Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
18. Rumah Baru


__ADS_3

"Selamat malam Pakde. Saya Daren, teman dekat Senja. Kaau diizinkan, saya mau ikutan mengantar Senja. Biar saya juga tahu di mana rumah barunya." Daren memperkenalkan diri pada Aldi.


"Untuk apa? Mau apa juga kalau sudah tahu rumahnya? Jangan macam-macam kamu!" sentak Aldi.


"Pakde. Kak Daren ini baik orangnya. Nggak akan macam-macam. Selama kerja di sini aku dijagain. Udah percaya sama aku, biarin Kak Daren ikut, dia mau juga jagain aku, kok."


"Senja jangan mudah percaya dengan omongan orang, kamu kenal lama  bukan berarti kamu tahu sifat sebenarnya." Aldi masih menatap tak suka pada Daren.


"Pakde, selama ini yang buat Senja bahagia itu Kak Daren. Pakde akan melakukan apapun untuk kebahagiaan aku, Kan? Kalau begitu biarkan Kak Daren ikut. Aku akan beritahu Pakde jika Kak Daren memang jahat sama aku, Pakde boleh hukum aku kalau aku salah. Sekarang kita pulang dari pada berdebat di sini nggak akan ada habisnya."


Setelah perdebatan singkat itu akhirnya Aldi dengan setengah hati memberi izin untuk Daren ikut serta bersama mereka.


Cukup jauh mereka berkendara. Melawan hembusan angin malam yang tidak baik untuk kesehatan. Jalanan masih ramai lalu lalang orang yang bepergian entah ke mana.


setelah sekitar satu jam mereka berteman dengan aspal jalanan, akhirnya mereka sampai di halaman rumah yang sederhana dan tak terlalu besar.


Aldi yang membawa kunci rumah segera turun dan membuka pintunya lalu menyalakan semua lampu. Rumah itu tak sendirian, meskipun harus memasuki gang sempit untuk sampai di sana. Banyak rumah yang berdempetan, sehingga dari segi lingkungan Senja akan aman jika berada di sini.


Mereka bertiga masuk rumah, mengedarkan pandangan ke seluruh sudut bangunan tersebut. Cukup bagus meskipun tak besar.


"Di sini kamu InsyaAllah aman, Nja. Rumahnya, kan sembunyi banget banyak tetangga juga di sini. Jarak kantor Pakde juga sekitar lima sampai sepuluh menit aja. Besok di rumah aja, jangan ke mana-mana, secepatnya akan Pakde kabari kalau untuk urusan pekerjaan."

__ADS_1


"Iya, aku nggak akan ke mana-mana."


Pandangan Aldi beralih pada Daren. Pria itu masih duduk diam seraya mengamati langit-langit rumah.


"Kamu masih ngapain di sini? Ayo pulang, Senja juga harus istirahat. Oh, ya kamu saya izinkan untuk tahu alamat Senja karena dia yang minta, ya. Kalau sampai terjadi apa-apa sama ponakan saya, kamu adalah orang pertama yang saya cari." Aldi memberi peringatan dengan tegas.


"Iya, Pakde. Pakde tenang aja, saya nggak akan melakukan hal buruk. Kalau saya ada niatan seperti itu, saya sudah melakukannya dari dulu. Saya justru akan bantu Pakde jaga Senja."


Aldi lalu berjalan keluar rumah tanpa menjawab lagi. Kini menyisakan Senja dan Senja yang masih berdiri mematung di ruang tamu.


"Aku pulang, ya. Pakde kamu galak. Kamu jaga diri di sini. Kalau ada apa-apa hubungi aku. Kayaknya semesta juga nggak mau kita pisah jauh-jauh. Kos aku ada di desa sebelah, paling kalau dari sini lima belas sampai dua puluh menit aja. Kalau ada apa-apa hubungi aku, ya." Daren menangkup wajah Senja dengan salah satu tangannya. Jari jemarinya ia goyangkan untuk mengelus pelan pipi lembut Senja. Kepalanya celingukan ke arah luar rumah dan


Satu kecupan mendarat bebas di kening Senja. Siapa lagi kalau bukan Daren yang melakukanya, pria itu bergegas pergi dari hadapan Senja ketika gadis itu terkejut dengan tingkah kekasihnya. Wajah Senja memerah seketika, tangannya tergerak untuk mengelus kening lebarnya.


"Dasar," gumam lirih Senja lalu berjalan keluar rumah untuk mengantar kepergian Pakde dan kekasihnya.


***


Ketegangan terjadi di tempat lain, sejak tadi Manda tak berhenti mondar-mandir di teras karena Senja tak kunjung terlihat pulang. Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam saat motor Aldi sampai di rumahnya.


Manda pun mengernyitkan kening. Dari mana gerangan sang Kakak, tak biasanya pria itu keluar rumah hingga larut malam begini.

__ADS_1


Kaki Manda pun ringan melangkah menuju ke rumah yang berada di depan rumah Ibunya. Menyebrangi jalan yang tak luas dan


"Kakak dari mana? Tumben banget jam segini baru pulang dari luar?" Manda bertanya seakan dirinya adalah istrinya saja.


"Kamu sendiri ngapain jam segini di luar rumah?" Alih-alih mengindahkan pertanyaan Adiknya, Aldi justru kembali melempar pertanyaan.


"Aku nunggu Senja, jam segini belum pulang."


"Tumben, malaikat apa yang masuk ke dalam tubuh kamu sampai kamu peduli sama dia?"


"Bukan orangnya yang aku pedulikan, tapi uang. Aku harus bicara dengan anak itu agar mau menikah sama Leo, si pengusaha kaya yang lagi jatuh hati sama Senja."


"Kenapa nggak kamu aja yang nikah sama dia? Nggak cukup apa kamu rusak batin, mental dan fisik Senja. Aku, tuh heran sama kamu, sejahat-jahatnya manusia pasti masih ada sisi baiknya. Bahkan hewan pun seperti itu. Tapi lihat diri kamu! Sisi baikmu sudah hilang entah ke mana perginya. Seharusnya kamu bangkit, Manda! Kamu terlalu lama dalam kubangan lumpur, sudah telalu lama kamu tenggelam di sana. Kamu akan selamanya kotor jika kamu tidak ada niatan untuk keluar dari masa lalu yang perlahan menghacurkan kamu. Kamu tidak benci dengan masa lalu kamu, justru kamu terlalu mencintainya, kenapa Kakak bilang gitu? Karena kamu nggak bisa damai dengan apa yang terjadi di masa lalu. Kamu nggak mau lupa. Kamu terlalu menikmati masa lalu mu yang kelam, masa lalu yang seperti neraka, sampai kamu tidak bisa melihat cahaya dan surga di depan mata. Tidak perlu menjawab ucapanku. Pikirkan saja apa yang akan kamu katakan nanti pada pria kaya itu, ketika Senjamu tak lagi kembali pulang."


Aldi masuk rumah dengan emosi yang masih berada di kepala. Pria itu tak tahu lagi harus menghadapi adiknya degan cara apa dan bagaimana. Diberi tahu dengan cara baik di bantah, di perlakukan kasar ia menangis dan mengatakan tak ada yang sayang dirinya, dibiarkan pun semakin ngelunjak dan tak tahu diri.


Sementara Manda kembali ke teras rumah dengan kesal seperti biasa. Namun, ada yang mengganjal di kepalanya.


"Apa maksudnya Senja tak kembali pulang? Ah Kak Aldi hanya emosi saja. Dia, kan sering ngomong yang aneh-aneh." Manda tak mau ambil pusing dengan ucapan sang Kakak. Ia kembali duduk di teras dengan tatapan yang masih ia arahkan ke jalan. Menunggu dengan gusar dan mulai mengkhawatirkan nasibnya besok pagi.


Ya, Fais tadi sempat mengatakan bahwa Leo akan ke sini pagi-pagi demi menjemput Senja bekerja. Pria itu rela menyisihkan waktunya demi gadis sederhana yang ia siksa dari lama.

__ADS_1


__ADS_2