Senja Dan Derita

Senja Dan Derita
43. Jahat


__ADS_3

Entah berapa lama senja duduk di ruang tamu menunggu Leo yang sedang bicara dengan istrinya. Yang jelas ia sudah mulai bosan duduk menunggu. Ia sudah berkali-kali ia mendongakkan kepala ke lantai atas, tapi pria itu tak juga menampakkan batang hidungnya.


Sudah merasa geram menunggu, senja beranjak dari sofa dan naik kamar Leo. Ia tak peduli bagaimana reaksinya nanti, ia tak mau menunda waktu untuk bertemu dengan keluarganya. Seraya  memegangi perutnya yang nampak membesar, Senja menaiki anak tangga satu persatu dengan pelan.


"Leo udah selesai belum? Kenapa lama banget? Keburu siang kalau udah siang nanti malamnya cepat, nanti aku nggak bisa lama-lama ketemu sama orang-orang. Buruan ayo atau aku berangkat sendiri, nih." Senja berteriak kembali di depan kamar Leo.


Tak lama setelah teriakan Senja usai, pintu terayun ke belakang, menampilkan sosok Leo di sana.


Pria itu nampak menghembuskan nafas panjang.  "Harus berapa kali, sih aku bilang. Sabar, jangan teriak-teriak. Kamu lagi hamil, aku sampai bosan ngasih tahu kamu. Nanti kalau ada apa-apa sama anak-anak aku gimana?"


"Kau sangat lama, Leo. Udah ayo berangkat! Kalau dia mau ikut, ya udah ajak aja. Emang dia ratu drama," sungut Senja kesal.


"Ya. Ya udah ayo kita berangkat sekarang, Rida nggak ikut dia mau istirahat aja di rumah. Udah, kan udah puas, kan kamu? Mau berangkat sekarang apa masih mau peduli sama marahnya?"


"Ya udah ayo, aahh." Perut Senja kembali kram.


"Tuh, kan apa aku bilang? Kamu ini selalu marah-marah terus, kamu terlalu sering emosi. Kamu ngapain pula naik lantai ke lantai dua. Udah tahu kamu, tuh hamil kembar. Kenapa susah banget dikasih tahu, sih? Kamu lagi hamil anak aku nurut dong nurut." Leo cukup frustasi dengan perilaku Senja.


"Jangan marah-marah, dong. Aku lagi kesakitan malah marah-marah."


Senjata duduk di lantai lalu bersandar pada dinding. Mengatur nafasnya agar rasa sakit yang seringkali muncul Bisa perlahan hilang.


Leo merubah dirinya dari sosok pria yang kejam, jahat dan tak punya hati menjadi sosok pria yang siaga untuk Senja. Pria itu sejak tadi membantu Senja untuk mengatur nafas dan menenangkannya. Memberikan usapan pelan pada perut yang membesar.


Perut buncit senja selalu bergerak-gerak saat tangan pria itu menapaki perutnya. Hal sederhana, namun membuat Leo begitu menjadi manusia yang sempurna.

__ADS_1


"Kita batalin aja dulu, ya. Besok aja kita berangkat gimana?" Leo bertanya dengan halus, semenjak hamil, Leo tak pernah memperlakukan sejak seperti sebelum hamil. Kekasaran dan kejahatannya seakan sirna begitu saja, digantikan oleh sosok bayi kembar yang akan dilahirkan Senja nantinya.


"Udah nggak sakit, aku mau sekarang. Aku kangen banget sama Ibu, aku nggak pernah bisa lama-lama pisah sama Ibu," rengek gadis itu seraya berusaha berdiri.


"Tunggu dulu, duduk dulu sebentar."


"Udah siang."


"Nggak apa-apa, kalau nanti kamu mau nginep di sana kita tidur sana."


"Kau serius Leo? aku boleh tidur di sana. Tapi kau tidak mungkin tidur di sana karena kau bukan suamiku."


"Kan aku bisa tidur di rumah Pakde kamu. Udah kamu tenang aja, nggak usah dipikirin. Aku ngerti kok kalau kita memang nggak seharusnya serumah. Ya udah, ayo berangkat aku bantu berdiri."


Leo dengan lembut membantu Senja berdiri. Lalu menuntunnya dengan pelan menuruni anak tangga satu persatu menuju lantai bawah. Leo benar-benar merubah dirinya menjadi suami siaga. Bukan bukan, bukan suami siaga, tapi pria siaga. Itulah gelar yang pantas disandang oleh Leo.


Apapun yang dilakukan oleh Leo terhadapnya tidak membuat Senja menjadi luluh lalu berbaik hati padanya. Masa depannya yang telah hancur tidak bisa digantikan oleh apapun. Meskipun dengan semua kebaikan yang Leo berikan bahakan jika Leo memberikan cinta sepenuhnya untuk senja, gadis itu dengan mantap dan tegas akan tetap menolak. Sekali lagi, hidupnya sudah dibuat hancur oleh Leo dan tidak mungkin ia bisa memaafkan apa yang sudah pria itu lakukan.


Senja merebahkan kepalanya pada sandaran kursi. Menatap pepohonan dan bangunan yang berada di samping kanannya. Ingin sekali ia menjadi sosok Sebja yang dulu  yang bebas  bahagia, dan juga mendapatkan kasih sayang tulus dari seseorang. Membicarakan soal cinta yang tulus membuat Senja ingat pada kekasihnya, Daren.


"Kamu lagi apa, Kak? Apa kamu masih ingat aku, masih menunggu aku atau kamu saat ini sedang berusaha untuk melupakan aku? Atau justru kamu sedang mencari kebahagiaan dengan wanita lain?" Senja bermonolog pada dirinya sendiri di dalam hati.


Leo menatap gadis di sampingnya yang nampak melamun. Ingin tahu apa yang dipikirkan oleh gadis itu membuatnya ingin bertanya langsung. Namun, Sedetik kemudian ia urungkan karena mengikat Senja yang begitu galak dua kali lipat setelah ia hamil.


Kemudian pandangannya turun ke perut Senja yang telihat begitu kentara. Leo mengulum senyumnya, tubuhnya ia hadapkan pada Senja lalu tangannya kembali maraba-raba perut gadis itu. Entahlah, melakukan ini adalah sebuah kesenangan untuknya.

__ADS_1


"Apa perutmu tidak sakit? Mereka gerak-gerak terus sejak tadi."


Pandangan Leo begitu dekat dengan wajah Senja. Tangannya pun masih menetap di perutnya. Saat Senja menoleh tiba-tiba saja


Deg deg deg


Bukan bunyi debaran jantung Senja, tapi Leo. Jangan tanya kenapa, karena ia sendiri juga bingung, sejak beberapa bukan terakhir, debaran halus itu terasa begitu menyiksanya. Karena di saat yang bersamaan rasa gugup juga kompak di rasakan Leo.


Senja hanya menggeleng lemah, lalu kembali menatap jalanan. Ia merasa perjalanan ke rumahnya kenapa begitu lama? Ia sudah merindukan semuanya. Terlintas juga di kepalanya, apa sang Nenek masih ada?


"Kamu kenapa, sih? Lagi mikir apa? Kangen ya sama ibu kamu? Kan kita juga mau ke sana, sebentar lagi ketemu."


"Kau nggak pernah tahu rasanya bagaimana tidak bertemu dengan orang tua begitu lama." Senja menjawab tanpa menatap Leo.


"Kenapa kamu masih sayang banget sama ibu kamu, padahal kamu diperlakukan tidak manusiawi sama dia."


"Aku memakluminya, karena aku adalah satu-satunya alasan yang menghancurkan masa depan ibu."


"Tapi, kan kamu di sini nggak tahu apa-apa, kamu juga nggak minta untuk dilahirkan. Akar permasalahan, ya tetap di Ayah kamu."


"Kalau aku nggak ada di rahim ibu, ya pasti ibu akan melanjutkan hidupnya seperti wanita normal kebanyakan. Aku tidak mau menyalahkan siapapun untuk apa sudah terjadi. Ini garis kehidupan ku dari Tuhan, mau bagaimana lagi? Lagipula kau juga tidak mau aku salahkan terus-terusan dalam keadaan ini kan. Daripada aku menyalahkan keadaan atau dirimu yang membawa aku ke dalam situasi ini, lebih baik aku memikirkan masa depanku setelah tugasku selesai. Itu jauh lebih baik daripada aku meratapi nasibku yang sekarang."


"Tiga bulan lagi tugasmu selesai. Begitu anakku lahir aku akan membawanya dan kamu boleh pergi tanpa harus melihat mereka." Leo sedikit ngilu saat ia mengatakan itu. Obsesinya yang menggebu memiliki anak dari Senja dan membuang gadis setelah apa yang ia mau terwujud, entah kenapa kini berubah menjadi perasaan yang lain.


"Kau selalu mengolok-olok ayahku, mulutmu selalu menghinanya, seandainya kau tahu kau lebih kejam dari dia, kau jauh lebih jahat dari dia."

__ADS_1


Hati Leo tambah ngilu mendengar ucapan gadis itu.


__ADS_2