
Merasa lelah berlarian sejak tadi, mereka berempat membaringkan tubuhnya di atas rerumputan yang tumbuh di samping rumah. Di bawah pohon mangga yang rindang mereka menatap langit dengan nafas yang terengah-engah.
"Om, mangganya ada yang matang, tuh!" pekik Alana histeris.
"Ya terus?" sahut Leo.
"Manjat, gih. Aku mau."
"Ok. Kalau gitu Om yang akan manjat ke atas, tapi kalian bertiga nanti harus rebutan, begitu mangga jatuh siapa cepat dia dapat."
"Ok, siapa takut! Om Karang bantu tangkapin buat aku." Alana mengeluarkan jurus merayunya. Ia tersenyum manis dan mengerlingkan mata agar pemuda tampan itu mau membantunya.
"Enak aja. Ya nggak adil lah. Nanti aku nggak dapat dong. Om Karang nangkap buat dirinya sendiri lah. Namanya rebutan mana ada yang di tangkapin?"
"Aku, kan perempuan, mana bisa nangkap-nangkap? Nanti kalau kepala aku kejatuhan mangga gimana? Kamu pikir nggak sakit?"
"Ya sama aja lah, aku juga sakit kalau kejatuhan. Kamu pikir aku robot yang nggak merasa sakit kalau kejatuhan benda."
"Ya pokoknya aku mau di tangkapin sama Om Karang. Titik."
"Kalau gitu aku juga mau." Alan tak mau kalah.
"Nangkap sendirilah kamu, kan cowok."
Leo yang sudah biasa mendengar mereka debat, akhirnya mengikuti cara Senja yang membiarkannya hingga ada yang menangis.
Sementara Karang hanya diam menatap mereka bergantian. Pemuda itu merasa salah satu di antara mereka sama-sama kuat dalam berdebat. Sejak tadi tidak ada yang kalah bicara atau ada yang mau mengalah.
"Biarin mereka begitu, kita naik aja. Kita makan mangga di sana," ajak Leo pada Karang.
"Maksudnya, makan di atas pohon?"
"Iya. Kita ngobrol di sana. Ngobrol sebagai sesama pria dan pengusaha. Jangan takut kayak monyet. Kita makan mangga, buka pisang." Leo menggeret tangan Karang untuk ikut dengannya. Sementara si kembar masih tak sadar bahwa ke dua pria dewasa itu sudah duduk di atas pohon.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kah mereka dibiarkan bertengkar?"
"Tiap hari begitu, tenang aja. Nanti kalau ada yang nangis lari ke emaknya semua. Nih!"
Leo memberikan satu buah mangga matang. Karang hanya memutar-mutar mangga itu. Ia bingung bagaimana cara mengupas mangga tanpa pisau.
"Bingung cara makannya? Akan aku tunjukkan."
Leo menggigit salah satu sisi mangga dan mengambil buahnya saja. Lalu kulitnya ia letakkan asal di batang pohon yang berada di dekatnya.
Karang hanya tertegun. Sikap yang ditunjukkan Leo sama sekali tidak mencerminkan bahwa dirinya raja bisnis seperti yang ia lihat di internet semalam.
"Apa ini aman?" tanya Karang ragu.
"Coba saja. Aku melihat anak-anak kecil makan mangga begini, mereka masih hidup aja sampai sekarang. Mangga curian lagi. Ya, kayak kita gini." Leo terkekeh, ia harus rela mengubah sedikit prilakunya untuk membantu Senja dalam misinya.
Dengan ragu Karang mengikuti apa yang dilakukan oleh Leo. Satu gigitan, dan mengambil buahnya saja, mengunyahnya dengan pelan dan memang terasa nikmat.
"Enak."
"Sekali kali kita menikmati hidup itu nggak apa-apa. Jangan spanneng terus sama kehidupan. Kita sendiri yang susah. Jangan heran kalau aku begini, memang nggak mencerminkan pengusaha sama sekali, ya. Kebanyakan gaul sama si kembar. Aku jadi balik kayak anak kecil. Asal nggak ketahuan sama klien nggak masalah, kan."
"Pak Leo kenapa bisa sedekat itu sama Alan dan Alana?"
"Jangan manggil pak lah. Yang elegan, Mas atau Bang gitu biar kelihatan akrab aja. Nggak di kantor juga. Aku dekat dengan mereka, karena aku nggak punya siapa-siapa di dunia ini. Orang tua nggak ada, adik kakak nggak punya. Pasangan nggak ada."
"Serius nggak punya mereka semua?"
"Serius. Orang tuaku sudah meninggal sejak aku masih sangat kecil. Akhirnya aku diasuh sama Pamanku, dia mengajarkan kehidupan yang begitu kaku padaku. Hingga akhirnya aku tumbuh menjadi seorang yang kejam, dingin, tidak punya hati, pokoknya semua yang buruk-buruk sangat melekat di diri aku. Kamu bisa tanyakan ayahmu kalau kamu tidak percaya, aku sempat bekerja sama dengannya. Tapi semuanya berubah ketika aku mengenal Senja. Dia mengubahku dan mengajariku tentang banyak hal. Mengajari bagaimana cara menjalani hidup tanpa harus mengandalkan kekuasaan. Semua bisa dijalani dengan cinta."
"Bang Leo percaya dengan adanya cinta?"
"Why not? Cinta bisa di dapatkan dari mana saja dan siapa saja. Kenapa kamu tanya begitu? Kamu nggak percaya the power of love?" Leo mengambil satu lagi buah mangga. Ia rasa ia tak menyesal sudah mengikuti cara teman-temannya di masa lalu yang suka mengigit mangga bersama dengan kulitnya.
__ADS_1
Karang menggeleng lemah. "Aku tidak pernah melihat itu. Bagaimana aku bisa percaya?"
"Kalau begitu sepertinya kamu harus menanyakan hal ini pada Senja. Tanyakan pada dia bagaimana kisah hidupnya selama dua puluh sembilan tahun ini."
"Kenapa harus tanya pada Mbak Senja?"
"Dia punya kekuatan cinta yang luar biasa. Cobalah bertanya, aku yakin kamu akan merubah pola pikir itu nantinya. Kalau Senja gagal membuat kamu percaya dengan kekuatan cinta, aku akan menjadi karyawan di perusahaanmu gratis tanpa dibayar sepeserpun selama satu tahun."
"Sepercaya itu Abang sama Mbak Senja."
"Iya, aku sebenarnya jatuh hati padanya, aku sudah mengungkapkan perasaanku, tapi sampai sekarang ungkapan itu digantung seperti jemuran. Kesel aku lama-lama sama dia. Nanti kalau jemurannya diambil orang baru tahu rasa. Mau mangga lagi?" tawar Leo.
Karang ragu hendak mengangguk.
"Jangan sungkan! Anggap saja punya sendiri." Leo memetik kembali satu buah mangga dan menyodorkannya pada Karang.
"Kalau Mbak Senja dan ibunya marah gimana Bang mangganya kita habiskan."
"Tenang aja, masih banyak tuh yang mentah."
Mendengar cerita Leo, Karang mau tak mau menjadi penasaran dengan kisah hidup Senja. Memang kisah apa yang pernah dilalui oleh wanita itu, sehingga Leo sepercaya itu dan Karang harus menanyakan kehidupannya selama ini? Apa cerita Senja akan benar-benar mengubahnya? Berbagai pertanyaan kini pergelantungan di kepala Karang.
Mereka kembali melanjutkan obrolan dengan santai. Leo membagikan pengalamannya selama menjadi pengusaha. Jatuh bangunnya dirinya dalam menjalani kehidupan dan banyak lagi pengalaman yang ia ceritakan pada pemuda itu. Hingga sebuah suara dari bawah membuat Leo berhenti berucap seketika.
"Tuh, kan Bang. Alan sama Alana ngadu ke Mbak Senja. Mukanya serem banget lagi."
"Jangan takut, Senja nggak bisa marah. Santai aja, ya udah kita turun. Bentar aku mau ambil mangga buat si kembar dulu. Mampus, Rang. Sisa satu doang mangganya." Mata Leo menjalang ke segala arah mencari mangga yang matang.
"Kalian nggak dengar aku dari tadi teriak? Turun aku bilang!" teriak Senja sekali lagi.
"Bang, gimana ini? Aku baru kenal kalian, tapi bikin masalah. Udah di tolong kayak nggak tahu terima kasih." Karang semakiin takut mendengar lengkingan Senja.
"Ada aku. Cobalah untuk tenang. Sudah ku bilang Senja nggak bisa marah, yuk turun!"
__ADS_1