
"Ya udah kamu makan dulu."
"Nggak usah Mbak, aku udah ngerepotin banyak banget dari semalam."
"Udah makan dulu, nanti kamu nggak akan Mbak izinkan pulang kalau kamu nggak mau makan."
Senja mendrong pelan punggung Karang agar berjalan ke arah meja makan dan mendudukkan pemuda itu di salah satu kursi.
Setelah memastikan Karang duduk dan mengambil makanan, Senja kembali pada ibunya. Wanita itu menjelaskan duduk perkara Karang tidur di rumahnya.
"Apa! Jadi dia anak ayahmu?"
Mengalirlah cerita kehidupan Karang yang masuk ke dunia gelap karena ulah sang Ayah. Tak lupa Senja juga menjelaskan bahwa ia berniat ingin mengubah Karang ke jalan yang benar.
Nampak Manda yang mengangguk setuju dengan rencana anaknya. Ia pun juga sepemikiran dengan Senja. Ia ingin semuanya damai dan baik-baik saja. Jika memungkinkan, Manda ingin mereka semua menjadi keluarganya.
"Aku mau mandi dulu, ya. Nanti Ibu ajak ngobrol Karang biar deket juga sama Ibu. Biar dia juga merasa punya keluarga yang waktunya tercurahkan untuknya. Dia cuman butuh itu sebenarnya."
"Iya, tenang aja."
Ketika Manda dan Senja sedang sibuk membicarakan Karang, Alana lepas dari pengawasan. Gadis ciliknya Senja itu sedang sibuk tanya jawab dengan Karang.
"Om! Om Karang kenal Mama dari mana?"
Alana duduk di kursi dekat Karang, mulutnya tak bisa diam, terus bertanya sekaligus mengunyah makanan.
"Ketemu di jalan. Kamu namanya siapa?" Baru semalam Karang tinggal di tunda Senja, namun kekakuan hatinya sudah mulai mencair sedikit demi sedikit.
"Alana, yang lagi main itu saudara kembar aku. Namanya Alan. Kalau udah selesai makan, main yuk!"
"Udah minta maaf belum?" sahut Manda berjalan ke meja makan.
"Minta maaf? Oh, ya lupa. Maaf, ya Om tadi aku ikut mukul Om."
"Iya, nggak apa-apa. Nggak sakit, kok. Nggak ada yang luka."
__ADS_1
"Oma, sih teriak maling. Jadi aku ambil senjata, kan."
"Kok kamu jadi nyalahin Oma. Main dulu sama Alan. Om Karang biar makan dulu."
Alana turun dari kursi dengan memajukan bibirnya beberapa centi. Sementara fokus Manda kembali pada Karang yang baru saja memasukkan nasi terakhirnya.
"Kalau mau nambah, nambah aja. Nggak udah sungkan."
"Iya Bu, makasih. Ini sudah cukup. Maaf saya sepertinya terlalu merepotkan. Padahal saya baru kenal juga sama Mbak Senja."
Karang benar-benar sungkan, tapi jujur saja ia mengagumi kehangatan dan kebaikan yang ia terima dari keluarga ini. Kebersamaan mereka yang begitu rekat meski punya anggota kelurga yang tidak banyak.
"Nggak, Ibu justru senang kalau ada yang mau main ke sini. Rumah ini sepi kalau hari kerja. Cuman ada Ibu sama Bibi aja. Senja kerja, anak-anak sekolah. Jarang ada yang main ke sini, paling-paling yang sering ke sini si...."
"Yuhu, permisi. Om kesayangan datang," teriak Leo dari pintu utama.
Seperti biasa, si kembar yang jarang akur seketika berlari ke arah pintu. Berebut membuka benda persegi itu dan memperebutkan siapa yang di peluk Leo terlebih dahulu.
"Baru juga diomongin udah muncul aja, itu namanya Leo, temannya Senja."
"Iya Bu, Semalam aku sudah bertemu dengannya kelihatannya mereka dekat."
Karang hanya mengangguk canggung. Ia berjalan di belakang Manda dengan sedikit gugup. Biar bagaimanapun ia sedang berada di tengah-tengah keluarga yang sama sekali tak ia kenal.
Meskipun perlakuan meraka membuat Karang nyaman, tetap saja ada rasa canggung yang bersemayam di hatinya. Ia berusaha dengan keras agar bersikap biasa saja, tidak menunjukkan bahwa ia sedang gugup. Dengan memberanikan diri ia duduk bergabung di rubah tengah dengan Leo dan si kembar. Mereka nampak akan melanjutkan permainan yang tadi sempat terhenti karena hadirnya Karang.
"Om Karang ikut, ya." Alana yang cerewis dan mudah akrab dengan orang berusaha mencairkan suasana.
"Boleh emang?"
"Boleh dong."
Karang akhirnya ikut masuk ke dalam permainan ABC. Permainan anak-anak yang sudah jarang dilihat di zaman yang sudah serba canggih ini.
"Hewan yang depannya E. Elang!" teriak Alana dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Elephant." Leo yang menjawab.
Nampak Karang dan Alan yang sedang berpikir dengan keras. Merasa tidak ada lagi jawaban untuk nama hewan berawalan huruf E, Alan berinisiatif untuk memberikan bedak pada wajahnya dan wajah Karang.
"Nyerah aja Om, nggak ada," ujar Alan mengolesi pipi Karang dengan bedak.
Hal ini disukai oleh Alana, karena kekalahan saudara kembarnya, ia bisa dengan bebas mengerjai Alan. Menurut Alana, ini adalah pembalasan dendam yang tepat karena setiap hari selalu membuatnya menangis.
"Lah, kok pakai lipstik sih, nggak ada aturannya pakai lipstik, ya tadi. Orang dari tadi aturannya cuma pakai bedak, kenapa sekarang ada Lipstik juga?" Alan protes saat Alana membuka tutup sebuah lipstik berwarna merah merona.
"Aku perempuan sendiri di sini, jadi aku bebas mau ngapain aja. Aku maunya pakai lipstik dan lipstik ini cuman boleh digunakan sama Alana yang lain nggak boleh. Dikit doang Alan, nggak banyak jangan ditutup mukanya! Aku hitung sampai tiga kalau nggak dibuka juga, aku buka paksa dan aku coret seluruh wajah kamu pakai ini, ya."
Alan masih tak bergeming, ia masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Merasa ia kalah tidak sendirian, ia pun mengajak Karang untuk bersekongkol dengannya.
"Ssst Om," bisik Alan sangat pelan.
Karang tidak sadar dengan bisikan Alan, justru yang menyadari hal itu adalah Leo. Mengerti jalan pikiran yang ada di pikiran anaknya, Leo pun akhirnya membuka paksa tangan Alan dan mempersilakan Alana dengan bebas untuk mencoret wajah saudara kembarnya.
"Om jangan, Om. Aduh lepasin. Aku nggak mau di pakein lipstik." Alan meronta ingin di lepas.
Karang hanya diam seraya mengulum senyumnya. Entah senyum untuk apa, padahal hatinya sedang teriris perih karena ia kehilangan masa kecil yang seharusnya ia lewati seperti Alan dan Alana. Ia punya orang tua lengkap, tapi seperti tidak punya orang tua. Sedangkan Alan dan Alana hanya punya Ibu, tapi seakan hidup mereka di kelilingi oleh orang-orang yang mencurahkan perhatian dan cinta tulus padanya.
Senyum Karang perlahan luntur, ia menundukkan kepala menahan air mata yang hendak luruh. Senakal-nakalnya Karang sekarang, ternyata hatinya masih mudah tersentuh juga.
Air mata yang hendak menetes urung keluar, karena Alana tiba-tiba mengolesi pipinya dengan lipstik dengan coretan yang panjang.
"Alana lari, Alan ngamuk!" teriak Leo menggeret anak gadisnya.
Yang benar saja, Alan yang sudah dapat dengan bedak tabur di wadah yang besar ternyata tak mau lari sendirian. Ia membawa Karang untuk ikut bersamanya.
"Bawa Om, kita kejar mereka." Alan memberikan bedak tabur pada Karang.
"Ini bahaya kalau kena mata."
"Aman. Ini Mama beli di luar negeri, nggak akan bahaya kalau masuk mata. Ayo Om, nanti mereka jauh. Aku nggak bisa kalau kejar sendirian."
__ADS_1
Tangan Karang yang diseret anak kecil itu mau tak mau mengikuti langkahnya. Mereka menemukan Alana dan Leo yang sedang bersembunyi di taman depan rumah.
Tak lama dari itu, mereka yang terbagi menjadi dua tim kini saling lempar bedak. Karang yang awalnya canggung mulai terbawa suasana, karena beberapa kali wajah dan rambutnya tersiram oleh bedak. Untuk sejenak Karang lupa dengan kesedihannya, ia ikut tertawa bersama tiga orang yang sudah mengubah dunianya sesaat.