Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
105. Telat


__ADS_3

Sesuatu yang membuat bahagia tidak bisa disembunyikan lama-lama, Leo langsung mengumumkan kehamilan sang istri di depan keluarganya saat acara makan malam.


Acara makan malam yang diadakan di rumah Senja itu berlangsung mengejutkan dan membahagiakan bagi Akmal, istrinya dan juga Karang. Akhirnya Penantian satu tahun yang mereka tunggu muncul juga di rahim Senja. Tidak ada hari yang membahagiakan bagi mereka selain hari ini.


"Apa kalian program kembar lagi?" tanya Akmal.


"Nggak, Yah. Ini murni kok, murni usaha sendiri. Kita nggak program sama sekali kalau, dikasih kembar,ya alhamdulillah, kalau tunggal, ya alhamdulillah. Yang penting sampai lahiran sehat." Leo yang menjawab.


"Aamiin," jawab semua orang dengan serempak.


Jika yang lain sibuk menikmati makan malam dengan hikmat, lain halnya dengan Karang. Pemuda itu nampak tidak fokus dan juga mengunyah makanan sembari memainkan ponselnya, entah ada apa dengan ponsel pemuda yang beranjak dewasa itu.


Leo yang sejak tadi memperhatikan adik iparnya itu terlintas ide usil di kepalanya.


"Ayah, anak bungsu Ayah sepertinya sedang jatuh cinta. Lihat, fokusnya sejak tadi pada hape, bahkan aku tidak yakin jika dia mendengar apa yang aku bicarakan tadi."


Semua orang beralih menatap Karang yang masih asyik saja dengan ponselnya sama sekali tidak mendengar sindiran dari Leo. Semua orang di situ dianggap patung oleh Karang, ia asyik memasukkan sendok dan sesekali tersenyum karena ponselnya itu.

__ADS_1


"Karang apa kamu sedang tidak sehat?" tanya Akmal


"Sehat, aku baik-baik saja apa aku terlihat sakit?" Karang menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan.


"Kamu adalah manusia satu-satunya di sini yang tidak merasa bahagia karena kabar yang diberikan oleh kakakmu." Akmal yang bicara.


"Hah? Aku bahagia kok, aku bahagia sama kabar yang diberikan sama Mbak Senja." Karang mulai gelagapan.


Memang benar Karang sejak tadi tidak fokus dengan topik yang dibahas di meja makan itu. Ia terlalu fokus pada benda pipih yang akhir-akhir ini membuat dirinya tersenyum bahagia karena chatting dari seorang gadis.


"Oh ya, tadi memang Mbak Senja ngomong apa? Kabar bahagia apa yang membuat semua orang di sini akhirnya berkata aamiin?" Leo membuat Karang semakin terpojok.


Karang hanya nyengir seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia sungguh tidak tahu apa yang mereka bicarakan tadi karena Karang hanya fisik yang berada di sini tidak dengan pikirannya.


"Tuh, kan nggak tahu? Sepertinya anak bungsu Ayah ini sedang mulai merasakan apa yang seharusnya dia rasakan sejak SMA. Terlambat sekali kamu jatuh cinta pada seorang gadis, Karang." Leo memancing Karang agar semakin tersipu.


"Siapa bilang? Siapa bilang aku jatuh cinta sama perempuan? Nggak ada, aku nggak jatuh cinta sama siapa-siapa. Aku tadi cuman lihat ini kok video lucu." Karang berkilah.

__ADS_1


"Kamu melihat video lucu di saat berkumpul dengan keluargamu? Karang, makan malam yang kita lakukan ini sangat jarang terjadi dan kamu melewatkan ini? Coba sini Mbak mau lihat video lucunya siapa tahu nggak bisa ketawa."


"Jangan! Iya maaf, aku nggak akan mengulangi lagi. Aku taruh hapenya di saku. Udah, kan?" ujar Karang meletakkan ponsel di saku masih dengan nyengirnya.


"Coba kasih selamat sama Mbak Senja!" Leo masih menggoda.


"Untuk apa?"


Plak!


Kali ini jangan Clara yang bicara.


"Dari tadi kamu di sini, Karang. Kamu beneran nggak dengar apa yang kita bicarakan? Keterlaluan. Mbak Senja hamil. Kemana saja fokusmu?"


"Ha? Hamil? Aku dapat ponakan baru dong. Wah, selamat ya Mbak Senja sama Bang Loe juga akhirnya apa yang ditunggu hadir juga. Mudah-mudahan sehat sampai launching nanti."


"TELAT!" ujar semua orang secara serempak.

__ADS_1


__ADS_2