Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
95. Papa


__ADS_3

"Aku lihat Mama kok gemukan sekarang?" ujar Karang di suatu pagi.


"Masa? Iya, Mama bahagia soalnya."


"Papa udah bahagiain Mama beneran? Udah nggak pernah ribut lagi sama Mama?"


"Nggak. Kenapa memang? Nggak mau kami akur? Udah tua masa berantem terus."


"Kenapa nggak dari dulu aja akurnya?"


"Dulu Mama masih sibuk nyalahin Papa soal masa lalunya, nuntut ini itu, melarang ini itu. Itu sebabnya Papa selalu salah di mata Mama. Tapi setelah Ma sadar Mama salah, Mama berniat berubah sedikit demi sedikit. Akhirnya, ya yang terjadi sekarang ini."


"Mama udah nggak mempermasalahkan masa lalu Papa?"


"Nggak. Mau dipermasalahkan sampai kapan? Sampai kami mati begitu? Sia-sia dong hidup Mama buat mikirin itu doang. Semua orang punya masa lalu yang pahit, Nak. Mana ada manusia yang jalannya dari lahir lurus terus? Pasti ada beloknya, ada salahnya. Kamu juga harus belajar buat menerima, jangan kamu pelampiaskan masa kecil kamu yang hilang dengan masa depan kamu yang berantakan. Sekarang coba kamu pikirkan, bagaimana perasaan anak kamu nanti ketika dia tahu, ayahnya rusak di masa bujangnya. Iya kalau respon yang diberikan tetap baik, kalau kayak kamu begini bagaimana?"


Karang terdiam, membenarkan apa kata ibunya adalah pilihan yang langsung Karang pilih. Ia bukannya tidak memikirkan hal itu. Tapi pikirannya yang dahulu dengan yang sudah terpatri bahwa ia tak percaya cinta sudah membuat Karang gelap mata dan hati. Bagaimana ia memikirkan soal anak jika ia tidak bisa jatuh cinta pada siapapun? Begitu kira-kira pikir Karang.


Jatuh cinta? Usia Karang sudah hampir dua puluh tiga tahun, tapi ia belum pernah sama sekali mengalami apa itu cinta monyet. Di saat teman sebayanya sudah merasakan rasanya ciuman, ia mengenal gadis pun enggan.

__ADS_1


"Jangan bilang kamu nggak percaya cinta. Kamu bukan nggak percaya, tapi nggak mau percaya. Kamu merasa cinta itu menyakitkan, karena kamu lihat Mama sama Papa, iya, kan? Kalau kamu dulu lihat kami, sekarang juga harus lihat. Kekuatan cinta Mama juga ikut berperan dalam perubahan Papa. Terkadang meruntuhkan sedikit ego itu perlu."


"Apa yang membuat Mama berdamai dengan masa lalu? Apa yang terjadi sampai Mama merubah pola pikir mama yang tidak ingin di nomor duakan."


"Mama sebenarnya sudah bertemu dengan Kakak kamu sekali. Papa kamu yang minta, awalnya Mama terpaksa, tapi begitu Mama ketemu sama dia ternyata hati kakakmu itu begitu mulia. Dia punya hati yang baik, dia nggak punya amarah sama kita, dia nggak ngambil Papa dari kita. Malah sebenernya dia itu mau ketemu sama kamu, mau juga kita semua menjadi sebuah keluarga. Dia punya masa lalu yang pahit juga Karang. Kamu ingat Papa bilang ke kamu kalau kamu harus belajar banyak dari Kakak kamu? Ya memang kamu harus banyak belajar darinya, karena kehidupan dia juga nggak mudah. Intinya begini kesalahan Papa yang dulu itu berdampak pada kamu, Mama, Kakak kamu dan juga ibunya dia. Kita sama-sama korban, tapi cara kita menghadapi kenyataan itu sangat jauh berbeda. Nggak ada salahnya kalau kamu mau coba sekali untuk bertemu sama dia."


Karang lagi-lagi diam. Entah sudah berapa banyak orang yang meminta dirinya untuk berdamai dengan segalanya dan juga mencoba untuk menemui sang Kakak. Namun, hati Karang masih begitu ragu.


***


Tiga bulan yang berlalu begitu saja nyatanya tak mampu membuat status Leo dan Senja berubah menjadi lebih dari teman. Entah apa yang salah dengan Senja, wanita itu sama sekali tak pernah menyinggung jawaban soal pernyataan Leo yang pernah mengatakan bahwa ia mencintainya.


Sudah satu bulan ini pria itu sama sekali tidak menghubungi Senja ataupun kedua anaknya. Ia menghilang begitu saja bak ditelan alam. Sengaja ia melakukan itu karena ia ingin tahu bagaimana reaksi mereka jika tidak ada Leo dalam kehidupannya.


Dan nyatanya yang terjadi adalah dalam satu bulan itu, ketiga manusia yang sangat dekat dengannya jatuh sakit bergantian. Kabar itu ia dengar dari Manda dan Karang. Mereka mengatakan bahwa Alan dan Alana demam karena memikirkan Leo yang tidak ada kabar.


"Abang nggak kasihan sama anak-anak? Mereka bilang ke aku katanya mereka mikirin Abang. Kenapa nggak pernah datang ke rumah ditelepon juga nggak pernah diangkat. Mereka berpikir bahwa mereka punya salah ke Abang. Kalau mau ngasih pelajaran ke Mbak Senja kira-kira dong, Bang jangan jadikan anak-anaknya korban juga."


"Ya, kan aku nggak tahu kalau mereka juga jadi mikirin aku. Kalau kamu main ke sana telepon aku lagi, ya. Biar aku ngobrol sama mereka. Jangan ada Senja, aku mau Alan sama Alana aja."

__ADS_1


"Nanti aku jam istirahat rencananya aku mau ke sana."


"Sejak kapan kamu dekat sama mereka? Jangan ambil alih posisiku, ya."


"Sejak kita ngobrol di atas pohon itu aku sering main ke rumah Mbak Senja. Aku merasa ada teman kalau bermain dengan Alan dan Alana."


Dan hari itu yang terwujud juga. Alan dan Alana bisa bersua by video call dengan Leo. Nampak guratan dan senang di wajah kedua anak polos itu. Berbagai pertanyaan ala anak kecil mereka lontarkan. Cukup lama mereka menuntaskan hasrat kerinduan yang sudah terpendam selama satu bulan tak bersua.


"Alan sama Alana, Om mau nanya nih sama kalian," ujar Leo tiba-tiba bicara serius. "Kalian mau nggak kalau panggil Om Leo, Papa?"


Sejak awal pertemuan Leo dengan anak-anaknya, ia tidak pernah menanyakan hal ini sekalipun. Ini adalah kali pertama ia menanyakan soal sensitif ini.


Alan dan Alana nampak saling pandang.


"Kata Mama kita itu punya Papa, Om. Tapi Papa lagi pergi, nanti kalau ada waktunya Mama mau temuin kita sama Papa, tapi nggak tahu kapan. Emang boleh kalau punya Papa dua?" jawab Alana.


"Nggak gitu, Sayang. Alan dan Alana tetap punya satu Papa. Bukannya kalian pernah bilang kalau setiap kali kalian tanya soal Papa ke Mama, pasti Mama akan sedih? Bagaimana bisa Mama mempertemukan kalian sama Papa kalau setiap ingat Papa saja Mama selalu sedih? Kalau kalian mau, Om Leo secepatnya akan menjadi Papa kalian. Kita bisa sama-sama terus, kita bisa main bareng, terus kita bisa tidur bareng-bareng. Apapun bisa bareng-bareng."


"Om Leo akan tinggal di rumah ini kalau mau jadi papanya kita?"

__ADS_1


"Iya. Mau nggak?"


__ADS_2