
Benar saja, Dr Rendra memang orang yang disiplin terhadap waktu, dia sudah sampai ketika aku berjalan menuju lobby.
"udah lama ya nunggunya dok?"
"enggak kok.. aku juga baru dateng" jawabnya.
"kita mau kemana nih?" tanyaku mengusir kecanggungan diantara kami, aku canggung harus jalan berdua saja dengannya.
"malioboro?" katanya menawariku.
"okee..." sahutku setuju.
Kami ke malioboro dengan menggunakan andong selain penasaran dengan andong, aku juga ingin menikmati kota jogja yang asri.
"kamu pertama kali ke jogja?" tanya Dr Rendra.
"iya..." sahutku sambil melihat jalanan kota jogja yang cukup ramai.
"owh pantesan antusias sekali.." ucapnya lagi.
Angin sepoi sepoi menyapa kami, membuat rambutku beterbangan, sejuk sekali rasanya,
"emangnya dokter sudah pernah ke jogja sebelumnya?"
"pernah beberapa kali..."
"ouh pantesan.. terlihat biasa saja" sahutku menimpalinya.
Dr Rendra terkekeh karena aku membalas ucapannya tadi.
"oya dokter, kok ga jalan jalan ama pacarnya yang model itu sih?" tanyaku teringat calon kekasih Dr Rendra.
" lhah ini juga lagi ngajak dia jalan..." sahutnya.
"lhoh.. jadi kita jalan jalannya bertiga nih?" tanyaku sedikit kecewa.
"iya..." sahut Dr Rendra sambil tersenyum.
"mana orangnya dok?" tanyaku sambil celingukan mencari sosok yang dimaksud olehnya.
"nih di depan aku..." sahutnya frontal.
"di depan dokter???" aku nampak berpikir, yang di depannya sekarang kan aku, jadi? pikiranku melayang layang.
"ish..dokter mah becandanya kelewatan!" lanjutku.
"ga becanda kok.. serius!" kata Dr Rendra sambil menunjukkan dua jari, suer nya.
"ja... jadi maksud dokter?" kataku tergagap, gugup grogi canggung semua ada deh rasanya.
"jadi apa Dara?" tanya Dr Rendra.
"ga jadi deh..." jawabku cepat sambil menggeleng gelengkan kepala, mengusir kecanggungan, ke grogian bahkan kegugupan yang hampir saja menguasai jiwa dan ragaku.
"kok ga jadi sih?padahal aku pengennya jadi" kata Dr Rendra dengan wajah sedikit kecewa.
"jadi apaan dok?" pertanyaanku yang terdengar bodoh.
__ADS_1
"jadi pacar kamu..." ucapnya.
"hahhhhhh??? apaaaa dok?" kataku terkejut.
"jadi pacarnya Dara... Rendra suka sama Dara" ucap Dr Rendra dengan lantang dan penuh penekanan,membuat kusir andong senyum senyum sendiri.
Aku tersipu dan wajahku seketika merona mendengar pengakuan Dr Rendra yang tiba tiba saja menurutku. aku pun menunduk tanpa bisa menjawab.
"Udah sampe mas, mbak.." ucapan pak kusir membuat kami tersadar dari kecanggungan kami.
"oh iya...makasih ya pakdhe" kata Dr Rendra sambil menyerahkan ongkos kepada pak kusir tadi.
Dr Rendra mengajakku duduk dibangku jalan yang kosong,
"yang tadi itu serius Dar..ga dijawab sekarang gapapa tapi tolong dipikirin ya" ucap Dr Rendra.
"i...iya..." cicitku nyaris tak terdengar.
Selanjutnya kami jalan jalan, makan dan membeli beberapa barang untuk dijadikan oleh oleh.
"udah selesai?" tanya Dr Rendra padaku.
Aku mengangguk mengiyakan,
"ya udah, yuk balik ke hotel...besok kamu kan masih ada pemotretan lagi" ajaknya.
Dan lagi lagi aku hanya mengangguk mengiyakan.
🥑🥑🥑🥑🥑🥑
"Dar... bangun, cepetan mandi, karena jadwal pemotretannya dimajukan" ucap Cika.
"perkiraan cuacanya, sore bakalan hujan sedang pemotretan kamu diluar ruangan" kata Cika menjelaskan.
"ouh gitu... ya udah aku mandi dulu ya" sahutku sambil menguap lebaaar sekali.. ah..nyamannya, batinku.
Sampai di lokasi pemotretan ternyata disana ada agensi lain yang juga sedang melakukan pemotretan, agar tak saling mengganggu, kami memilih untuk membiarkan mereka menyelesaikannya duluan.
"sumpah ya... beneran kali ya kalo kita ini jodoh" kata sebuah suara dibelakangku, dapat aku pastikan kalo itu suara Pandu.
"ck...." aku berdecak kesal, lagi lagi harus bertemu dengannya, memang aku masih mencintainya tapi saat ini aku sedang berusaha untuk melupakannya.
"beb...." panggil Pandu.
Aku tak bergeming,
"beb...." panggilnya sekali lagi, benar benar membuatku kehilangan kesabaranku.
"apa maunya Pandu?" tanyaku sarkas.
"mauku? ya kamu...!"
"aku? bukannya kau sudah memiliki pacar baru? bahkan tempo hari mereka bertengkar memperebutkanmu!" sindirku.
"mereka? Lala dan Laura maksudmu?"
"ya siapa lagi.. hanya mereka yang selalu bergelayut manja padamu!"
__ADS_1
"rupanya diam diam kau masih memperhatikan aku beb..." ucapnya senang.
"cih... orang buta sekalipun akan tahu!" sahutku makin kesal.
"mereka bukan siapa siapa!"
"bisa bisanya kau mengatakan mereka bukan siapa siapa, setelah kau tidur dengan mereka hah!!!?" cibirku menohoknya terlihat wajahnya berubah menjadi pias seketika.
Pandu merasa tertohok dengan ucapan Dara yang kenyataannya adalah benar, walau Pandu tahu dia melakukannya karena sakit hati pada Dara.
Pandu tak bisa menjawab, dia bungkam seribu bahasa membuatku tenang kembali.
Usai pemotretan aku ingin segera ke kamar dan istirahat, raga dan batinku benar benar lelah hari ini, betapa tidaak, bertemu dengan Pandu sama saja dengan menguras batin dan perasaanku.
Aku berjalan dengan tergesa menuju kamarku,sampai sebuah tangan menarikku dengan paksa, dia terus saja menyeretku sampai kami tiba di sebuah kamar hotel yang sama dimana aku menginap.
Pandu... ya.. Pandu membawaku ke kamarnya dengan paksa bahkan tanganku kini memerah karena cekalan tangannya yang begitu kuat.
"lepaskan aku Pandu..." kataku meronta.
"tidak akan Dara..." sahutnya setengah membentak membuat nyaliku menciut.
"apa maumu?" tanyaku sambil meringis, bahkan airmataku telah keluar tanpa aku sadari.
"aku mau kamu!" sahutnya lalu mendorongku masuk dengan kasar sementara dia mengunci pintu dan meletakkan kuncinya di sembarang tempat.
"jangan macam macam padaku Pandu!" kataku mundur karena ketakutan.
"kenapa kau takut padaku Dar? aku tak akan menyakitimu, percayalah" ucapnya lalu memdekatiku perlahan.
Aku terus saja melangkah mundur sambil menangis histeris,hingga kakiku menabrak ranjang dan akhirnya aku jatuh terlentang diranjang.
Pandu yang melihatku, tak menyia nyiakan kesempatan, dia menindih dan menciumku dengan kasar,
"mmmhppphhh..lep....hmmpph..paskan..." kataku berusaha memberontak.
Pandu terus saja menciumiku tanpa memperdulikan airmataku yang sudah membanjiri wajahku, dia terus saja ******* bibirku hingga kami sama sama kehabisan nafas.
Pandu melepas pagutannya dan terengah engah disampingku sedang aku berusaha bangkit dan menghapus bibirku yang basah dan bengkak akibat ulahnya.
"brengsek kau Pandu!!!" makiku.
Pandu hanya menatapku tanpa aku tahu apa arti tatapannya itu,
"brengsekkkkkk.... teganya kau padaku, setelah apa yang kau lakukan padaku, kau masih menyakitiku seperti ini hah?" teriakku histeris.
Pandu tetap tak bergeming dari posisinya, dia hanya mendengarkanku tanpa menyela,
"apa sebenarnya maumu? setelah kau hancurkan hatiku, sekarang kau malah menyakitiku lagi!!!"
"aku juga sakit Dar.. setelah kau memutuskan aku!!! aku masih mencintaimu!" akhirnya Pandu buka suara juga.
Pandu bangkit dan langsung menyambar bibirku kembali, bahkan Pandu menggigitnya dengan kasar membuatku terpaksa membuka mulut, Pandu dengan bebasnya menjelajahi rongga mulutku bahkan tangannya memelukku dengan posesifnya.
"sampai kapanpun.. aku tak akan melepaskanmu Dara!" ucapnya setelah melepas pagutannya, lalu mencium keningku lama.
"kau gila Pandu..." ucapku.
__ADS_1
"ya... aku memang gila karenamu!!!" sahutnya lalu menangis, tangisannya terdengar pilu membuat hatiku bagaikan tersayat sembilu.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄