
"Tapi aku tidak peduli padamu Bagaimana mungkin kau mementingkan aku?"
"Itu urusan ibu. Ibu mau nggak sayang aku, nggak peduli sama aku, kewajiban aku tetaplah menghormati ibu sebagai ibuku. Bu, aku ke sini untuk melepas rindu bukan untuk membahas yang lain. Aku ingin sehari ini saja, Bu. Sehari ini saja aku meminta waktu Ibu, biarkan aku ngobrol sama Ibu untuk hari ini saja.
"Ya." Manda melanjutkan langkah untuk masuk kedalam rumah. Ia meneruskan langkahnya ke dapur.
Senja, Aldi dan Laura mengikuti dari belakang lalu duduk di ruang tamu.
"Pakde. Aku datang ke sini untuk mengatakan sesuatu." Senja menengok ke halaman, memastikan bahwa Leo ada di dalam mobilnya. Ia melanjutkan bicara begitu melihat Leo ada di dalam kendarannya.
"Apa? Kamu mau kabur?" Aldi menebak dari gelagat Senja.
"Bukan. Aku mau minta tolong ambil anakku ketika aku sudah melahirkan nanti."
"Apa? Bagaimana bisa, Senja? Bagaimana caranya Pakde ambil anak kamu? Pakde mau ambil kamu aja sepupu kamu udah kena imbasnya." Aldi seketika bereaksi seakan ia tak bisa membantu keponakannya.
"Jangan berulah dengan mereka. Lagipula untuk apa kau ambil anakmu? Kalau kau rawat anak kembarmu itu seorang diri, kau akan kesulitan. Merawat anak tidak mudah. Kalau kau serahkan mereka pada bapaknya, kau bisa memulai semua dari awal. Masa depan, pernikahan, dan kebahagiaanmu sendiri nantinya." Manda yang baru datang dari belakang dengan membawa senampan penuh minuman dan juga camilan ikut menyahuti ucapan Senja.
"Ibu, aku nggak mau kalau anak-anakku di bawa sama mereka. Mereka orang orang jahat."
"Ya kalau kau minta bantuan Pakde mu. Apa yang bisa dia lakukan? Kau pikir keluargamu ini orang berduit yang bisa nyuruh-nyuruh orang untuk melakukan sesuatu?"
"Pakde bisa minta bantuan Ayah, kan? Pakde masih berhubungan dengan Ayah, kan? Aku dengar perusahaan Ayah bermasalah setelah Leo posting rekaman itu."
__ADS_1
"Jangan bawa-bawa dia. Kau nggak punya Ayah."
"Manda, bisa diam tidak?! Anakmu sedang berusaha memperjuangkan haknya dan kamu sejak tadi menyangkal terus menerus. Lebih baik diam dari pada bersuara tapi menjatuhkan semangat orang."
Senja yang tadinya ingin membicarakan rencananya harus tertunda sesaat karena kakak beradik itu justru adu mulut di depannya. Ternyata mereka belum berubah, sejak Senja kecil hingga ia akan memiliki anak, mereka tetap saja mendebatkan topik yang sama.
"Udah dong, Pakde, Ibu. Aku ke sini untuk cari jalan keluar dengan cepat. Aku juga mau ngobrol sama Ibu. Waktu aku nggak banyak."
Mereka semua diam.
"imana Pakde? Masih berhubungan sama Ayah, kan? Ayah pasti bisa melakukan sesuatu, Pakde. Operasiku sudah diatur tanggalnya. Aku berencana untuk operasi sehari sebelum jadwalnya. Biar Leo nggak nemenin aku. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Karena Leo akan lagsung membawa anaknya begitu mereka lahir. Leo nggak kasih aku izin untuk bertemu dengan anak-anak."
"Kamu merencanakan ini pun tidak mudah..."
"Kamu ingin bertemu ayahmu? Kamu bisa bicara langsung denganya nanti."
"Nggak, Pakde. Aku takut nanti Ayah malah kehilangan kendali ketemu sama Leo. Udah cukup sekali saja Ayah terluka karena pria kejam itu."
"Ayahmu terluka? Kok bisa?" sahut Manda. Entah sadar atau tidak ia menanyakan begitu, dengan nada terkejut tak percaya.
Apakah Senja tidak salah dengar? Ibunya mengakui Akmal sebagai ayahnya. Padahal semua orang tahu jika Senja membahas soal Akmal, maka wanita itu pasti akan murka.
"Ya, Bu. Ayah pernah ditembak anak buahnya Leo ketika dia berusaha untuk menolongku membawa pergi dari rumah Leo. Aku tidak tahu bagaimana kabar kelanjutannya, aku hanya tahu kalau ayah baik-baik saja setelah beberapa hari di rumah sakit dan setelah itu, Ayah nggak pernah datang lagi ke rumah Leo. Aku paham kenapa kalian tidak berusaha untuk mengambil aku lagi, tidak perlu dijelaskan. Pakde, waktuku tidak banyak, aku harus menjelaskan apa yang harus Pakde sampaikan pada Ayah."
__ADS_1
Mengalirlah rencana Senja yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari. Terlihat semua yang di sana hanya mendengar dan sesekali menganggukkan kepala, pertanda mengerti dengan penjelasan gadis yang beranjak dewasa itu.
"Mudah-mudahan apa yang sudah kamu rencanakan ini berjalan dengan lancar. Pakde bangga sama kamu, Pakde masih nggak percaya kalau kamu bisa sekuat ini. Di sana kamu pasti nggak ada deama nangis lagi, kamu udah kebanyakan nangis di sini. Air matamu juga pasti lama-lama akan habis." Aldi mengatakan itu seraya melirik Manda, seakan ucapannya itu ia tujukan untuk adiknya.
Baru saja hendak menanyakan kenapa ibunya lebih kurus sekarang, Leo datang dengan membawa wajah dinginnya dan mengajak Senja untuk pulang.
"Apa kau tidak punya hati? Dia baru saja bertemu dengan keluarganya setelah setahun kau pisahkan. Seharusnya kau sadar diri, kau membutuhkan dia, tapi kau nggak bisa menghargai dia. Laki-laki kok nggak tahu malu." Aldi bicara tanpa menghadap ke arah Leo.
"Tidak tahu malu? Aku membeli keponakanmu itu dari ibunya sendiri. Kenapa aku harus malu dengan kalian?"
"Sudah Pakde sudah. Kita hanya buang waktu saja jika bicara dengan orang kaya tapi miskin otak dan etika. Aku ke rumah Lei dulu, ya. Aku nitip Ibu. Sebentar lagi aku sudah melahirkan, aku yang akan jaga Ibu kalau sudah kembali ke sini. Pakde dan Bude Laura jaga diri dan kesehatan, ya." Senja beralih menatap ibunya.
"Buat Ibu. Makasih pelukannya hari ini, ya. Aku bahagia banget. Sayangnya kita nggak usah ngobrol lama. Nggak apa-apa, sebentar lagi kita akan bersama."
"Aku melakukan ini untuk nenekmu, bukan ungukmu."
"Iya, mau demi siapapun dan untuk siapapun, yang terpenting buat aku Ibu peluk aku. Aku nggak mikir yang lain Ibu juga jaga kesehatan, ya. Jaga diri sampai aku pulang."
Senja mencium punggung tangan ibunya dan di susul mencium punggung tangan yang lainnya. Lalu beranjak pulang dengan senyum yang ia buat semanis mungkin.
Manda hanya menatap nanar punggung Senja yang manjauh hingga akhirnya lenyap karena masuk mobil.
"Ngobrol apa aja tadi?" tanya Leo begitu mobil berjalan.
__ADS_1