Seorang Bintang

Seorang Bintang
Empatpuluhdelapan


__ADS_3

"kau dimana?" tanya Pandu pada Dara via telepon.


"aku dirumah" sahutku


"baiklah, jangan kemana mana, aku akan kesana"


"hati hati"


"siapa mih yang telepon?" tanya Mela.


"papi" sahutku singkat.


"papi mau kesini mih?"


"iya sayang"


"horeee..." sorak Mela senang.


30 menit berlalu, Pandu sudah sampai dirumahku.


"mata kamu kenapa? habis nangis?" tanya Pandu yang melihat mataku sembab.


"enggak kok.. abis kelilipan barusan" jawabku berbohong berusaha menghindari tatapan Pandu.


"kamu liat tv tadi?" tanyanya lagi.


"iya..."


"trus kamu nangis?"


Tanpa menjawabnya, aku langsung memeluk Pandu,


"ga seharusnya kamu mengadakan konferensi pers seperti tadi" ucapku sambil terisak.


"kenapa? mereka sudah keterlaluan!" sahut Pandu tanpa melepas pelukannya.


"aku tidak akan membiarkanmu di sakiti lagi oleh berita yang mereka karang seenak jidatnya!"


"aku tak apa..."


"tak apa bagaimana?? aku tahu kau terluka!"


"hiksss...maafkan aku"


"ayolah mulai sekarang kita harus jujur satu sama lain, jangan pernah menyembunyikan sesuatu dariku"


aku hanya mengangguk dalam pelukan Pandu.


"Mela mau juga donk di peluk" celetuk Mela yang baru keluar dari kamarnya.


"sini sayang..." panggil Pandu dan kami bertigapun saling berpelukan.


🍿🍿🍿🍿🍿🍿


Hari ini Pandu mengajakku dan Mela untuk bertemu dengan mamah Mia, saat dijalan aku tidak sengaja melihat Dr Rendra saat berhenti di lampu merah.


"sepertinya itu Dr Rendra deh" kataku pada Pandu.


"mana?" tanya Pandu.


"coba kau lebih maju lagi, aku melihatnya di mobil hitam itu" kataku.


Dan benar saja, Dr Rendra yang terbiasa berkendara dengan kaca mobil terbuka, terlihat sedang bersama seseorang di dalam mobilnya.


"Dokter..." panggilku.


Dr Rendra menoleh namun dia tak menjawab, malah melajukan mobilnya dengan kencang menerobos lampu merah.


"ada apa dengannya" gerutuku.

__ADS_1


"mungkin saja dia sedang terburu buru" sahut Pandu.


"mungkin saja.. tapi aneh sekali rasanya" lagi lagi aku menggerutu.


Sampai dirumah Pandu, aku dan Mela di sambut hangat oleh Mamah Mia, mamah memelukku,


"maafin mamah ya Dara, sudah salah sangka sama kamu"


"gapapa mah..maafin Dara juga ya karena Dara mamah jadi salah sangka"


"Dan ini....apa dia Mela?" tanya Mamah mia dengan mata berkaca kaca menatap kearah Mela.


"iya omaaa, ini Mela" sahut Mela.


Mamah yang dari tadi ingin menangis, akhirnya menangis sambil memeluk tubuh mungil Mela,


"Mela, cucu omaa..." ucapnya.


"oma.. kenapa oma nangis?"


"oma nangis karena oma bahagia bisa ketemu dan memeluk Mela" sahut Mamah mia.


"Mela juga seneng bisa ketemu oma" jawab Mela.


Aku dan Pandu terharu melihat pertemuan antara mamah dan Mela.


"biarkan Mela menginap disini ya? aku yakin mamah pasti berharap hal yang sama"


"iya..." kataku mengijinkan.


"ya sudah tinggalkan mereka berdua supaya bisa mengobrol dan saling mengenal, lalu bagaimana kalo kita jalan jalan saja berdua?"


"hmmm sepertinya ide bagus" seruku senang, sudah lama rasanya tidak berjalan jalan mengingat kesibukan Pandu dan masalah yang baru saja kami hadapi.


"mau kemana?" tanya Pandu.


"terserah kau saja!" jawabku.


"oke"


Di perjalanan menuju ke danau, kami mampir di minimarket untuk membeli minuman dan cemilan, dan lagi lagi aku melihat sosok Dr Rendra,


Aku mengikutinya dan setelah dekat, aku menepuk bahunya dan diapun terkejut lalu berbalik menatapku,


" ya Tuhan Dara, kau mengagetkanku saja" ucap Dr Rendra sambil mengelus dadanya sendiri.


"kenapa tadi dijalan kau menghindariku?" tanyaku tanpa basa basi lagi.


"kapan?" jawabnya pura pura tidak tahu.


"jangan bilang kau tidak melihatku, jelas jelas aku melihatmu menghindar dariku!"


"oohhh yang tadi di lampu merah?? maaf aku terburu buru tadi" jawabnya beralasan.


"benarkah???? lalu siapa yang sedang bersamamu tadi?"


"yang mana?" sahutnya tapi matanya melihat kemana mana, aku curiga, dia pasti sedang bersama seseorang disini.


"kau sedang mencari siapa?" tanyaku penuh selidik.


"aku?? tidak, aku tidak mencari siapa siapa!" jawabnya dengan gugup.


"kau tidak bisa berbohong padaku! katakan kau bersama siapa kesini?" tanyaku.


"dia bersamaku" sahut seorang wanita dibelakangku.


Akupun sontak menoleh ke belakang, dan yang aku lihat, membuatku tak percaya,


"cikaaaaa????" seruku tak percaya.

__ADS_1


"iyaaa ini aku cika.." sahut Cika sambil tersenyum padaku.


"ya Tuhan cikaa... aku sangat merindukanmu" kataku langsung memeluk Cika.


"aku juga merindukanmu.. sudah berapa lama kita tidak bertemu?" sahutnya sambil membalas pelukanku.


Tengah asik bernostalgia, Pandu datang mencariku,


"pantas saja kau lama sekali!" kata Pandu setelah melihat ada Dr Rendra dan Cika mantan managerku.


"oh iya, maafkan aku... aku lupa mengabarimu!" jawabku.


"kebetulan sekali bisa berjumpa kalian disini" lanjut Pandu lalu menyalami Dr Rendra dan Cika.


"tapi kenapa bisa kau dengan Dr Rendra?? apa aku melewatkan sesuatu?" tanyaku curiga.


"itu... kau tanya saja padanya" sahut Cika sambil melirik Dr Rendra yang terlihat salah tingkah.


"ayo jelaskan padaku!! atau aku anggap kita tidak pernah saling mengenal!!!" ancamku pada Dr Rendra.


"sebaiknya kita cari tempat yang nyaman untuk mengobrol" sela Pandu memberi ide.


"ide bagus.. ayo ikut kami, kebetulan kami mau ke danau!" ajakku pada Cika dan Dr Rendra.


Aku melotot ke arah Dr Rendra dan diapun mengangguk pasrah begitupun dengan Cika.


Jadilah kami berempat pergi ke danau bersama, meski dengan mobil yang terpisah.


Setelah dapat tempat nyaman untuk duduk, kami mengobrol santai saling bertanya kabar masing masing.


"coba jelaskan padaku, kenapa kau bisa bersama Dr Rendra? apa kalian sudah pacaran tanpa sepengehtahuanku?" tanyaku pada Cika karena ingin tahu.


"aku sudah bilang, kau tanya saja pada Dr Rendra" jawab Cika.


"tolong jelaskan dok dan jangan berbelit belit lagi!"


"ehmm.. itu... aku... dan Cika, kami memang dekat!" ucap Dr Rendra tergagap.


"dekat? hanya itu?" tanyaku tak puas dengan jawaban Dr Rendra.


"kami berpacaran!" jawab Dr Rendra dengan cepat.


"whaaat??? kau serius?? mulai kapan?" tanyaku tak percaya.


"entahlah.. semenjak kau kembali pada Pandu mungkin" jawabnya lagi.


"setelah kau kembali pada Pandu, dia sering bercerita padaku, dari itu kami sering bertemu sampai akhirnya memutuskan untuk berpacaran" Cika ikut menjelaskan.


"waaahhh... aku tidak menyangka kalian bisa berpacaran, tapi aku ikut bahagia mendengarnya" ucapku dengan senang.


"lalu bagaimana dengan kalian?" tanya Dr Rendra.


"kami?? kenapa dengan kami?" sahut Pandu, ikut bersuara.


"kapan kalian akan menikah?"


"secepatnya! tapi sepertinya Dara belum siap untuk menikah denganku, sampai sekarang dia belum menerima lamaranku!" keluh Pandu.


"mungkin lamaranmu kurang romantis!" ejek Cika.


"cih... aku tidak butuh lamaran romantis, malu sama Mela" kekehku.


"oya.. apa kabar Mela??" tanya Dr Rendra.


"alhamdulillah baik dan semakin cerewet" jawabku.


"sepertinya sifatnya lebih banyak menurun darimu! cerewet salah satunya! hahaha" kata Dr Rendra lalu tertawa.


"kau mengataiku cerewet dok?" kataku sambil melemparnya dengan snack.

__ADS_1


"kau memang cerewet sayang!" Pandu menimpalinya membuat mereka kompak tertawa bersama sedang aku hanya bisa memanyunkan bibirku saja menerima ledekan mereka.


πŸ—πŸ—πŸ—πŸ—πŸ—πŸ—


__ADS_2