
Mata Senja kembali memanas saat melihat rekaman yang ditunjukkan oleh Leo. Sedih bercampur amarah menjadi satu, Senja tak bisa memilah dan memisahkan rasa yang bertolak belakang itu.
Di depan mata kepalanya sendiri, Senja melihat ibunya yang ditusuk dengan pisau dapur yang tergeletak di dapur rumahnya. Melihat ibunya yang meringis kesakitan dan darah mengucur begitu saja, membuat Senja merasa harus mengorbankan sebagai tempat tumbuhnya janin Leo.
"Masih mau berulah setelah ini? Coba saja kalau berani. Itu artinya kau siap kehilangan orang terdekatmu."
Senja tak bergeming, tatapan tajam ia pindahkan ke wajah Leo. Ia benci pria itu, pria pecundang yang memanfaatkan orang lain untuk kesenangan pribadinya. Ia lupa bahwa hidup di dunia ini ada hukum tabur tuai. Apa yang kamu tabur itulah yang akan kamu tuai. Baik buruk perbuatan akan tetap ada karma nantinya. Semua itu hanya soal waktu saja.
"Pecundang." Senja masih berani mengolok. Meskipun dengan suara dan nada yang pelan, tapi ucapannya penuh dengan penghinaan.
"Terserah kau mau bilang aku apa. Yang aku mau harus aku dapatkan. Sekarang tugasmu adalah katakan pada keluargamu bahwa kau baik-baik saja, tidak perlu mencarimu, katakan kau akan pulang jika memang waktunya pulang." Leo menyodorkan sebuah ponsel.
Senja masih diam menatap ke depan.
"CEPAT!" bentak Leo yang tak sabar lagi dengan perilaku Senja. "Jangan sampai membuat aku marah dan ibumu akan menerima akibatnya," imbuhnya.
Senja tak ada pilihan lain, Leo benar-benar membuatnya tak berkutik. Ia tak mau karena ia mempertahankan egonya, ia mengorbankan keselamatan ibunya. Akhirnya dengan berat hati, Senja kembali menghubungi Aldi dan mengatakan sesuai dengan apa yang Leo minta.
"Pakde, ini aku Senja. Aku cuma mau bilang kalau aku di sini nggak apa-apa. Nanti aku akan pulang kalau memang waktunya pulang. Berjanjilah padaku jangan cari aku dulu. Nanti aku pasti pulang. Aku baik-baik saja di sini, aku bisa menjaga diri. Salam buat Ibu dan Nenek. Jagain mereka dulu, sebelum aku pulang."
Dengan secepat kilat tangan Leo menyambar ponsel di tangan Senja dan memutus sambungan telepon itu.
"Bagus, seandainya saja kau lakukan ini dari dulu. Ibumu pasti akan baik-baik saja dan sedang menikmati uang dariku." Leo mengeluarkan kartu yang terpasang di ponsel tersebut dan mematahkannya jadi dua.
"Siapkan dirimu untuk nanti malam. Kita harus ke rumah sakit untuk pengambilan sel kita. Lebih cepat lebih baik, jadi kau harus turuti dan jalankan apa yang dokter perintahkan." Tanpa mendengar jawaban dari Senja, Leo beranjak dari hadapan Senja.
__ADS_1
Rida yang sejak tadi diam melangkah kaki menuju di mana Senja berdiri. Dengan tangan ia silangkan di depan dada dan wajah angkuh ia berucap, "Kau harus sadar diri Senja, kau bisa di sini juga karena ibumu, kau kami bayar, begitu pula dengan ibumu. Kau sendiri yang membuat hidupmu susah jika kau..."
"Lebih baik kau diam! Kau wanita tak tahu diri, tak tahu malu dan tak punya hati. Aku tidak butuh kata-kata sampahmu itu."
Tangan Rida terangkat hendak memberi pukulan. Namun, kalah cepat dengan tangan Senja yang juga mencekalnya lalu membuang tangan itu dengan kasar.
Rida tersentak. Ia terkejut dengan perlakuan kasar dari gadis yang bahkan usianya masih dua puluh tahun. Rahangnya mengeras, tak pernah ia mendapat perlakuan seperti ini sebelumnya. Hidup dan dikelilingi orang-orang yang tunduk padanya membuat Rida tak terima dengan perlakuan yang senja berikan.
"Berani sekali memperlakukan aku dengan kasar!" Rida tak terima.
"Kau yang memulai. Apa Kau pikir aku akan diam jika tangan kotormu itu menyentuhku? Jangan pernah berharap hal itu. Aku Senja Kumala tidak akan pernah membiarkan kalian, manusia-manusia biadab memperlakukan aku dengan seenak hidupmu. Kau butuh aku, kan? Jangan pernah berulah! Sepertinya kau harus aku ingatkan dari sekarang. Anakmu nantinya akan lahir dari rahimku. Aku yang berjuang mengandung dan melahirkan nantinya, jadi kau harus menghargaiku juga. Apa kau pikir dirimu yang berkuasa di sini? Kau hanya istri, tapi aku yang berjasa membuat hidup suamimu bahagia, menjadikan dia dipanggil Ayah nantinya. Jika kau mati, kau akan dilupakan. Tapi aku? Akan selalu diingat karena aku satu-satunya wanita yang memberikan dia keturunan.
"Jaga mulutmu Senja! Kau sudah melewati batas." Rida menunjuk wajah senja dengan jari telunjuknya.
" Kau juga sikap kalau kau ingin aku jaga mulut. Jangan hanya mau dihargai tanpa menghargai manusia lainnya."
"Kau sudah mengambil masa depan dan juga hidupku. Karena kau dan suamimu, aku kehilangan segalanya. Untuk itu kau harus membayar dengan yang lebih mahal dari uang." Senja tersenyum miring, terlihat sangat licik.
"Apa maksudmu? Minta apa lagi kau dari kami, semiskin itukah kau?" ejek Rida.
"Kau ingin tahu apa yang aku minta darimu? Lihat saja nanti, seiring berjalannya waktu kau akan tahu, kau bermain dengan orang yang salah." Senja melepas cekalan tangan lalu meniup-niup telapak tangannya seakan tangannya berdebu. Lalu ia pergi dari hadapan Rida yang masih bingung dengan apa yang akan Senja lakukan.
***
"Dari siapa, Mas?"
__ADS_1
"Senja. Dia mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan tidak perlu mencarinya dia akan pulang tanpa dicari. Dia mengatakan itu pasti di bawah tekanan Leo. Tidak salah lagi apa yang terjadi pada Manda adalah ulah Leo. Pasti tadi pagi Senja ketahuan menghubungi aku itu sebabnya dia menggunakan Manda untuk mengancam senja agar mau menuruti apa katanya. Laki-laki kurang ajar!" Umpat Aldi tertahan.
"Kalau begitu kita turuti saja apa kata Senja. Apa ka..."
Tak sempat mengucapkan kalimat protesnya pintu UGD terbuka.
"Bagaimana keadaan adik saya, Dok?"
"Alhamdulillah, luka yang diterima tidak terlalu dalam. Akan sembuh dalam satu minggu sampai sepuluh hari."
"Alhamdulillah kalau begitu. Apa perlu dirawat, Dok?"
"Tidak, nanti sore bisa pulang."
Aldi dan Laura masuk ke ruangan UGD begitu dokter laki-laki itu pergi meninggalkan tempat. Manda Sudah sadar dengan tangan yang tertusuk jarum infus.
"Bagaimana keadaanmu?" Ada yang bertanya.
"Aku nggak apa-apa, Kak."
"Kamu tahu siapa yang melakukan ini?"
"Tidak, waktu itu aku sedang membungkuk mengambil sesuatu di kulkas tapi tiba-tiba ada yang menusukku dengan pisau. Untunglah aku berdiri cepat jadi tusukan tidak terlalu dalam."
"Siapa laki-laki yang menemuimu tadi pagi?" Laura yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
__ADS_1
"Dia mencari orang yang bersedia hutang di bank."
Mereka semua terdiam. Manda bingung menatap kakak ipar dan kakaknya yang sedang seperti memikirkan sesuatu.