Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
30. Senja Yang Malang


__ADS_3

Akmal bersiap akan ke rumah Leo. Jam menunjukkan pukul delapan malam ketika Clara mengantarnya ke teras. Wanita itu nampak ingin merubah rumah tangganya menjadi lebih baik. Ia lakukan ini demi Karang yang sudah banyak perubahan dalam kesehariannya. Sudah mulai banyak bicara dan sering bertukar cerita mengenai hari-harinya di sekolah. Clara sudah berhasil membuat Karang percaya bahwa ia sudah berubah.


"Aku keluar sebentar, ya."


Satu kecupan tiba-tiba mendarat dengan mulus di kening Clara. Wanita itu nampak tertegun sesaat, belasan tahun menikah tak pernah ia mendapat kecupan seperti ini kecuali hari pernikahannya.


Clara melihat punggung suaminya yang sudah menjauh dan memasuki mobilnya. Rasa terkejut yang ia rasakan tadi berubah menjadi sebuah kecurigaan. Suami yang biasanya sangat dingin tiba-tiba bersikap romantis? Biasanya orang yang seperti itu sedang menyembunyikan sesuatu, atau sedang melakukan kesalahan besar. Ia bersikap manis pada korbannya agar mendapat simpati atau maaf ketika kebusukannya terbongkar.


"Cie, Mama mukanya masih kaget habis dicium Papa," ledek Karang di tengah pintu.


"Kamu ngintip, ya tadi. Dasar, Mama cubit kamu, ya." Karang berlari seraya tertawa ketika Clara memberikan gestur ingin mencubitnya.


***


"Tuan sedang keluar, Pak," jawab satpam yang bertugas menjaga rumah Leo.


"Kalau begitu aku ingin bertemu dengan istrinya."


"Nyonya juga ikut bersama dengan Tuan."


"Apa? Jadi di rumah ini tidak ada orang? Termasuk gadis yang akan dijadikan istri ke dua?"


"Benar, Pak. Mereka sudah pergi sejak sore tadi."


"Ke mana dan kapan akan kembali?"

__ADS_1


"Untuk itu bukan ranah saya untuk memberi tahu, Pak. Lagipula Tuan Loe juga tidak memberikan informasi apapun mengenai ke mana perginya dan kapan akan kembali."


Akmal mengusap wajahnya kasar. Ia tak tahu maksud kepergian Leo ini untuk kepentingan lain atau untuk menyembunyikan Senja. Jika ia menunggu mereka kembali pulang, ia khawatir mereka kembali ke sini ketika keadaan sudah terlambat untuk menolong anaknya. Tidak ada pilihan lain, ia harus mencari ke mana perginya Leo dan istrinya.


"Kalau begitu, terima kasih, ya, Pak. Saya permisi." Akmal beranjak dari sana.


Tak ada pilihan lain, ia harus meminta bantuan pada anak buahnya untuk mencari keberadaan Leo. Ia tak mau terlambat untuk menolong anak gadisnya.


Tak ada waktu untuk memikirkan kesalahannya, masa lalunya dan juga reaksi Senja nantinya jika ia tahu pria yang selama ini ia kenal sebagai bos adalah Ayahnya. Yang terpenting sekarang adalah dua hal yang sudah ia janjikan pada Bu Patmi.


"Halo, cari Leo sampai dapat. Kerahkan semua koneksimu di seluruh kota. Aku tidak mau menerima kabar yang nggak bermutu. Untuk kali ini kalian harus becus! Aku bayar kalian mahal bukan untuk melihat kegagalan kalian!"


Suara Akmal yang menggema menyatu dengan suara angin malam membuat nada bicaranya semakin terdengar mencekam. Pria itu memang di kenal galak suka marah-marah di kalangan anak buahnya.


Kepala Akmal terasa semakin pening saat melihat barian mobil di depannya yang berjalan merangkak. Entah apa penyebab kemacetan malam itu. Hal ini membuat daftar kesialan Akmal bertambah banyak.


"Iya, Kak. Kenapa?"


"Kau sudah lihat media sosial Leo?"


Akmal mengernyit, "Aku baru saja pulang dari rumahnya, tapi seakan dia tahu aku akan ke sana. Dia bawa pergi Senja dan istrinya keluar kota entah ke mana. Aku tidak peduli dengan sosial medianya, Kak. Untuk apa juga aku tahu?"


"Kau harus tahu. Buka sekarang!" Aldi memutus sambungan telepon begitu saja tanpa mendengar jawaban dari Akmal. Seakan ia lupa bahawa Akmal darlaha atasannya.


Perintah dari Aldi membuat Akmal bergegas membuka media sosial. Dan postingan Leo muncul paling atas di berandanya. Tangannya mengepal dengan kuat begitu melihat foto yang Leo posting.

__ADS_1


"Bangsat kau Loe," teriak Akmal memukul setir mobilnya.


Darah Akmal mendidih begitu melihat postingan pria itu. Foto yang menampilkan wajah anak gadisnya dan juga rekaman CCTV yang berada di kantor Akmal. Video yang memutar percakapan dirinya dan Akmal, dengan jelas dan lantang ia mengatakan bahwa Senja adalah anaknya.


Hancur sudah reputasi Akmal. Sudah di pastikan ia tak ada muka untuk menghadapi semua orang terutama Clara. Bicara soal Clara membuat ia semakin frustasi, ia berharap Clara tak mengetahui postingan ini.


***


Tatapan tak percaya Senja lempar pada potongan rekaman CCTV yang diperlihatkan oleh Leo. Matanya menatap nanar layar ponsel yang berada dalam genggaman tangan pria itu. Pelupuk matanya berembun mengetahui bahwa sang Ayah masih hidup. Bahkan ia mengenal pria itu dengan baik, ia sangat baik padanya. Sangat ramah pada semua karyawannya dan nampak berwibawa. Pria yang tak pernah menyombongkan apa yang ia punya. Bagaimana bisa pria yang ia kenal baik itu punya kesalahan yang begitu besar dan meninggalkan luka yang begitu dalam.


"Kau sekarang tahu siapa ayahmu, kan?Kau lihat ini? Aku sudah memberitahu kabar ini pada semua orang, sebentar lagi karir ayahmu akan hancur. Aku akan menghapus postingan ini jika kau dengn sukarela menyerahkan tubuhmu untukku. Kita akan program bayi kembar, aku hanya menyewa rahimmu. Kau tak perlu khawatir dengan uang. Akan aku berikan sesuai dengan yang kau minta."


Senja meludah tepat di wajah Leo, "Aku tidak peduli dengan karir dia. Seperti yang kau katakan dalam rekaman itu. Dahulu dia pergi, dan sekarang dia datang-datang dengan mengakuiku sebagai anak. Aku tidak peduli kau ingin melakukan apa padanya," ujar Senja dengan tegas, tapi sejak tadi air matanya mengucur dengan deras.


Plak!


Belum sembuh sudut bibir Senja yang tadi disapa oleh tamparan, kini di tampar lagi oleh Leo, menjadikan luka itu kembali berdarah dan semakin perih. Namun, tetap saja tak sebanding dengan luka hati dan batinnya yang semakin lebar dan dalam.


Leo mencengkram kuat kedua sisi pipi Senja. Gadis itu masih menunjukkan ekspresi menantang. Ia sama sekali tak takut dengan pria kejam itu. Sisi lain Senja yang tak pernah terlihat, kini benar-benar ia tampakkan.


"Kau sudah benar-benar melewati batasmu, barani sekali kau melempar kotoran di wajahku. Hidupmu tidak akan pernah lepas dariku Senja."


Leo melepas cengkraman itu dengan kasar. Dengan gerakan kasar pula ia menanggalkan semua pakaian yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya. Dengan beringas ia mendorong Senja ke ranjang.


Gadis itu tentu saja tak pasrah, ia memukuli lengan Leo dengan sekuat tenaga. Namun, pukulan yang ia berikan tak berpengaruh apapun pada tubuh kekar Leo.

__ADS_1


Pukulan dari Senja tak menyulitkan Leo untuk menanggalkan juga pakaian Senja. Ia lempar semua kain yang semula menutupi tubuh mungilnya. Tak peduli sejak tadi Senja berteriak minta tolong untuk dilepaskan, tapi tak ada yang menghiraukan.


Senja menangis sejadi-jadinya saat kepala Leo ditenggelamkan ke undukan lemak kembar yang begitu menantang adrenalin pria itu. Senja terus menangis dengan melemah, berharap Leo melepas pagutan tubuhnya.


__ADS_2