisa ditunda, kapan aja bisa berangkat ke sana. Mall nggak akan hilang dengan kamu nggak ke sana saat ini juga. Kamu nggak kasihan apa sama mama? Mama itu capek kerja buat kita. Buat sekolah, buat makan ngurusin kebutuhan, kalau nggak bisa bantu seenggaknya jangan nyusahin."
"Alan!" tukas Manda sedikit keras.
__ADS_1
Alan memang bisa berpikir lebih pengertian dari saudara kembarnya, bisa dibilang, ia lebih bisa mengerti keadaan dibandingkan dengan Alana. Namun, ucapan anak itu dan cara menyampaikan pendapatnya memang kurang bisa mengatur kata hingga terdengar menyakitkan.
"Kamu boleh mengingatkan adikmu, tapi jangan begitu kata-katanya. Mama sama Oma tidak pernah mengajari kamu berkata yang tidak baik begitu, kan? Jaga lisan, jangan menyakiti hati orang."
"Oma kayak nggak pernah nyakitin orang aja."
Begitulah Alan, omongannya memang banyak benarnya, tapi cara penyampaiannya begitu kejam.
"Oma juga nggak suci, Oma juga banyak menyakiti orang dengan lisan Oma dan Oma menyesal sekarang. Itu sebabnya Oma ngasih tahu kamu biar hati-hati kalau bicara biar nggak menyesal nantinya. Oma ngasih tahu kamu hal baik bukan berarti Oma tidak pernah melakukan kejahatan. Mana ada orang yang tidak pernah jahat? Lebih baik kamu masuk kamar sekarang sebelum Oma marah, ya. Kamu kalau dikasih tahu itu selalu melawan."
"Bukan ngelawan Oma...."
"Jawab terus kalau dikasih tahu apa namanya kalau nggak ngelawan?"
Keduanya tediam.
"Sekarang kalau kalian sayang sama mama kalian, ya kalian harus nurut juga sama Oma. Sekarang kalian tidur, istirahat nanti kalau mama udah pulang kita akan ke mall sama-sama. Kasihan kalau mama diganggu sekarang, dia udah pusing sama kerjaannya masa kita ganggu-gangguin."
"Ya udah, deh." Akhirnya Alana meninggalkanmu rumah tengah dengan bibir mengerucut beberapa senti ke depan.
"Coba aja kalau kita punya nomornya Om Leo, pasti aku hubungi dia untuk nganter kita ke mall." Rupanya Alana masih belum bisa terima ketika keinginannya tidak dikabulkan saat itu juga. Anak kecil itu berbisik pada saudara kembarnya dengan membawa bahwa nama Leo. Dan Bisakah kita masih terdengar jelas di telinga Manda.
"Apa kamu bilang tadi Alana? Om Leo? Siapa Om Leo? Sejak kapan kalian bergaul sama om-om? Oh apa mungkin ini yang membuat Alan bicaranya semakin kurang ajar? Terlalu sering bergaul dengan orang dewasa juga tidak baik. Berkumpulah dengan teman seumuran kalian. Ada yang bisa jawab siapa Om Leo?" Mantap bangkit dari duduknya dan menghampiri kedua cucunya lalu berjongkok di depan mereka.
"Om ganteng yang pernah nganterin kita pulang sekolah itu loh, Oma. Sejak itu om ganteng sering ketemu sama kita."
"Ketemu yang disengaja?"
__ADS_1
"Ya kadang sengaja kadang enggak, Om ganteng juga sering datang ke sekolah pas jam istirahat kasih kita jajanan, karena katanya om ganteng, kita ngingetin Om ganteng sama anaknya. om ganteng juga punya anak kembar katanya. Tapi di katanya di bawa pergi sama mamanya," terang Alana.
"Makanya Om Leo nganggap kita anaknya juga. Nggak apa-apa kan Oma? Lagian kita nggak punya papa," tambah Alan.