
"Mau ngapain?" tanya Senja yang paham dengan kode Leo, namun tak paham kenapa ia lepas jaket dan diminta mendekat.
Dari pada banyak bicara, Leo lebih memilih untuk bertindak saja. Ia yang berjalan mendekati Senja dan menutupi kepalanya dengan jaket miliknya.
"Jalan!" perintahnya.
Tangannya masih setia memegangi jaket yang ia buat untuk menutupi kepala Senja. Setelah sekian lama jantungnya baik-baik saja dan merasa tenang, kini kembali gaduh seperti saat dengan Rida dahulu. Bahkan kegaduhannya lebih parah. Hanya satu harapannya, Senja yang tinggi badannya hanya sebatas dadanya tidak mendengar kegaduhan yang diciptakan oleh jantungnya.
"Ayo jalan mau pulang apa nggak?" tukas Leo yang tidak ingin berlama-lama berada dalam jarak sedekat ini.
"Iya, tapi kamu kehujanan dong kalau nutupin badan aku aja. Kamu gimana?"
"Nggak deres, nggak apa-apa, nggak kan basah kuyup juga. Orang cuma nyebrang doang."
"Bagi dua jaketnya, nanti kepalanya pusing."
Senja memasukkan kepala Leo ke dalam jaket sehingga kepala mereka berada dalam satu jaket yang sama. Bisa dibayangkan sedekat apa jarak kepala mereka. Hanya satu kali gerakan saja mungkin bibir mereka sudah beradu dalam dinginnya udara malam itu.
Jantung Leo jangan ditanya, tidak berada dalam satu jaket saja sudah merasa ingin keluar dari tempatnya. Ditambah lagi sekarang posisi mereka nyaris bisa dibilang berpelukan.
"Ya udah yuk jalan!" ajak Leo yang nampaknya semakin sulit menguasai keadaan.
Senja hanya menganggukkan kepala, ia berjalan dengan pelan di atas aspal yang basah kuyup di tangisi oleh langit. Volume hujan yang besar-besar dan sedikit deras membuat jaket Leo basah kuyup dalam waktu singkat.
Senja mendekap erat tasnya. Meski tak terkena air hujan, hujan yang ditemani semilir angin sukses menembawa tulang Senja hingga kulit tangan wanita itu meremang.
Jalan yang tak seberapa lebarnya nampak begitu lama mereka tapaki karena banyaknya kendaraan yang berlalu lalang.
"Kamu kedinginan? Kita sebentar lagi sampai mobil. Jaket aku udah mulai basah semua, nih. Jalannya agak cepat bisa, kan? Aku takut kamu masuk angin. Airnya udah mulai nembus ke kepala."
Baru satu detik yang lalu Leo mengajaknya untuk berjalan cepat, namun tanpa aba-aba pria itu mendekap kepala Senja dan membawanya berjalan lebih cepat.
"Aduh."
__ADS_1
Mengimbangi langkah Leo membuat Senja berjalan tidak seimbang. Kakinya yang masih terpaut dengan heels membuat langkahnya terhenti karena kakinya yang terkilir.
Mendengar Senja yang mengaduh, Leo refleks membuang jaket dan membawa Senja ke dalam gendongannya lalu berlari dan segera memasukkannya ke dalam mobil.
Senja yang terkejut dengan tindakan Leo hanya menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang sang pria. Sebisa mungkin ia menyembunyikan wajahnya agar tidak terkena air hujan.
Deg deg deg
Senja dengan jelas mendengar detak jantung Leo yang berdetak dengan cepat. Wanita itu hanya mengatupkan mulutnya, ia tak percaya pria itu bisa gugup juga.
"Nggak basah kuyup semua, kan?" tanya Leo yang baru saja masuk mobil.
"Enggak kok, tidak terlalu basah."
Senja baru menyadari kakinya terlalu sakit saat ia gunakan untuk duduk di mobil Leo. Pergelangan kakinya terasa nyeri, ditambah lagi betis yang terkena air hujan sudah mulai merasakan gatal-gatal dan memerah. Senja mulai menggaruk-garuk betisnya dan duduk dengan tak nyaman.
"Kamu kenapa? kakinya tadi sakit, ya sini coba aku lihat."
Punggung tangan senja mulai nampak memunculkan bentol-bentol kemerahan seperti biduran (temen otor ada yang seperti ini, jadi alergi ini benar-benar nyata, ya. Otor nggak mengada-ada). Leo yang melajukan mobilnya tak sengaja melihat pergelangan tangan Senja yang nampak warnanya berbeda dari warna kulit lainnya.
"Kok tangan kamu merah-merah kenapa?"
"Aku alergi sama air hujan."
"Kenapa nggak bilang?"
"Emang kalau aku bilang, kita mau pulang nunggu hujan reda gitu? redanya kapan aja kita nggak tahu, kan?"
"Ya, kan kalau kamu bilang, aku bisa bawa mobilnya ke depan kedai, Senja. Kamu nggak perlu main air hujan."
"Nggak apa-apa, cuman gatel doang sedikit. Ini nanti dikasih obat di rumah juga udah mendingan. Udah nggak apa-apa, nggak usah khawatir. Aku nggak akan mati hanya karena alergi ku kambuh."
Keprotesan Leo berakhir sampai sana, ia tahu ia tidak akan bisa mengalahkan perdebatan dengan wanita itu. Leo sadar apa yang dirasakannya terhadap Senja seperti de javu, karena sebelumnya ia juga merasakan perasaan yang sama saat dengan Rida. Di detik itu juga ia sadar, ia menaruh hati pada wanita yang kini berada di sampingnya. Kenapa Leo bisa berspekulasi dengan cepat? Leo adalah tipe orang yang tidak mudah jatuh cinta pada wanita. Di usianya yang sudah 39 tahun, Leo hanya merasakan debaran jantung yang begitu hebat ketika bersama Rida dan Senja.
__ADS_1
Saat senja mengarah-arahkan jalan menuju rumahnya, Leo nampak berpikir dengan keras. Ia menyadari, ia merasa pernah melewati jalan ini, namun ia lupa dengan siapa, kapan dan akan ke mana. Semakin ia mengingat semakin ia lupa.
Lelah mengingat apa yang pernah dilaluinya lalu memutuskan mengabaikan pikirannya.
Leo sedikit terkejut ketika melihat rumah senja. Tak ia sangka tujuh tahun terpisah dengannya Senja sudah sesukses sekarang. Punya pekerjaan yang mapan, rumah sebesar istana, sungguh tidak ada alasan bagi Leo untuk tidak mengagumi wanita itu.
"Biasa aja lihatnya, itu bukan hasil uang aku. Rumah ini pemberian dari ayah," tukas Senja yang nampak mengerti apa yang dipikirkan Leo.
"Mau rumah kamu, mau rumah ayah kamu, yang terpenting kamu sekarang itu udah jadi wanita yang sukses."
"Ya udah, yuk masuk kamu basah kuyup. Nanti aku kasih pinjam baju anaknya bibiku nggak apa-apa, kan? Kebetulan anak bibiku sedang kuliah di sini juga, kan. Dia tinggal di sini bantuin ibunya bersih-bersih, kadang juga bantu bapaknya, dan jagain Al...." Senja yang sadar hampir keceplosan menghentikan kalimatnya seketika. "Maksudku, pokoknya dia di sini serabutan. Apa aja dikerjain gitu."
Leo hanya mengangguk angguk. Meskipun ia sedikit terganggu dengan satu kata kata dari Senja.
Jagain siapa?
Namun, meskipun begitu Leo tak ingin bertanya lebih jauh.
"Aku bantu, mau aku gendong aja, nggak?" tawar Leo menuntun Senja ke dalam rumah.
"Nggak usah nggak apa-apa, aku bisa kok." Senja menolak dengan halus seraya meringis menahan sakit.
"Astaga, kaki begini kamu masih pakai heels." Leo berjongkok hendak melepas hells wanita itu, namun sebelum melakukan itu ia mengambil sendal yang terpajang di rak teras.
Dengan perlahan Leo mengangkat kaki Senja dan melepas hells yang ada kaitannya di belakang, meski sedikit kesusahan, ia bisa melakukannya.
"Dah, nih pakai." Leo meletakkan sendal di kaki Senja.
Sedikit terharu, entah kenapa Senja merasa terharu dan tersentuh dengan apa yang dilakukan oleh Leo. Padahal ia tahu, Leo memang orang yang peduli dan perhatian pada seseorang, tapi hanya pada orang yang ia cinta saja. Ia nyaris melihat Leo yang seperti ini setiap hari saat satu rumah dengannya. Namun, ia memberikan perhatian itu hanya dengan Rida seorang.
"Mama," teriak Akan dan Alana bersamaan.
Bukan hanya Senja yang menoleh, tapi pria di depannya juga menolehkan kepala dengan air muka terkejut.
__ADS_1