
Ini hari terakhirku bekerja di kantor, walau berat aku harus bisa melepas salah satunya.. dunia modeling saat ini lebih menjanjikan bagiku.
"Gin... maafin aku yaa.. harus resign mendadak" kataku sambil menangis.
"gara gara kamu nih, aku bakalan lembur selama beberapa hari ke depan" sahut Gina pura pura marah.
"maafin aku Gin.. aku ga bermaksud begitu" jawabku menyesal.
"eh... aku cuma becanda kali.. kok malah seriusan gitu kamu" kata Gina mengubah nada bicaranya.
"tapi serius deh gara gara aku kamu bakalan lembur"
"gapapa kali, lembur juga dibayar" sahut Gina dengan santainya.
Aku berpamitan pada seluruh teman temanku dan berharap tetap bisa berteman walau tak bekerja di kantor yang sama lagi.
π₯¬π₯¬π₯¬π₯¬π₯¬π₯¬
Kini aku fokus pada pekerjaan modellingku, Gina sampai kewalahan membantuku sehingga mau tak mau aku harus mencari manager untuk menghandle semua kontrakku.
Dengan bantuan mas Beno sang pemilik agensi, akhirnya aku mempunyai manager, Cika namanya. Cika usianya lebih tua dariku tapi dia tak mau dipanggil mbak, terdengar tua katanya.
"Dar.. besok ama lusa, pemotretan diluar kota lagi, packing malam ini ya supaya besok ga telat, kita berangkat pagi" kata Cika.
"siap bos..." sahutku.
Malamnya aku sibuk packing meskipum cuma dua hari, banyak barang yang harus dibawa, tengah asyik packing, ponselku bergetar,
drrrt...
drrrrrt....
Dr Rendra is Calling....
"Hallo...." kataku.
"hallo.. sibuk?".
"lagi packing..."
"mau kemana?"
"besok ama lusa ada pemotretan di jogja..." jawabku jujur.
"yah... sayang sekali padahal besok weekend" katanya lesu.
"kenapa emangnya kalo weekend?" tanyaku.
"aku pengen ngajak kamu jalan..."
"yaaaa... maaf... lain kali mungkin ya..." sahutku tak enak.
"ya udah..." sahutnya tak semangat.
Selesai bertelepon ria, aku melanjutkan packing dan segera tidur agar besok fit dan tak kesiangan, tak lupa aku mengaktifkan alarmku, takut takut aku tertidur terlalu pulas.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Aku dan Cika sampai di bandara dan saat ini sedang menunggu mas Beno yang tak kunjung muncul batang hidungnya,
"kebiasaan mas Beno mah, selalu telat" keluhku kesal.
__ADS_1
"kayaknya masih ke salon" canda Cika,
Aku yang kesal jadi tertawa mendengar perkataan Cika.
"nah... itu dia..." kata Cika lalu menunjuk ke arah mas Beno yang sedikit kesusahan membawa koper besarnya.
"yaelah... kopernya gede banget, sebenarnya yang jadi model disini aku apa dia sih?" kataku.
"haha..kayak ga tau mas Beno aja kamu Dar" sahut Cika sambil terkekeh.
"lama banget siiiih mas Benooooo....!" ucapku geram.
"maaf yeee ciwi ciwi... tadi mas Beno masih nungguin sepupu, katanya pengen ikut, karena tiba tiba, jadi terpaksa deh nungguin dia packing dulu" ucapnya dengan nada khasnya, gemulai.
"trus sekarang kemana sepupu mas Beno itu?" tanyaku penasaran.
"jangan bilang kalo dia masih ke salon" tambah Cika.
Aku dan Cika terbahak, mas Benopun akhirnya ikut tertawa.
"ya enggaklah... sepupu mas Beno ini, orangnya macho, ga suka nyalon kaya mas Beno" kata mas Beno dengan genit.
"hahahha... kirain satu spesies mas..." sahutku masih tertawa.
"satu spesies?? eeeee Daraa.. tu mulut di sekolahin ya... kamu pikir mas Beno lembu apa pake ada spesiesnya segala!" ucap mas Beno menggebu gebu makin membuatku terkekeh.
Lagi asyik asyiknya tertawa, muncullah orang yang di maksud mas Beno,
"nah itu dia sepupu mas Beno udah dateng..." kata mas Beno sambil tersenyum manis.
Kamipun kompak menoleh kearah yang di tunjuk mas Beno, Cika tercekat apalagi aku...
"Rendra..." panggil mas Beno sambil melambaikan tangannya dan orang itu tersenyum manis pada kami semua.
"Dr Rendra???" hanya itu yang keluar dari mulutku.
"hai Dara..." sapa Dr Rendra.
"loh... kalian udah saling kenal?" tanya mas Beno kepo.
"udah... dia pasien aku Ben" sahut Dr Rendra tak lepas menatapku.
"oooooo...." mas Beno ber oh ria.
"jadi Dr Rendra sepupunya mas Beno?" tanyaku tak percaya.
"iya... kenapa?" jawabnya.
"kok aku ga tau sih" sahutku kesal.
"kamu ga pernah nanya!" jawabnya santai.
"ishh.... Dr kan tahu aku model di agensinya mas Beno!"
"aku malah baru tahu kalo Beno punya agensi" sahutnya lagi lagi dengan santainya.
"eheemmmmmm...." Cika berdeham panjang.
"oh ya, kenalin ini Cika manager aku" kataku mengenalkan Cika pada Dr Rendra.
"Rendra..." kata Dr Rendra mengenalkan diri.
__ADS_1
"Cika..." jawab Cika mengulurkan tangannya menjabat tangan Dr Rendra.
π―π―π―π―π―π―
Di pesawat, Dr Rendra duduk di sebelahku, membuatku sedikit kikuk, karena selama perjalanan aku tak bisa tidur, kalo aku tidur takutnya aku mengeluarkan kebiasaan burukku saat tidur, pasti memalukan.
"Kok bisa sih tiba tiba ikut mas Beno?" kataku memulai obrolan agar aku tak mengantuk.
"entahlah... tiba tiba aku pengen ikut aja...abisnya kesepian dirumah, calon kekasihku juga lagi sibuk bekerja" ucapnya.
"calon kekasih" gumamku lirih tapi masih bisa didengar oleh Dr Rendra. kenapa hatiku jadi sakit mendengar Dr Rendra sudah punya gebetan.
"kenapa?" tanyanya pura pura tak dengar gumamanku.
"eh..gapapa... emangnya calon kekasih Dr Rendra, kerja dimana?" tanyaku basa basi.
"hmmm... kasih tahu ga ya? tapi ngapain kamu pengen tahu?" goda Dr Rendra.
"ya pengen tahu aja.. kalo ga boleh tahu yaa udah dok ga usah dijawab!" sahutku sedikit kesal.
"hihi.... marah ya?"
"ga..."
"tuh kan maraaah...."
"ga dok... suer deh!" sungutku.
"tuh kan.... jawabnya pendek pendek, pake emosi lagi" godanya lagi.
"ish....dokter mah gitu!!" sungutku makin kesal.
"jujur aja.. marah ga?"
"kalo iya kenapa?" kataku akhirnya.
"ya gapapa... suka aja kalo kamu marah"
"yeee.... jadi sengaja nih bikin aku marah"
"hihi..maaf deh..."
"tauk ah..."
"mau dijawab ga pertanyaannya?"
"ya maulah...!" sahutku mulai melemah pasrah.
"oke oke... calon kekasihku seorang model" jawabnya.
"what?? sama donk kaya aku!" jawabku melotot.
"iyaa emang..." jawabnya santai.
"pantes aja Dr Rendra ngebet banget pengen ikut, palingan juga janjian sama pacarnya di jogja" tuduhku sok tahu.
"hahaha...kamu cemburu ya?"
"yeee...ngapain juga cemburu!"
"cemburu juga gapapa..."
__ADS_1
"ogah.... wleee..." ucapku menjulurkan lidahku.
ππππππ