
Dua bulan setelah kejadian tersebut, sikap Pandu mulai berubah, sikapnya jadi dingin dan cuek padaku, awalnya aku mencoba untuk mengerti kalau dia sangat kecewa karena ulahku.
Padahal saat di rumah sakit, Pandu bersikap manis, dan akan membantuku sembuh dari rasa traumaku dan berjanji untuk saling terbuka, tapi kenapa sekarang malah seperti ini? batinku terus saja meronta tapi tidak tahu harus berbuat apa.
Namun lama lama aku tidak tahan juga dengan sikapnya, dia sudah jarang memberiku nafkah batin dengan berbagai macam alasan, aku hanya bisa diam karena alasannya masih masuk akal.
Tapi kalau masalah perhatiannya yang mulai berkurang, aku bisa buka suara walau ujung ujungnya akan jadi pertengkaran, yang akhirnya akan saling berdiam tanpa saling menyapa selama beberapa hari lamanya, itu pun aku yang harus menyapanya duluan.
Miris sekali rasanya, dikala aku berpikir berumah tangga akan lebih bahagia, ternyata malah seperti ini kenyataannya.
Pandu juga tidak pernah menyinggung soal kehamilan lagi padaku, meskipun aku sangat ingin sharing dengannya tentang trauma yang aku derita karena masa lalu, itu pun karena ulahnya.
Aku merasa terabaikan, terlebih dengan banyaknya jadwal syuting yang di terima Pandu, seolah mendukungnya untuk menjauh dariku.
Jika sudah begini, aku hanya bisa menangis sendirian, untuk berbagi dengan orang lain rasanya enggan, karena masalah rumah tangga menurutku adalah aib yang harus di jaga.
Jadwal yang padat membuatku dan Pandu jarang bertemu meskipun kami tinggal bersama,aku mulai merasa sendiri dan kesepian, dia berangkat di pagi buta saat aku tengah terlelap setelah kelelahan menantinya semalaman tak kunjung datang, dan malamnya pun begitu, dia datang di saat aku mulai kelelahan dan tertidur.
"malam ini aku harus kuat, jangan sampai tertidur, aku harus bicara padanya!" gumam ku seorang diri.
Aku yang tak suka minum kopi, terpaksa minum kopi agar mataku tidak ngantuk, jangan sampai aku ketiduran lagi, ini kesempatanku untuk berbicara dengannya.
Tap.. tap..
Ketika sedang menyeruput kopi di cangkir kedua ku, suara derap langkah Pandu mendekati pintu kamar, aku segera bangkit dan hendak menyambutnya.
Aku memasang wajah manis untuk menyambutnya, namun apa? aku mendapatinya pulang dalam keadaan mabuk di lihat dari cara berjalannya yang sempoyongan.
__ADS_1
"minggir!" ucapnya sambil mendorongku.
"kamu mabuk?" tanyaku lalu membantunya masuk ke kamar.
"bukan urusan kamu!!!" sahutnya dengan galak, bahkan dia menepis tanganku dengan kasar.
"kenapa kamu jadi seperti ini?" tanyaku.
"semua karena kamu!" jawab Pandu sambil menunjuk wajahku dengan tangan kirinya.
Sakit sekali rasanya, Pandu yang biasa perhatian dan bersikap manis, sekarang berubah kasar dan tidak peduli lagi padaku.
"kita harus bicara Pan!" ucapku ketika dia sudah menjatuhkan tubuhnya di ranjang.
"aku lelah!" sahutnya dengan mata terpejam.
Aku membuka sepatu dan kaos kaki yang tak sempat dibukanya, melonggarkan ikat pinggang dan membuka kancing bajunya agar dia lebih nyaman.
Pandu tidak bergeming, dia membiarkan aku melakukan semua itu, padahal aku tahu dia belum benar benar terlelap.
Aku merebahkan diriku di samping tubuhnya, wajahku sengaja aku hadapkan padanya, aku memandanginya yang mulai mendengkur teratur,
"seperti apa lukamu akibat ulahku? kenapa kau berubah seperti ini?" ucapku sambil membelai wajahnya, aku mulai menangis sesenggukan.
"apa kau masih marah dan belum memaafkan aku?" gumam ku lagi.
"bahkan kau tidak sekalipun bertanya, apa aku sudah sembuh dari traumaku atau belum!" lanjut
ku.
__ADS_1
"aku benar benar lelah...bertahan cukup membuatku goyah!" kataku lagi sambil terisak.
Aku kelelahan menangis hingga akhirnya ikut terlelap bersama Pandu.
Pandu Pov.
Malam ini aku hanya minum sedikit, tidak seperti malam malam yang lalu, aku masih sadar dan belum dalam kategori mabuk, ketika aku pulang, lampu kamar masih menyala, aku yakin Dara pasti menungguku sama seperti hari hari sebelumnya.
Aku tahu tujuannya menungguku datang, tapi aku masih enggan berbicara dengannya, entah kenapa hatiku masih sakit jika mengingat ulahnya dua bulan yang lalu.
Meskipun aku selalu mengabaikannya, dia tidak pernah lalai dalam tugasnya sebagai seorang istri, aku hampir tidak menemukan celah kesalahannya.
Saat aku masuk kamar, dia berusaha berbicara padaku, aku juga lihat dia mulai menangis, aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang agar tidak melihat air matanya, air mata itu lah yang selalu membuatku lemah di hadapannya.
Aku pura pura terlelap agar dia tidak menggangguku lagi, dia merebahkan dirinya di samping tubuhku.
Dia mulai mencurahkan isi hatinya sambil meraba wajahku dengan lembut, membuat birahiku meningkat, namun aku tahan, aku ingin memberinya pelajaran dengan tidak memberinya nafkah batin.
Dia sering protes, namun lagi lagi aku mengabaikannya, dia jarang protes lagi setelah tahu ujung ujungnya kami akan bertengkar dan tidak saling sapa.
Dia mulai menangis sesenggukan membuat hatiku sakit mendengarnya, jadi aku putuskan untuk benar benar terlelap, aku benar benar kalah oleh air mata tersebut.
Ketika dia mulai terlelap, aku membuka mata dan menatap wajahnya yang sembab akibat terlalu lama menangis,
"maafkan aku..." gumam ku.
End Pov
🚹🚹🚹🚹🚹🚹🚹
__ADS_1