
Sejak pulang dari rumah Senja, hati Karang sangat merasakan kelegaan yang luar biasa. Meski belum tahu keputusan apa yang akan diambil, setidaknya ia sudah meringankan bebannya dengan bercerita.
"Mama sama Papa mau ke mana? Kok udah rapi."
"Mau nonton, kayaknya selama menikah Papa nggak pernah ngajak nonton Mama. Emang telat sih, tapi setidaknya kita bisa menikmati masa yang sudah hilang. Kita tidak bisa menikmati masa muda kita, tapi kita bisa menikmati masa tua kita, ya, kan Ma?"
Clara hanya mengangguk tersenyum.
"Kalian berubah banget, ya akhir-akhir ini. Ada apa sih?"
"Kita berubah ke dalam hal yang baik, kan. Semua orang bisa berubah Karang. Tidak ada kata terlambat untuk berubah selagi kita masih punya nyawa." Bu Clara yang menjawab. " Ya udah kita langsung berangkat, ya nanti telat."
Karang mengikuti kepergian kedua orang tuanya dengan ekor matanya. Merasa curiga dengan perubahan yang akhir-akhir ini ia lihat, membuat Karang ingin tahu apakah perubahan itu terjadi hanya di depan matanya atau memang benar-benar ada perubahan yang nyata.
Karang diam-diam mengikuti mereka dengan menggunakan ojek online. Sengaja Ia menggunakan ojek agar tidak terlalu kentara bahwa ia sedang mengikuti keduanya.
Pandangannya tak lepas dari mobil sang Ayah. Sejauh ini jalan yang mereka tempuh masih benar, jalan menuju bioskop. Beberapa saat kemudian entah kenapa hatinya merasa senang, karena kedua orang tuanya benar-benar memasuki pekarangan bioskop yang di mana kebanyakan penghuninya adalah anak muda. Bibir Karang yang jarang mengulas senyum, kini dengan sadar ia melengkungkan bibirnya.
"Ke jalan Flamboyan, Pak," ujar Karang pada driver ojek itu.
Melihat orang tuanya yang benar-benar masuk bioskop membuat Karang ingin melipir ke rumah Andra. Ia juga akan menikmati weekend yang tersisa setengah hari untuk bersama dengan sahabatnya itu.
Hari yang sama, udara yang sama, di bawah langit yang sama, tapi entah kenapa Karang merasakan hawa yang berbeda. Hawa kebahagiaan, ketenangan, dan kesenangan yang tidak bisa digambarkan oleh kata. Haruskah Ia melakukan apa yang dikatakan Senja tadi? Berdamai dengan masa lalu dan menikmati kehidupan dari awal?
__ADS_1
Ah tidak, sepertinya aku harus bertanya sama Mama. Apakah Mama sudah menerima masa lalu papa dan sudah ikhlas dengan kehadiran sosok anak yang sebelumnya Mama benci.
Lamunan Karang berhenti ketika tukang ojek itu membelokkan motornya ke pekarangan rumah Andra. Sudah merasa dekat dengan Andra dan keluarganya, Karang tidak perlu lagi sugkan untuk berteriak memanggil Andra dari luar.
"Dra," teriak Karang berjalan menuju teras.
"Woi gue di sini."
Hanya dengan mengatakan 'gue di sini' Karang sudah tahu di mana keberadaan Andra. Ia membelokkan langkahnya ke arah samping menuju Gazebo samping rumah. Dugaan Karang tidak pernah salah jika soal Andra. Nampak pemuda itu sedang asyik dengan game dan juga beberapa toples camilan serta beberapa gelas minuman.
Andra yang pernah masuk dalam dunia gelap pun, kini sudah mulai merubah dirinya dengan perlahan. Iya melihat Karang yang begitu tenggelam dalam dunia gelapnya dan menjadi saksi hidup bagaimana hancurnya Karang membuat ia tak mau berakhir seperti sahabatnya itu. Akhirnya denan perlahan, ia bangkit dan mulai memperbaiki diri.
Andra juga tak henti-hentinya mengingatkan Karang. Meski nasihatnya dianggap angin oleh pemuda itu, Andra tak putus asa. Ia merasa menjadi salah satu penyebab Karang masih dalam dunia yang salah, dan ia harus membawa Karang bersamanya juga untuk memulai perubahan.
"Bahagia banget, tuh muka," celetuk Andra meletakkan ponselnya.
Karang duduk di depan pemuda itu, membuka toplesnya dan seakan tanpa dosa mengambil makanan dan mengunyahnya dengan hati gembira.
"Gue mau cerita sesuatu yang belum pernah aku ceritakan ke siapapun."
"Itu omongan udah gue denger dari beberapa tahun yang lalu. Kalau lo mau cerita, cerita aja nggak usah pakai pembukaan."
"Ini beda Andra. Ini benar-benar berbeda. Ingat nggak sama perempuan yang pernah kita cegat mobilnya di jalan yang itu loh, yang jalan tikus."
__ADS_1
"Yang kita cegat banyak, nyet."
"Iya tahu, tapi perempuan yang gue bicarain ini yang ngancam mau nabrak motor kita itu loh."
Andra nampak mengingat-ingat sebelum ia mengangguk dengan mantap bahwa ia ingat perempuan itu.
"Jadi di suatu malam tuh, gue pernah dipukuli sama si Chiko sama temennya gue nggak kenal itu siapa..."
Cerita Karang berlanjut. Andra hanya diam mendengarkan dengan seksama. Sangat jarang ia melihat Karang bercerita dengan menggebu-gebu seperti ini. Bahkan nyaris tak pernah.
"Terus gimana? Apa rencana lo selanjutnya? Gua rasa omongan perempuan itu nggak ada salahnya, semua hal harus di coba dulu. Lo nggak akan tahu hasilnya kalau lo nggak nyoba."
"Kalau gue kecewa dengan langkah yang gue ambil?"
"Itu bagian dari kehidupan. Nggak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang nggak pernah merasakan kekecewaan entah karena apa yang dia inginkan tidak terwujud, atau dia kecewa sama orang di sekitarnya. Kita nggak akan lepas dari rasa itu, Rang."
"Apa menurut lo, gue harus ketemu sama Kakak tiri gue gitu?"
"Gue nggak maksa, tapi kalau gue jadi lo. Gue akan coba untuk nggak benci dia, nggak menyalahkan dia, karena jadi dia, gue yakin bukan perkara mudah. Dia sama lo sama-sama jadi korba keegoisan bokap lo. Gue nggak bermakna nyalhin bokap lo, tapi yang namanya manusia, kan bisa aja melakukan kesalahan besar. Seperti yang dilakukan bokap lo ke anak-anaknya. Kia hidup berdampingan dengan segala hal. Kesalahan, kekecewaan, amarah, dan hal-hal lainnya."
"Kok lo jadi bijak, sih?"
"Gue, kan udah dari lama ingetin lo, Rang. Lo nya aja yang anggap kata-kata mutiara gue kayak sampah."
__ADS_1
Obrolan mereka berlanjut kearah masa depan yang akan mereka raih. Sebentar lagi mereka akan menjadi sarjana, masa depan harus di tata mulai dari sekarang. Dan di hari itu, Karang memutuskan untuk fokus dengan kuliah dan perusahaan. Persoalan genk motor, club, miras, rokok, dan obat-obatan terlarang ia hentikan hari itu juga. Ia menambah kesibukannya dengan berkegiatan yang positif agar bisa lupa dengan barang-barang yang jujur saja membuat ia kecanduan dan susah untuk berhenti. Dan kegiatan ia teruskan hingga tiga bulan kemudian.