
Author Pov
"Deva... bangun lah sayang!" lirih Dara di telinga suaminya tersebut,
Namun Deva tak bergeming, terhanyut dalam buaian mimpi indahnya,
"Deva, kau bilang ingin memulai hidup baru denganku? ayo buka matamu sayang!" ucap Dara lagi sambil menangis pilu.
Sudah seminggu keadaan Deva tak ada perubahan sama sekali, Dara dengan setia selalu di samping Deva.
"sebaiknya kau istirahat nak, biar Mamah yang menjaga Deva! kau bisa sakit jika terus terusan disini!" ujar Mamah dengan raut wajah yang melukiskan kekhawatiran karena seminggu ini Dara bahkan tidak beranjak sama sekali dari sisi Deva.
"enggak Mah, sudah menjadi kewajiban Dara untuk menemani Deva sampai dia pulih!" sahut Dara dengan wajah lesunya.
"tapi kau juga harus menjaga kesehatanmu sendiri!" ujar Mamah yang semakin khawatir melihat wajah pucat Dara.
"Dara mau tetap di samping Deva Mah dan Dara ingin menjadi orang pertama yang dilihatnya ketika Deva sadar nanti!" sahut Dara menatap sendu ke arah Deva yang terbaring lemah.
"baiklah jika itu mau mu, tapi setidaknya istirahatkan dirimu meski tidak pulang ke rumah!" ujar Mamah pasrah.
"Mamah tenang saja, Dara akan menjaga diri dengan baik" jawab Dara berusaha meyakinkan mertuanya tersebut.
Tengah asyik berbicara dengan sang mertua, tiba tiba Dara merasakan tangan Deva bergerak, sontak saja Dara terpekik melihat tangan Deva yang ada di gengggaman nya mulai bergerak lagi.
"Mah.. tangan Deva bergerak Mah...!"ucap Dara dengan sangat antusias.
"Deva..." lirih sang Mamah sambil menitikkan air matanya.
Dara langsung memencet tombol merah di atas nakas untuk memanggil dokter,
Tak lama dokter datang dan sudah memeriksa keadaan Deva,
"alhamdulillah kondisinya mulai stabil tapi dia belum bisa membuka matanya karena pengaruh obat!" kata dokter menjelaskan.
"alhamdulillah!" seru Dara dan Mertuanya berbarengan.
__ADS_1
Dara setia menemani Deva, walau Deva masih belum bisa membuka matanya, tapi setidaknya kondisinya sudah berangsur pulih.
Seminggu berlalu...
Walau Deva belum juga membuka matanya tapi setidaknya kondisinya menunjukkan banyak kemajuan yang menggembirakan.
"sayang.. buka matamu.. apa kau tak merindukanku?" ucap Dara sambil menggenggam tangan Deva.
"hem... kau berisik sekali sayang!" seru Deva yang membuat Ara terbelalak, tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"De...Deva...kau sudah sadar sayang??" lirih Dara yang tak kuasa lagi menahan tangisnya.
"kenapa wajahmu pucat? kau tidak senang melihatku sadar?" ujar Deva yang perlahan membuka kedua matanya.
"bukan seperti itu! aku hanya terlalu senang sayang!" sahut Dara lalu menghujani Deva dengan ciuman bertubi tubi.
"sayang.. apa kau sedang menggodaku?" ujar Deva yang merasa geli karena di hujani ciuman oleh Dara di seluruh bagian wajahnya.
Dara tak menanggapi, dia terus saja menciumi wajah Deva,
"aku sangat merindukan mu sayang!" seru Dara senang.
"kau berniat menggodaku?? bahkan kaki ku masih gemetaran sayang!" ujar Deva sambil terkekeh.
"mulai detik ini aku akan selalu menggoda mu sayang! tak peduli kau gemetaran atau belum bisa berjalan!" balas Dara menggoda Deva.
"tega sekali kau sayang! kau membangunkannya tanpa bisa menidurkannya kembali!" sungut Deva kesal.
"apa semudah itu dia terbangun?" tanya Dara dengan lirikan genitnya.
"lihat saja sendiri, celanaku sudah penuh sesak karena ulah mu!" ujar Deva kesal.
"maka segeralah sembuh dan kau bisa tuntaskan segala hasrat mu!" goda Dara membuat birahi Deva semakin membuncah namun karena kakinya masih susah di gerakkan, Deva hanya bisa mengerang frustasi.
"arrrghhhh!!!" erangnya putus asa.
__ADS_1
"kenapa?? apa kau benar benar tak merindukan milikku yang kata mu begitu nikmat?" lagi lagi Dara memprovokasi Deva.
"sayang, hentikan!!! kau hanya membuatku makin frustasi!" protes Deva.
Dara tertawa melihat ekspresi kesal dari wajah Deva.
Dua hari kemudian, Deva sudah di perbolehkan pulang ke rumah, namun Deva harus menggunakan kursi roda sementara waktu karena kakinya masih kaku dan tak bisa digunakan untuk berjalan.
"apa aku akan lumpuh selamanya?" tanya Deva dengan lirihnya.
"tidak sayang, ini hanya bersifat sementara sampai efek racunnya menghilang!" jelas Dara.
"benar kah? apa itu artinya aku bisa segera menggagahi mu?" ucap Deva dengan sangat antusias.
"ck.. apa hanya itu yang ada dalam pikiranmu!!!" decak Dara kesal.
"tentu saja.. aku sangat merindukan kenikmatan yang kau berikan padaku sayang!" sahut Deva yang bergelayut manja di lengan Dara.
"dasar mesum!!" Dara memukul dada bidang Deva.
"hehe... mesum terhadap istri sendiri itu berpahala sayang dan aku berniat mencari pahala sebanyak banyaknya bersama denganmu!" ujar Deva dengan seringai yang cukup mengerikan membuat Dara bergidik ngeri.
"haha.. mencari pahala atau kenikmatan?" tanya Dara dengan tawa hambarnya.
"keduanya..." sahut Deva lalu memeluk tubuh Dara dengan erat.
*Terimakasih ya Allah.. kau telah kirimkan Deva padaku, walau dengan masa lalunya yang kelam, aku akan menerimanya dengan baik karena aku sangat mencintainya dan dia pun mencintaiku dengan seluruh jiwa serta raganya.
Bukan hanya Deva, aku pun memiliki masa lalu yang sama kelamnya dengan masa lalu Deva.
Jadikanlah pernikahan keduaku ini menjadi pernikahan yang sakinah mawaddah warromah dan karunia kan kami keturunan yang sholih Sholihah, sehat jasmani rohani, serta lahir dan batin.
Aamiin......
..............................SEKIAN*....................................
__ADS_1