Seorang Bintang

Seorang Bintang
Tujuhpuluhdua


__ADS_3

"ngakunya orang kaya, tapi ngelamar pake tangan kosong!" gerutu ku sambil cemberut pada Deva.


"hahaha.. aku tadinya tidak berniat melamar mu seperti ini! aku hanya menggunakan kesempatan yang bagus ini!" sahutnya sambil tertawa.


"seharusnya aku tidak langsung menjawab mu tadi!" seruku kesal.


"ck.. kau menyesal?"


"menyesal sih tidak tapi rasanya kurang sah aja lamaran tanpa cincin!"


"kalau begini, sudah sah belum?" kata Deva lalu memakaikan cincin di jari manis ku secara tiba tiba.


Membuatku membelalakkan mata menatap cincin berlian yang telah melingkar cantik di jari manis ku.



"ini....!" kataku tercekat.


"iya, ini cincin khusus untukmu!" sahutnya lalu tersenyum.


"ba..bagaimana kau bisa tahu ukuran jari ku?" tanyaku tak percaya karena cincin terasa pas sekali di jariku.


"sekali saja memegang tanganmu, aku sudah bisa memperkirakan ukuran jarimu!" jawabnya.


"em benarkah?"


"tentu saja! kau tak percaya?"


"kapan kau memesannya?"


"sudah lama dan aku menyimpannya!"


"selama itu?"


"iya..."


Aku benar benar terbawa suasana sehingga rasa haru menguak dari dalam hatiku dan membuat mata panas serta mengeluarkan air mata yang begitu hangat membasahi pipi.


"kenapa kau menangis? kau tak suka?" tanya Deva yang merasa heran.


"karena aku terlalu suka yang membuatku menangis! aku baper!" sahutku semakin sesenggukan.


Deva lalu merengkuhku kembali dalam hangat pelukannya dan aku pun membalasnya.


❌❌❌❌❌❌❌


Seminggu setelah itu, Deva datang ke rumahku bersama dengan Rendra dan Mamahnya, untuk melamar ku secara resmi pada Mamah.

__ADS_1


Acaranya sengaja dibuat sederhana mengingat statusku yang sudah pernah menikah, rasanya tidak etis jika harus lamaran heboh seperti dulu.


Dan Deva pun menyetujuinya tanpa protes, menurutnya tidak penting kemewahan, yang utama adalah kesakralan acara itu sendiri.


Sudah resmi hubunganku dengan Deva, statusku setingkat lebih maju, bertunangan, tinggal selangkah lagi menuju pernikahan, semoga Deva memang jodoh terakhir dalam hidupku, aamiin.


Keesokan harinya aku harus cuti lagi dari kantor karena ada pemotretan, sampai di kantor agensi milik mas Beno, di gerbang aku berpapasan dengan Lidya.


Rasanya canggung bertemu dengan Lidya kembali, setelah apa yang terjadi pada kami bertiga, terlebih sekarang Deva telah resmi bertunangan denganku, pasti Lidya sudah mendengar kabar beritanya.


"Hai Dara..." sapa nya dengan ramah, membuatku semakin tak nyaman.


"oh hai... Lidya! apa kabar?" sahutku dengan terpaksa.


"selamat ya.. aku dengar kau baru saja bertunangan dengan Deva!" ucapnya sambil tersenyum tulus membuatku serasa berada di ambang antara percaya dan tak percaya akan senyumnya tersebut.


"eh.. iya.. terimakasih! em.. apa kau tak apa?" tanyaku dengan hati hati.


"maksudmu?" tanyanya tidak mengerti.


"maksudku... tentang hubunganku dengan Deva!"


"aku?? aku tidak apa, aku malah senang Deva dapat menemukan kebahagiaannya kembali, bagiku dengan siapapun Deva bersanding tak jadi masalah, yang penting dia bisa bahagia, itu sudah lebih dari cukup bagiku!"


Wow.. jawabannya sangat mengena di hati, benarkah dia bisa merelakan Deva begitu saja? entahlah....


"terima kasih Lid, aku sungguh merasa tak nyaman padamu!"


"ii..iiya...!"


"aku senang karena kau orang, jika orang lain mungkin aku ajan merebutnya kembali!"


"kenapa begitu?"


"aku sudah lama mencari mu, karena Deva sudah menyukaimu sebelum kenal denganku!"


"darimana kau tahu?"


"dari sinar matanya! dia memang menjalani hubungan denganku tapi hatinya masih terpaut pada wanita lain!"


"kenapa kau tetap mau menjalani hubungan itu?"


"karena aku kira, dengan seiring berjalannya waktu Deva bisa mencintaiku dan melupakanmu!"


"tapi kenapa bisa bertahan selama itu?" tanyaku heran dan penasaran.


"meskipun lama, kami jarang sekali bertemu! Deva ataupun aku tidak bisa mengucap kata perpisahan!"

__ADS_1


"oh..!"


"baru tempo hari, Deva bisa berkata jujur, jika dia ingin kembali padamu!"


*Pantas saja, meski mengetahui Lidya ada di kota ini, Deva tidak bersemangat untuk menemuinya bahkan Lidya yang mencari cari kesempatan untuk bisa menemui Deva di tengah jadwalnya yang padat.


"ah.. setidaknya aku bisa lega karena aku tidak merebutnya dari Lidya!" gumam ku dalam hati*.


Aku hanya bisa tersenyum hambar pada Lidya bagaimana pun juga wanita di hadapanku sekarang, pernah punya andil besar dalam hidup Deva.


"semoga kalian bahagia!" ujarnya mendoakan.


"aamiin...!" sahutku.


☪☪☪☪☪☪☪☪


"bagaimana jika pernikahannya kita adakan bulan depan?" ucap Deva memberi ide padaku.


"bulan depan? apa tidak terlalu cepat?"


"aku bahkan berpikir itu sangat lama dan berharap minggu ini juga bisa menikahi mu!"


"ish!! kau ini!"


"aku bersungguh sungguh sayang! usiaku sudah tidak muda lagi!"


"iya aku tahu! tapi jika orang lain melihat wajahmu mereka tidak akan pernah bisa mengira berapa usiamu!"


"kenapa begitu?"


"wajahmu awet! bahkan kau dan aku terlihat seumuran!"


"bagus dong.. jadi aku tidak terlihat seperti seorang pedofil ketika bersamamu!" sahutnya sambil tertawa.


"ish!" desis ku tak suka.


"tubuhmu yang kecil, membuatku terlihat seperti om om yang memacari bocah!!!" sahutnya lagi.


Kini giliran aku yang tertawa karena merasa lucu dengan ucapan Deva.


Tiba tiba Deva menarik tubuhku hingga tubuhku menempel padanya dan cekrek... dia memotret diri kami tanpa menungguku fokus! menyebalkan sekali.


"lihatlah, betapa kecilnya dirimu! bukan kah aku terlihat seperti om om genit?" kata Deva sambil menunjukkan hasil jepretannya barusan padaku.



Aku pun kembali tertawa renyah, lalu memeluk tubuhnya dari samping, menghirup aroma tubuhnya yang sangat menyegarkan bagiku.

__ADS_1


Deva pun membalas pelukan ku dengan hangat, merasakan debaran jantung masing masing yang berpacu tak beraturan, Deva menangkup wajahku dan mendaratkan ciuman manis di bibirku.


➕➕➕➕➕➕➕


__ADS_2