Seorang Bintang

Seorang Bintang
Enampuluhsatu


__ADS_3

Mamah benar benar tidak mengijinkan ku untuk bertemu dengan Pandu lagi walau aku memohon dan mengatakan aku masih sangat mencintainya.


"kamu jangan bodoh Dara!!! cintamu sia sia, lambat laun juga akan hilang, dia tidak pantas untuk kau cintai!!!!" sentak mamah.


Aku menangis histeris, haruskah aku berpisah dengan Pandu lagi? ya Allah takdir apa yang kau tuliskan untuk hidupku? lirihku.


"assalamualaikum!" Mela datang dan mengucapkan salam, aku pun langsung menghapus air mataku.


"mamih kenapa? kok nangis?" tanya Mela.


"mamih ga nangis kok sayang!" jawabku.


"kok mata mamih merah?" tanyanya lagi tak percaya.


"mamih kelilipan tadi, terus mamih gosok gosok karena perih jadi merah deh!" kataku mencari alasan.


"oh, jangan di gosok mih, nanti selaputnya robek lhoh!" ujarnya menasehati ku, aku pun tersenyum manis padanya.


"ih pinter nya anak mamih!" sahutku sambil mencubit gemas pipinya.


"papi mana mih? kok ga ikut kesini?"


"papi sibuk sayang...!" jawabku sekenanya.


"sibuk terus sampai lupa sama Mela!"


"papi kerja kan juga buat Mela sayang!" jawabku.


"iya sih.. tapi Mela kangen sama papi!" rengek nya.


"mau telepon papi gak?" kataku menawari.


"ga usah!!!" sahut mamah dari dalam, membuatku terkejut, Mela pun langsung cemberut.


"kenapa ga boleh sih oma?" tanya Mela sewot.


"Mela mau jadi anak baik ga?" tanya omanya.


"mau lah!" sahutnya cepat.


"maka dari itu, kami harus nurut sama oma dan mamih mu!"


"iya..." jawab Mela dengan lesu.


Mela masuk ke dalam kamarnya dengan langkah gontai,


"Mah.. kasian Mela...biarkan dia telepon papinya!"


"mamah bilang ga usah ya ga usah!"


"mamah tega misahin Mela sama papinya lagi?" tanyaku.


"siapa yang misahin? papinya sendiri yang ga inget sama anaknya!! papi macam apa dia!!!" seru mamah dengan ketusnya.


Aku tidak membantah ucapan mamah, karena hanya akan berakhir dengan berdebat yang tiada ujungnya, mamah memang lebih keras wataknya dari pada aku.


Aku menghampiri Mela di kamarnya,


"Mela.. maafin oma ya?" kataku.


"oma kenapa sih mih?"


"oma mungkin hanya capek sayang!" jawabku.

__ADS_1


"tapi kenapa marahnya sama Mela?"


"siapa yang bilang oma marah sama Mela? oma ga marah kok...!" ucapku.


"gini aja deh, weekend besok, Mela nginep di rumah papi, gimana?" lanjut ku setelah mendapatkan ide.


"beneran mih? tapi kalau oma ngelarang lagi gimana?" wajah Mela berbinar.


"nanti mamih yang ngomong sama oma ya!"


"makasih mamih..." sahut Mela dengan riang.


Hatiku sejuk melihat senyum di wajah putri cantikku, aku masih beruntung karena memilikinya, setidaknya Mela menjadi pelipur lara hatiku.


🕯🕯🕯🕯🕯🕯


Tok...tok..tok..


"Pandu, buka pintunya!!!!" mamah mia berteriak sambil menggedor pintu apartemen dengan kasar.


Pintu terbuka dan Pandu terbelalak melihat mamahnya ada di depan pintu apartemennya,


"mamah...!" serunya terkejut.


Mamah mia langsung mendorong pintu dan masuk begitu saja,


"tumben..mamah ngapain kesini?" tanya Pandu sedikit panik.


"mana perempuan pelakor itu?" tanya mamah mia sambil membuka kamar Pandu.


"pelakor siapa maksud mamah?" tanya Pandu bingung.


"perempuan yang kamu bawa kemari!!!" ujar mamah mia.


"dia bukan pelakor mah!!!" jawab Pandu.


"mamah kenapa sih? datang datang langsung marah?" seru Pandu tak kalah sewot.


"jelas mamah marah! kamu tega menyakiti Dara! apa mamah pernah mengajarimu berbuat seperti ini?" ucap mamah mulai menangis.


"ya Tuhan, dia juga sudah ngadu sama mamah???" kata Pandu dengan gusarnya.


"dia ga ngadu apa apa sama mamah, malah mamahnya Dara yang cerita semua ke mamah!" sahut mamah yang semakin tersedu.


"sama aja!" ujar Pandu kesal.


"apa mau mu? kenapa kamu tega?"


"dia duluan mah yang mulai! kenapa semua orang malah menyalahkan Pandu?"


"kamu akan menyesal nak!!"


Pandu membuang muka, lagi lagi dia harus melihat air mata wanita, terlebih air mata orang tua yang sudah melahirkannya, membuat Pandu goyah!


"mah..." suara Pandu melembut.


Mamah tidak bergeming, masih menangis sambil terisak,


"biarkan Pandu menyelesaikan masalah Pandu sendiri ya!" ucapnya lagi.


"menyelesaikan? Dara menangis di sana sedangkan kamu malah enak enakan sama wanita lain disini!!! dimana hati kamu?" ucap mamah gusar.


Pandu tidak bisa menjawab, karena apa yang di katakan mamahnya benar, entah kenapa dia malah melampiaskan hasratnya pada Lala, padahal dia masih berstatus suami Dara.

__ADS_1


Bahkan media sudah mengendus hubungan gelap mereka berdua, gosip perceraian pun sudah bermunculan di beberapa acara, namun masih bisa di tepis oleh pihak manajemen.


"kalau kali ini Dara pergi lagi, mamah sudah ga bisa bantu kamu lagi!!" ucap mamah lagi lalu meninggalkan Pandu seorang diri.


"arrrrghhhhhhh!!!!!!" teriak Pandu frustasi.


📌📌📌📌📌📌


Dua bulan tanpa perkembangan dalam hubungan Dara dan Pandu, bahkan semakin kuat kabar yang berhembus jika mereka akan segera bercerai.


Mamah malah sudah mengurus segala keperluan perceraian mereka tanpa sepengetahuan Dara,


"kamu tinggal tanda tangan aja, maka selesai sudah urusanmu dengan Pandu!" ucap mamah lalu menyodorkan surat gugatan cerai padaku.


"mamah sudah urus ini semua tanpa bertanya padaku?" kataku tak terima.


"buat apa mamah bertanya? sedangkan pikiranmu masih jadi budak cinta laki laki tidak tahu diri itu?"


"mah!!! dia papinya Mela, mamah harus inget itu!!!" sahutku kesal.


"mamah ga akan lupa bahwa dia papinya Mela tapi mamah akan melupakan bahwa dia pernah menjadi menantu mamah!" seru mamah.


Lagi lagi aku hanya bisa menangis, apa ini akhir dari kisah cintaku dengan Pandu? kenapa setragis ini ya Allah?? hatiku masih meronta ronta karena jujur saja, aku masih sangat mencintainya.


"tanda tangani dokumen ini dan lupakan dia! kau berhak melanjutkan hidupmu dengan bahagia!" kata mamah.


"mah, boleh aku pikirkan lagi? tolong kasih aku waktu sampai besok!"


"baiklah, besok kau harus sudah memutuskannya!" jawab mamah menuruti keinginanku.


Malam ini, aku berusaha menghubungi Pandu via telepon, tersambung dan tak lama di angkat,


"Hallo Pandu..." kataku.


Tapi yang menyahut bukan Pandu, melainkan suara seorang wanita, itu pasti Lala.


"Hallo..." sahutnya.


"dimana Pandu? kenapa ponselnya ada padamu?" tanyaku.


"Pandu? di sebelahku, dia baru saja tidur, sepertinya kelelahan setelah bermain di ranjang panas kami!" sahutnya dengan sinis.


Degh...


Hatiku bagai di hantam gada, sakit sekali, apalagi terbayang bagaimana mereka bergumul panas di atas ranjang yang dulunya menjadi saksi pergumulan panas ku dengan Pandu.


"tolong bangunkan dia! aku mau bicara padanya, penting!!!"


"kau menyuruhku? enak saja!!! baginya kini, tidak ada yang lebih penting lagi selain diriku dan calon bayi kami!" sahut Lala.


Degh..


Lagi lagi hatiku sakit, lebih sakit dari yang tadi, mendengar kata bayi dari mulut Lala, dia menghamili Lala di saat aku masih berstatus sebagai istrinya? pedih yang tak dapat terobati rasanya.


"aa..apa maksudmu?" tanyaku terbata.


"ya.. aku dan Pandu akan segera memiliki anak! jadi sebaiknya kau menjauh dari hidupnya!!" ucap Lala dengan angkuhnya.


"kau jangan bohong!"


"buat apa aku bohong?? Pandu sangat menginginkan seorang anak bukan? dan kau tak memberinya anak, jadi apa salahnya jika aku yang memenuhi keinginannya!"


Aku menggigit bibir bawahku, menahan tangis dan rasa sakit di hatiku,

__ADS_1


Tanpa menanggapi ucapan Lala, aku langsung memutus sambungan teleponnya, aku melempar ponselku sampai hancur berkeping keping sama seperti hatiku sekarang, yang mungkin sudah menjadi debu karena perbuatan Pandu.


🔒🔒🔒🔒🔒🔒


__ADS_2