Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
73. Kakak Adik


__ADS_3

Di bulan ke enam Karang training kepemimpinan, ia diikutsertakan menjadi anggota seminar perusahaan baru. Ia dituntut untuk mempromosikan perusahaannya agar perusahaan dikenal banyak orang dan syukur-syukur jika ada pemimpin perusahaan yang menanam saham atau bekerja sama dengan perusahaan Karang.


Hal itu tidak mudah dilakukan bagi Karang. Biar bagaimanapun ia baru masuk ke dunia kerja. Apalagi dirinya langsung menjabat sebagai pimpinan hal itu berat untuknya.


Hingga saat ini pun, Karang tidak banyak berubah. Ia masih malas-malasan seperti awal-awal datang ke kantor. Namun bedanya, ia sudah jarang melakukan hal-hal yang menjadi kebiasaannya beberapa tahun terakhir.


"Bagaimana, Mas Karang sudah siap melakukan presentasi? Berdiri di depan banyak pemilik perusahaan besar, termasuk Pak Akmal."


"Hm."


Karang sebenarnya malas, tapi lagi-lagi ia melakukan semua ini dengan terpaksa. Selain ancaman yang diberikan oleh sang Ayah, Ibu karang juga terus-terusan memohon agar ia belajar sungguh-sungguh dan menjadi pemimpin perusahaan yang benar.


"Yang dikatakan Papa benar, Rang. Kamu laki-laki, suatu saat nanti kamu akan menjadi seorang kepala keluarga. Mungkin sekarang kamu tidak memikirkan hal itu, tidak mengarah ke sana. Hal itu wajar, karena kamu masih muda, tapi lambat laun pasti kamu akan menginginkan sebuah keluarga juga. Kalau kamu main-main sekarang, masa depan kamu dipertaruhkan. Mama nggak mau kamu menyesal nantinya. Kamu harus memaksa diri kamu untuk berhasil sekarang."


Merasa tak tega dengan permohonan yang terus-menerus dilontarkan oleh sang Ibu, membuat Karang memaksa dirinya untuk menjadi sosok yang Clara minta. Meskipun dengan setengah hati ia akan tetap lakukannya.


Ini adalah pertama kalinya bagi Karang, berdiri di depan banyak orang-orang sukses. Melakukan presentasi sudah biasa baginya, tapi untuk yang ini entah kenapa membuat jantungnya berdebar.


Karang menatap deretan kursi di depannya. Menatap puluhan pasang mata yang terfokus padanya, tidak ada satupun manusia di depannya yang tidak melihatnya. Hingga kedua bola matanya tertuju pada sosok yang begitu ia kenal. Melihat sosok itu membuat Karang teringat pertengkarannya tadi pagi.


"Jangan sebut nama Papa, jangan bilang kalau kamu anak Papa, kamu harus sukses dengan caramu sendiri, tanpa bantuan dari Papa."


"Memangnya kapan aku pernah bilang ke orang-orang kalau aku anaknya Akmal? Terakhir kali orang-orang tahu aku anaknya Akmal, aku malah mendapatkan tatapan iba dan tatapan tidak bersahabat."


"Kenapa setiap kita bicara kamu selalu mengarahkannya pada masa lalu, Karang? Seakan-akan sikapmu itu tidak pernah salah saja."


"Ya aku begini, kan karena Papa juga."


"Karang bisakah kamu melupakan masa lalu dan hidup di masa sekarang dan masa depan. Kamu akan menyesal jika tenggelam di sana. Kalau kamu tahu kehidupan Kakak kamu, mungkin kamu nggak akan seperti ini."


Dengan berdebat saja sudah membuat mood Karang rusak. Ini lagi di tambah Akmal membawa saudara tiri yang tak pernah Karang pedulikan.


"Aku nggak punya Kakak. Aku anak tinggal."

__ADS_1


"Mau tidak mau kamu harus terima, kamu punya kakak."


Perdebatan itu dihentikan oleh Karang dengan membawa tubuhnya pergi dari meja makan. Menyambar tas yang selalu ia bawa saat bekerja dan berjalan cepat keluar rumah.


Mencoba acuh dengan pandangan yang mengarah padanya, Karang memperkenalkan perusahaannya dengan sedikit gugup dan terbata, namun hal itu tidak membuat presentasi Karang menjadi buruk. Penjelasannya masih bisa diterima dan diapresiasi oleh beberapa milik perusahaan besar.


Di antara para pengusaha yang hadir,  ada satu orang wanita yang duduk di tengah-tengah seraya mengingat-ingat siapa pemuda yang sedang melakukan presentasi.


Senja yang diutus atasannya menghadiri seminar tersebut, nampak tidak fokus dengan penjelasan Karang. Ia justru lebih fokus pada wajah pemuda itu yang tidak asing baginya.


"Ya Tuhan, aku bosan sekali lebih baik aku pergi dari sini. Yang penting aku sudah mengantongi beberapa poin penting dari setiap di peserta."


Kepergian Senja disusul oleh Karang. Pemuda itu juga meninggalkan ruangan begitu presentasinya dirasa selesai.


"Mas Karang hebat, untuk presentasi pertama meskipun sedikit gugup, kelihatan banget gugupnya, tapi nggak papa semuanya perfect. Kelihatannya Mas Karang selama ini tidak pernah mendengarkan saya, tapi rupanya diam-diam Mas Karang menyerap ilmu saya."


"Biasa aja. Itu umum terjadi pada seseorang yang sebenarnya cerdas, tapi terlihat berandalan."


"Semua, semua yang ada di situ pasti akan menghubungimu nanti, kecuali Papa. Aku yakin dia nggak akan melakukan apapun. Dia datang hanya untuk melihat perkembanganku."


"Apapun yang dilakukan Pak Akmal untuk masa depan Mas Karang, yang terbaik buat Mas."


"Yang terbaik aku sendiri yang menentukan, bukan orang lain."


Bruk!


Senja yang tak fokus pada jalanan tak sengaja bertubrukan dengan Karang.


"Maaf, saya tidak memperhatikan jalan, sekali lagi saya minta maaf," ucap Senja yang saat itu juga tertegur ketika melihat wajah Karang.


"Orang normal jalan pakai kaki, melihat pakai mata. Fokusnya ke depan bukan ke benda lain."


Mendengar nada bicara dan juga kata-kata yang dilontarkan Karang, membuat Senja teringat pada pemuda itu. Pemuda yang sudah membuatnya terlambat menjemput anak-anaknya.

__ADS_1


"Iya, itu sebabnya saya minta maaf." Senja masih berusaha merendah karena ia sadar saat ini dirinya yang bersalah. Padahal emosinya masih membuncah ketika mengingat kejadian beberapa bulan lalu.


"Orang terlalu mudah untuk meminta maaf lalu kembali melakukan kesalahan."


"Itu artinya saya masih punya otak, daripada melakukan kesalahan tapi tidak meminta maaf, seperti yang pernah kamu lakukan beberapa bulan yang lalu. Kamu ingat saya?"


"Wanita yang sudah berniat ingin menabrak motor saya dari belakang, kan? Bicaranya saja yang besar ternyata."


"Sebenarnya saya ini nggak kenal kamu, loh, tapi dari awal ketemu kenapa kamu seakan mengibarkan bendera perang ke saya, kenal saja tidak. Manusia kurang didikan seperti ini diangkat menjadi pemimpin sebuah perusahaan, belum maju juga udah bangkrut."


Senja melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Telinganya masih mendengar Karang memanggil dirinya, namun dengan angkuhnya ia tetap melanjutkan langkah, tak peduli dengan panggilan itu, bahkan menoleh pun tidak Senja lakukan.


"Sialan, berani sekali wanita itu," sungut Karang kesal.


"Mas Karang kenal?"


"Nggak. Pernah ketemu sekali, ngajak ribut mulu omongannya."


"Oh, ya? Ketemu di mana?"


Mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang.


"Jalan."


"Lalu apa yang terjadi? Kenapa sampai mengibarkan bendera perang?"


"Kenapa Pak Niko jadi mengurus urusan pribadiku? Tugas Pak Niko hanya menjadi baby sitter aku, kan?"


"Ayolah, aku ini orangnya fleksibel


Bisa menjadi teman, atasan, kakak, saudara, sahabat, bapak, apapun bisa. Nggak perlu formal juga manggilnya, harus ini, itu dan kaku banget kayaknya. Mungkin kalau lakuin di kantor dan banyak karyawan nggak apa-apa manggil yang seharusnya. Tapi kalau di luar seperti ini, atau kita lagi di ruangan, kayaknya bisa jadi kakak adik."


"Kakak adik?" ulang Karang nampak memikirkannya.

__ADS_1


__ADS_2