
"Jadi siapa yang ambil rapor ku, Ma, Pa?" karang bertanya dengan harapan besar salah satu di antara mereka bersedia mengambil rapor di sekolah.
"Mama," ujar Akmal.
"Papa." Clara yang menjawab.
Mereka sama-sama saling melempar tanggung jawab. Sudah Karang duga, mereka akan berakhir ribut untuk urusan apapun. Sebentar lagi pasti akan terjadi perang mulut dan beberapa benda melayang, pecah dan hancur tak karuan.
"Kamu, kan Ibunya. Aku kerja, jangan egois kamu." Akmal dengan lantang mengatakan itu di depan Karang.
"Ya, besok aku ada meeting penting. Kamu, kamu kerja di perusahaan sendiri, bisa sesuka hati masuk jam berapa. Sekali-kali kamu yang ambil, jangan aku terus," protes Clara.
Karang yang masih berusia tiga belas tahun harus menelan pil pahit dengan menyaksikan orang tuanya yang terus bertengkar. Kalau tidak bertengkar ya saling diam dalam waktu yang sama.
Di usianya yang masih belia, Karang berpikir apa yang salah dengan kedua orang tuanya? Kenapa mereka selalu bertengkar dengan suara yang lantang dan kasar. Seluruh umpatan selalu ia dengar.
"Mbak, kenapa Mama sama Papa selalu bertengkar? Nggak pernah akur meskipun sehari. Sekalinya mereka nggak bertengkar, ternyata mereka saling diam." Karang bertanya pada baby sitternya beberapa tahun lalu.
"Maaf, Mas Karang. Mbak sendiri juga nggak tahu kenapa mereka sering bertengkar. Bukan ranah Mbak juga untuk tahu soal itu. Udah, Mas Karang nggak usah denger, ya. Nggak usah di pikirkan. Lebih baik kita lanjut belajar," bujuk babby sitter.
Tak ada yang tahu hingga kini penyebab mereka setiap hari bertengkar. Karang tak tak harus bertanya pada siapa. Pernah suatu ketika Karang bertanya pada ayah dan Ibunya. Jawaban mereka sama sekali tidak bisa di terima sebagai alasan untuk bertengkar.
__ADS_1
Karang hidup berkelimang harta, apapun yang ia mau akan ada di depan mata. Bahkan mungkin jika Karang meminta rumah dan mobil dalam hitungan jam akan ada dua benda itu di di depan matanya. Tapi Karang tak butuh itu, Karang butuh kedua orang tuanya, butuh kasih sayang, cinta dan perlindungan yang sama sekali tak pernah Karang dapatkan. Kedua orang tuanya sibuk bekerja dan bertengkar. Mereka tidak punya waktu untuk memberi perhatian pada anak semata wayangnya.
"Sudah, Ma, Pa. Tidak usah bertengkar." ucapan Karang berhasil menghentikan adu mulut mereka. Nampak Akmal dan Clara kompak menoleh ke arah sang anak.
"Kalian selalu saja bertengkar untuk hal-hal kecil. Kalau kalian nggak mau ambil rapor ku, ya sudah. Tidak usah diambil. Biar aku bilang sama wali kelasnya kalau aku punya orang tua tapi mereka sibuk sama dunianya." Karang melipir pergi setelah mengatakan itu.
Nampak wajah rasa bersalah dari wajahnya keduanya. Mereka lalu saking tatap dalam diam dan keheningan.
"Puas kamu? Kamu selalu memancing emosiku. Lupakan bahwa kamu punya anak. Kerjakan saja apa pekerjaanmu, peduli saja soal uang. Biar aku yang ambil rapor anakku," tukas Akmal berlalu dari sana menyusul sang anak yang sedang menenggelamkan kepalanya dengan bersandar ranjang.
Dengan pelan Akmal membuka pintu kamar Karang. Ia melihat pundaknya bergetar hebat, sedang berusaha menahan tangisnya agar tak terdengar telinga lain.
Akmal berjalan pelan ke arah darah daging satu-satunya. Duduk di sampingnya dan memeluk kedua kalinya yang di lipat ke atas.
"Lalu apa? Apa yang kalian lakukan tadi? Bukan hanya tadi, setiap hari kalian seperti itu, kalian bertengkar dan berlomba suara siapa yang paling keras. Seakan kalian lupa kalau kalian punya aku. Nggak memperhatikan perasanku. Apa kalian berpikir kalau aku tidak mengerti dengan pertengkaran kalian? Aku bukan bayi, Pa. Aku sudah tiga belas tahun," bantah Karang mendongakkan kepala dan menatap dalam sang Ayah.
"Iya, Papa tahu anak Papa sudah besar. Sudah mengerti dengan keadaan di sekitarnya. Maafin, Papa sama Mama, ya. Nggak seharusnya kami bertengkar di depan kamu. Maaf, biar besok Papa yang ambil rapor kamu. Jangan nangis, udah." Akmal merangkul pundak Karang yang masih terisak.
"Apa kalian tidak saling sayang sampai kalian tidak pernah akur satu sama lain?" tanya Karang tiba-tiba.
"Sering bertengkar bukan berarti tidak sayang. Ka..."
__ADS_1
"Lalu apa? Aku tidak pernah melihat kalian akur. Tidak pernah melihat kalian becanda atau menonton TV bersama. Seperti teman aku yang lain. Papa tahu? Aku punya seorang teman yang hidupnya sederhana, bahkan sangat pas-pasan. Tapi dia mendapatkan semuanya, kasih sayang, cinta, perhatian, waktu dari kedua orang tuanya. Dan semua itu tidak pernah aku dapatkan dari kalian. Aku iri sekali dengan dia."
"Kamu punya segalanya, Nak. Papa dan Mama sayang sama kamu."
"Tapi pernah kalian tunjukkan? Yang aku tahu kalian hanya bertengkar dan bekerja. Yang aku tahu, kalian lebih peduli dengan dua hal itu. Aku tidak pernah minta uang banyak, mainan banyak, apapun aku punya. Tapi aku nggak dapat apa yang aku mau. Aku hanya ingin waktu dan kasih sayang dari kalian. Apa aku harus membelinya dengan uang? Aku akan cari uang kalau memang itu yang kalian minta." Karang bangkit dari duduknya dan merangkak ke ranjang besarnya. Menidurkan dirinya dan menyelimuti seluruh tubuhnya hingga batas leher. Memejamkam mata berusaha tak peduli bahwa Ayahnya masih berada di sana.
Akmal menatap nanar anak kecil yang bertubuh kurus itu. Menundukkan kepala dan memijat pelipisnya, seolah ia sedang menyesali apa yang sudah ia lakukan.
Akmal beranjak mendekati anaknya dan mencium lama kening sang anak. Mengelus pelan kedua pipinya yang nampak tirus. Membenarkan letak selimut dan mematikan lampu. Lalu bergegas pergi dari sana.
'Aku tak tahu kenapa aku jadi egois seperti ini. Seandainya saja aku tidak kehilangan jejaknya. Seandainya saja aku tidak menikah karena melampiaskan amarahku, semuanya tidak akan seperti ini. Aku tidak akan mengorbankan dua orang yang harusnya aku jaga. Ini salahku, semua salahku. Hatiku masih terpaut satu nama yang hingga sekarang masih aku jaga. Tapi aku sendiri tak tahu, bagaimana dan apa yang sedang dia lakukan sekarang. Bisa jadi dia sudah bahagia dengan keluarganya. Sedangkan aku, terpuruk, terkubur, dan tenggelam dalam luka."
Akmal membuka pintu kamarnya. Ia melihat sosok wanita yang menemani harinya empat belas tahun terakhir. Wanita yang ia jadikan pelampiasan atas kehilangan seseorang yang ia cintai semasa hidupnya.
"Karang sedang apa? Apa dia marah lagi?" Untuk pertama kalinya, Clara mencairkan egonya dengan mengajak bicara Akmal lebih dulu.
"Tidur. Dia tidur dengan membawa kesedihan yang kita ciptakan. Kenapa kamu sangat susah mendengar apa yang aku pinta? Sudah berapa kali aku katakan untuk tidak bekerja."
"Bukankah aku pernah duduk diam di rumah atas permintaanmu? Aku pernah menuruti apa yang kamu pinta. Tapi kamu tetap tidak bisa menghargai aku sebagai seorang wanita dan istrimu. Kamu tidak berubah, lalu gunanya aku menurutimu apa? Lebih baik kita berpisah saja, biar Karang yang akan menentukan dia mau hidup dengan siapa."
"Jaga mulutmu! Jangan harap akan ada perpisahan di antara kita. Aku tahu bagaimana rasanya di posisi di mana aku harus menentukan aku harus ikut dengan Ayah atau Ibu. Jangan pernah memikirkan hal itu lagi."
__ADS_1
"Kalau itu maumu. Perbaiki sikapmu padaku. Aku tidak minta kamu nikahi, kamu sendiri yang datang pada orang tuaku dan mengatakan kamu mencintaiku. Aku baru tahu bahwa cinta sesakit ini."
Akmal dan Clara kembali bersitegang dengan menatap satu sama lain dengan tatapan penuh amarah.