
Mungkin karena lelah menangis, Pandu akhirnya terlelap dengan tangannya yang melingkar di perutku membuatku kesulitan untuk bergerak.
Aku melambaikan tangan di depan wajahnya, memastikan dia benar benar tertidur, setelah yakin tak ada pergerakan, perlahan aku mencoba melepaskan diri dari pelukannya, dan aku berhasil, aku berjalan dengan sangat hati hati agar tak menimbulkan suara yang bisa membangunkannya,
Sampai di depan pintu,aku mencari kunci yang dibuang oleh Pandu sembarangan, ya Tuhan semoga kuncinya cepet ketemu, doaku dalam hati.
Sepertinya Tuhan sedang berpihak padaku, aku menemukan kuncinya dan segera membuka pintu lalu bergegas keluar dari sana, aku berlari sambil menangis, aku benar benar takut dengan apa yang barusan terjadi padaku, aku tak peduli lagi dengan penampilanku yang acak acakan.
Sampai di Lobby, aku menabrak seseorang,
"aduuuhh...maaf..." kataku tanpa melihat siapa yang aku tabrak.
"Dara...?? kamu kenapa?" ternyata Dr Rendra orang yang kutabrak.
"Dr Rendra?" panggilku, tapi pandanganku mulai kabur dan aku tak tahu apalagi yang terjadi selanjutnya.
πΆπΆπΆπΆπΆπΆ
Pertama kali membuka mata, yang aku rasakan pertama kali adalah kepalaku berat sekali,
"alhamdulillah akhirnya kau sadar" ucap Dr Rendra yang ternyata ada di sebelahku.
"aku dimana??" tanyaku dengan suara serak.
"kau dirumah sakit, semalam kau pingsan setelah berlari entah darimana dan tak sengaja menabrakku" jelas Dr Rendra.
Aku mulai mengingat ingat apa yang terjadi, aku menggigil ketakutan setelah mengingat semuanya, tanpa sadar aku berteriak sangat histeris membuat Dr Rendra terheran heran,
"tidak... tidak... jangan ganggu aku!" jeritku ketika Dr Rendra berusaha menyentuhku.
"tenang lah Dara.. aku Rendra dan aku tak akan menyakitimu" katanya dengan raut wajah khawatir.
"tidak....tidak" aku semakin ketakutan dan terus menjerit dengan tatapan kosong.
"Daraa...!!!" teriak Dr Rendra membuatku terdiam.
Aku beringsut dan memeluk kedua kakiku sendiri sambil meracau tak jelas.
"maafkan aku Dara.. apa yang terjadi padamu" ucap Dr Rendra mengelus rambutku dengan lembut.
Dr Rendra menekan tombol merah untuk memanggil dokter,
"sebenarnya apa yang terjadi padanya dok?" tanya Dr Rendra ketika dokter datang.
"sepertinya dia baru saja mengalami kejadian yang membuatnya syok dan tertekan"
"lalu saya harus bagaimana dok?" tanya Dr Rendra, walau dia seorang dokter, dia tetap harus bertanya pada dokter yang lebih paham tentang masalah ini.
"sebaiknya biarkan dia tenang dulu.. tetap di sampingnya agar dia tak merasa sendirian" saran sang dokter.
"baiklah terimakasih" jawabnya dan dokterpun keluar dari ruangan itu.
ππππππ
__ADS_1
"Dara...." panggil Dr Rendra.
Tanpa di sangka, Dara langsung memeluk Dr Rendra dengan sangat erat,
"jangan tinggalkan aku, aku takut" racau Dara.
"iyaa... aku akan selalu disisimu" jawab Dr Rendra berusaha menenangkan.
"aku sangat takut..." ucap Dara lagi.
"aku tahu... istirahatlah.. aku akan menjagamu" jawab Dr Rendra.
Dara mulai tertidur, tangannya tak mau lepas dari genggaman tangan Dr Rendra.
Dr Rendra menghubungi Beno agar mereka tak bingung dengan keberadaan Dara.
"Ben... Dara masuk rumah sakit" ucapnya menelpon Beno.
"apa?? kenapa Dara sampai masuk rumah sakit?" suara Beno terdengar sangat kaget.
"nanti aku jelaskan.. datanglah kemari" ucap Dr Rendra pada Beno.
Sejam kemudian Beno dan Cika sampai kerumah sakit,
"apa yang terjadi Ren?"
"semalam aku tidak sengaja melihatnya di lobby, dia berlari seperti orang ketakutan, tak sengaja dia menabrakku, setelah itu dia pingsan dan aku membawanya kemari" ucap Dr Rendra memberikan penjelasan pada Beno dan Cika.
"kita tidak bisa pulang tanpa Dara, kita menunggu dia pulih baru bisa pulang" ucap Beno.
"jangan, aku saja yang menjaganya.. aku takut dia syok ketika bangun lagi melihat orang yang berbeda" kata Dr Rendra.
"baiklah kalau begitu" ucap Cika.
Semalaman aku menjaganya tanpa tidur barang sedetikpun, aku takut sewaktu waktu ia terbangun dan histeris lagi.
"Dokter..." panggil Dara dengan begitu lirihnya.
"iya Dara... apa kau mau minum?" tanya Dr Rendra sambil meraih tangan Dara yang tak di infus.
"iya.. aku haus..." sahut Dara dengan mata sayu.
Dr Rendra mengambil segelas air dan membantu Dara duduk bersandar di kepala ranjang,
"terimakasih" ucap Dara setelah meminum sedikit.
"sama sama...apa kau merasa lebih baik sekarang"
"iya..."
"alhamdulillah..."
Dan lagi lagi Dara memeluk Dr Rendra dengan sangat erat, membuat Dr Rendra canggung.
__ADS_1
ππππππ
"apa kau yakin ingin pulang sekarang?" tanya Dr Rendra padaku.
"iya... aku takut mama khawatir" jawabku.
"apa kau baik baik saja?"tanyanya lagi.
"he em.. berkat kau" jawabku sambil tersenyum.
Dr Rendra balas tersenyum manis membuat hatiku menghangat.
"Dar.. kau yakin ingin pulang sekarang?" tanya Cika.
"iya... aku sudah merasa lebih baik" jawabku sambil tersenyum.
"baiklah kalau begitu..."
Di pesawat, Dr Rendra sangat posesif kepadaku, dia tak mengijinkan siapapun duduk di sampingku selain dirinya.
"tidurlah... nanti akan aku bangunkan jika sudah landing" ujarnya merebahkan kepalaku di bahunya.
Akupun terlelap dengan tenang, Dr Rendra benar benar tahu caranya menenangkanku.
"Dar.... bangun, pesawat akan landing" ucapnya dengan lembut.
Aku terbangun dan mengucek mataku,
"terimakasih dokter..."
"untuk apa?"
"untuk segalanya..." jawabku.
Dr Rendra mengantarku sampai kerumah dengan selamat,
"sayang.. kamu baik baik aja nak?" tanya mama khawatir.
"baik maa...maaf ga sesuai rencana pulangnya.." ucapku sambil memeluk mama.
"gapapa... yang penting kau sudah pulang dengan selamat" jawab Mama.
"kalo gitu, saya permisi dulu tante..." pamit Dr Rendra.
"oh iya... hati hati dijalan ya nak dan terimakasih sudah mengantar Dara pulang"
"sama sama tante..." sahut Dr Rendra.
"hati hati dokter" kataku menambahkan.
"iya... nanti ku telepon setelah sampai rumah" jawabnya.
"oke...." jawabku.
__ADS_1
ππππππ